Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Urban Farming: Budaya Kuno yang Kini Dibutuhkan Masyarakat Pedesaan

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
1 Februari 2021
A A
Urban Farming Budaya Kuno yang Kini Dibutuhkan Masyarakat Pedesaan Terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Jargon “Kates kok tuku!” sangat lekat dengan orang yang tinggal di desa. Tapi itu dulu, sekarang hampir semua orang jika ingin kates atau gandul alias pepaya, harus membelinya ke tukang sayur atau lapak buah. Perubahan besar terus terjadi, pelan namun pasti.

Di tengah maraknya urban farming, masyarakat kita sebenarnya sudah punya budaya semacam itu sejak dahulu. Berkebun dan beternak adalah hal lumrah yang dulu dilakukan orang desa. Jauh sebelum orang-orang kota melakukan urban farming, dan jauh sebelum tukang sayur keliling mendominasi, masyarakat kita terbiasa menanam sendiri bahan makanannya.

Beberapa hasil pertanian bahkan bisa menjadi haram jika dibeli oleh orang desa. Sebutlah kimpul atau talas, singkong, daun singkong, daun pepaya, daun pisang, bayam, dan masih banyak lagi. Dulu, jika ada tetangga yang membeli pepaya dan daun singkong, ia jadi bahan gunjingan. Orang zaman sekarang mungkin bingung, hal remeh-temeh kayak gitu saja kok bisa jadi bahan gunjingan.

Tinggal di desa, Anda tak perlu membeli itu semua. Seharusnya, orang desa punya pohon pepaya atau singkong di belakang rumah. Jika pepaya dan daun singkong masih terlalu muda, tinggal minta tetangga. Di situlah letak rukun tetangga yang sebenarnya, bukan sekadar sarasehan sebulan sekali. Tapi sekali lagi, itu dulu.

Kini, depan, samping, dan belakang rumah orang desa sudah penuh dengan bangunan baru. Pagar tinggi dan rumah model orang kompleks sudah mendominasi. Pohon buah semacam jambu dan rambutan sudah jarang ditemui. Padahal, dahulu kedua pohon itu selalu ada dan banyak jumlahnya. Jika dulu tanah dibiarkan terbentang, kini semua tertutup semen. Tumbuhan yang biasa ditancapkan langsung ke tanah, kini harus tinggal dalam pot. Di desa saya saja pepaya harus beli, bambu harus beli, daun pisang juga harus beli. Padahal zaman saya kecil, tinggal ambil di belakang rumah.

Belum lagi soal memelihara ayam dan ikan, terutama ikan lele. Pada masa lampau, jika mau makan ayam ya harus memelihara dulu. Begitu juga telur dan ikan, ya harus beternak dulu. Saat saya kecil, sekitar tahun 2000-an awal, yang namanya ayam ada di mana-mana. Sekarang, hanya sedikit orang yang masih rajin memelihara ayam. Zaman sekarang, rumah-rumah sudah berkeramik dan bagus, tentu tak ingin tercemar kotoran ayam. Padahal, memelihara ayam tak sekadar untuk persediaan makanan, bisa juga untuk tabungan dan pelepas penat.

Kolam lele di belakang rumah juga sudah tak ada lagi. Mungkin orang sekarang sudah terlalu sibuk dan lelah bekerja. Jika dahulu kebanyakan orang bekerja sebagai petani, kini kebanyakan merantau dan kerja kantoran. Waktu di rumah sudah tak banyak, kalau masih harus ditambah mengurus ini dan itu mungkin lelah juga. Belum lagi lahan rumah yang makin sempit, keadaan sekarang memang tak memungkinkan untuk berkebun dan beternak seperti dahulu. Yang nampak kini tanaman hias yang terpajang dalam pot di depan beranda. Bukan tak baik, menanam apa pun itu baik. Namun, yang saya soroti adalah perubahan perilaku berkebunnya. Begitu juga beternak, kini tak ada ayam apalagi bebek, kebanyakan memelihara burung kicau. Burung kicau tak perlu lahan yang luas, meski lebih rempong perawatannya dibanding ayam. Begitu juga lele, kini orang lebih pilih cupang yang ringkas dan indah dipandang mata.

Di tengah perubahan yang serba cepat dan instan, berkebun dan beternak kini dianggap kurang relevan lagi. Padahal, sayang saja, budaya tingkat tinggi dan mulia ini harus hilang di kehidupan desa. Memang berkebun dan beternak semacam itu tak bisa memenuhi semua kebutuhan pangan harian. Namun, sebagai pelengkap bumbu dan gizi, tentu sangat bisa. Belum lagi manfaat dari baiknya berkebun, badan makin sehat dan bisa berbagi dengan tetangga.

Baca Juga:

Derita Punya Tetangga yang Pelihara Ayam: Bau Tidak Sedap Jadi Musuh Sehari-hari, Sudah Diingatkan Malah Ngeyel

Urban Farming untuk Mengatasi Masalah Ketahanan Pangan, Realitas atau Ilusi?

Ironisnya banyak masyarakat kota berusaha untuk berkebun dan beternak, sementara orang yang tinggal di desa mulai meninggalkan berkebun dan beternak. Urban farming yang katanya budaya kekinian, rupanya tak ubahnya seperti tengah meng-cover tembang kuno di YouTube.

Urban farming pada dasarnya budaya kuno, jadul, ada sejak lama, dan kini benar-benar dibutuhkan oleh orang desa. Orang desa yang pada mulanya menginspirasi budaya urban farming, ternyata kini sudah meninggalkan budaya semacam itu, bahkan justru berubah drastis dan semakin menyerupai kehidupan urban. Kates kok tuku!

BACA JUGA Urban Farming Itu Tidak Hanya Siram Lalu Nunggu Panen seperti di Shopee dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2022 oleh

Tags: urban farming
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

urban farming, Memang Betul, Berkebun di Masa Pandemi Itu Ternyata Mengasyikkan sayuran

Rekomendasi Jenis Sayuran yang Bisa Ditanam Pemula

22 April 2020
Derita Punya Tetangga yang Pelihara Ayam: Bau Tidak Sedap Jadi Musuh Sehari-hari, Sudah Diingatkan Malah Ngeyel Mojok.co

Derita Punya Tetangga yang Pelihara Ayam: Bau Tidak Sedap Jadi Musuh Sehari-hari, Sudah Diingatkan Malah Ngeyel

7 September 2025
ketahanan pangan

Menciptakan Ketahanan Pangan dari Rumah Ke Rumah

20 April 2020
urban farming bercocok tanam kota rumah kaca mojok (1)

Urban Farming untuk Mengatasi Masalah Ketahanan Pangan, Realitas atau Ilusi?

27 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Pantai Padang Adalah Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar Mojok.co

Pantai Padang Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar

8 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Surat Terbuka untuk KAI: War Tiket Lebaran Bikin Stres, Memainkan Perasaan Perantau yang Dikoyak-koyak Rindu!

7 Februari 2026
Piyungan Isinya CEO Pakai Sandal Jepit Bawa Karung Rongsokan (Unsplash)

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

7 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”
  • “Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia
  • Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran
  • Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana
  • Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.