Menjadi mahasiswa Universitas Terbuka (UT) bagi sebagian orang bukan pilihan ideal, tapi pilihan paling masuk akal. Pulang kerja, memaksa diri membaca beberapa lembar modul, nyicil tugas tutorial online, lalu menyiapkan diri menghadapi UAS. Semua itu dilakukan di sela-sela hidup yang sudah lebih dulu penuh.
Saya merasakan itu sebagai mahasiswa UT. Di kampus ini, saya seperti melihat banyak orang yang sedang belajar bertahan. Bukan untuk dipuji, tapi agar hidup tetap berjalan.
Mengambil peran ganda sebagai mahasiswa, pekerja, sekaligus pengurus keluarga bukan perkara ringan. Tapi di UT, cerita-cerita seperti itu hadir nyaris setiap hari, meski jarang dibicarakan dengan suara keras.
Berdamai dengan standar kesuksesan
Kita sering diajari bahwa sukses berarti lulus cepat, dapat kerja mapan, dan hidup stabil di usia muda. Nyatanya, tidak semua orang punya privilese untuk mengikuti alur itu. Lulus sekolah menengah langsung berkuliah dan mendapatkan kerja yang enak juga mimpi bagi mereka yang terbelit akses dan kondisi ekonomi.
Di UT, saya menemukan beragam kesuksesan. Ada mahasiswa yang kuliah sambil kerja tapi akhirnya berhasil lulus meski IPK pas-pasan. Ada juga mahasiswa yang sudah diterima di top PTN tapi memilih kuliah di UT karena mempertimbangkan kondisi orang tua yang renta dengan biaya kuliah serta biaya hidup di luar kota. Bahkan, tak sedikit yang kuliah double degree untuk menghadapi dunia kerja yang tidak penuh ketidakpastian.
Kalau pakai standar sukses versi media sosial, mungkin orang-orang ini tidak masuk kategori “menang cepat”. Tetapi kalau melihat dari sudut bertahan dan terus bergerak, orang-orang inilah yang justru sedang meniti jalan sukses.
Universitas Terbuka (UT), dalam hal ini, bukan sekadar kampus daring. Ia menjadi ruang kompromi antara mimpi dan kenyataan, antara ingin maju dan kewajiban untuk tetap berpijak di kondisi keluarga.
Alon-alon waton kelakon
Ada pepatah Jawa yang mengatakan “alon-alon waton kelakon” yang berarti “pelan-pelan asal terlaksana”. Saya jadi ingat momen ujian online UT di SMAN 7 Tangerang pada 21 Desember 2025 lalu.
Di sela waktu jeda ujian online, saat isoma, saya berbaring memejamkan mata sembari menunggu sesi ujian selanjutnya di kursi panjang depan lab komputer. Di sana ada seorang mahasiswi yang beristirahat di depan ruang ujian dengan jajanan telur gulung dan es teh. Dia makan sambil menelepon adiknya.
“Sebentar ya, nanti Mbak transfer. Gaji Mbak kan 1,8 juta, kamu butuh 900 ya? Mbak transfer 700 ribu dulu ya, Dek, soalnya gaji bulan ini belum cair.”
Mendengarnya, saya takjub. Gaji 1,8 juta di Tangerang itu terbilang kecil, jauh dari UMR. Tapi dia tetap membagi penghasilannya untuk keluarga. Dia tetap bertahan dengan kuliah sambil bekerja dan menghadapi ujian.
Saya tidak mengenalnya dan mungkin tidak akan pernah bertemu lagi. Tetapi potongan percakapan singkat itu cukup membuka mata saya. Kalau di balik layar kuliah daring, ada perjuangan yang tidak pernah masuk konten motivasi.
Di momen itu saya paham, pepatah “alon-alon waton kelakon” bukan sekadar kalimat bijak. Bagi sebagian mahasiswa UT, itu cara hidup.
UT sebagai kesempatan dengan minim perayaan
Sering kali Universitas Terbuka (UT) dipersepsikan sebagai opsi cadangan. Padahal bagi banyak orang, UT justru menjadi kesempatan kedua untuk bangkit.
Ada yang kuliah demi switch career. Ada yang ingin menebus mimpi yang tertunda. Dan ada pula yang mengejar gelar agar bisa naik jabatan, atau sekadar bertahan di pekerjaan yang semakin kompetitif.
UT tidak menjanjikan jalan pintas. Kampus ini memberi ruang bernapas bagi mereka yang harus berjalan pelan karena membawa banyak beban sekaligus. Dan di situlah letak maknanya: bukan tentang seberapa cepat sampai, tapi seberapa konsisten tetap melangkah walaupun minim apresiasi dalam proses yang sunyi.
Penulis: Faris Firdaus Alkautsar
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Universitas Terbuka (UT): Kampus yang Nggak Ribet, tapi Berani Tampil Beda.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
