Sebagai orang dewasa yang lelah dengan segala hal, saya sering sampai di titik di mana hidup terasa seperti lelucon yang kurang lucu. Di titik itulah, biasanya saya akan pulang, membungkus nasi atau bikin mie instan, lalu membuka YouTube untuk mencari satu-satunya serial yang tidak akan pernah menanyakan “kenapa hidupmu berantakan”, yakni Upin Ipin.
Awalnya, saya merasa ini aneh. Sebagai seseorang yang seharusnya memikirkan hal-hal yang serius, menonton kartun anak-anak Malaysia saat makan siang terasa seperti kemunduran intelektual. Namun, setelah melakukannya berulang kali, saya sadar inilah puncak kedewasaan yang sebenarnya.
BACA JUGA: 5 Karakter “Upin Ipin” yang Terkenal Green Flag, tapi Aslinya Red Flag Banget
Berkat Upin Ipin, ritual makan jadi lebih asyik
Saat kita kecil, kita menonton Upin Ipin karena memang tidak ada tontonan lain. Kita tertawa karena melihat Mail jualan ayam goreng atau melihat Fizi yang sering ceplas-ceplos.
Namun, saat dewasa, motifnya berubah. Kita menonton mereka bukan lagi untuk mencari tahu siapa yang memenangkan permainan layang-layang, tapi untuk mencari “ruang hampa”.
Dunia orang dewasa itu berisik sekali. Notifikasi grup WhatsApp kantor tidak pernah berhenti, tagihan pay later selalu datang tepat waktu, skripsi yang nggak kunjung selesai dan ekspektasi keluarga soal “kapan nikah” serta kerja mapan yang selalu membayangi. Di tengah kekacauan itu, Kampung Durian Runtuh menawarkan satu hal yang tidak dimiliki dunia nyata, Kepastian.
Di Kampung Durian Runtuh, masalah terbesar hanya seputar Upin Ipin bikin kesal Kak Ros atau kehidupan di Tadika Mesra. Tidak ada inflasi, politik kantor yang toksik, dan yang paling penting, tidak ada beban untuk menjadi sukses. Makan nasi bungkus sambil melihat Upin Ipin yang sedang asyik bermain adalah bentuk self-healing paling murah dan paling efektif bagi saya.
Opah, satu-satunya figur otoritas yang tidak menyebalkan
Salah satu alasan kenapa serial Upin Ipin ini begitu nikmat ditonton sambil makan adalah karena adanya sosok Opah. Saat kita makan di rumah, mungkin kita sering mendengar ceramah orang tua atau keluhan tetangga. Tapi di layar hape kita, Opah selalu hadir dengan kelembutan yang tidak menghakimi.
Kata-kata “Ingat pesan Opah…” bagi kita orang dewasa adalah semacam mantra penenang. Kita tahu, di dunia nyata, “pesan orang tua” seringkali terdengar seperti tuntutan. Tapi di dunia Kampung Durian Runtuh, pesan Opah kepada Upin Ipin terasa seperti pelukan hangat.
Ada kenyamanan tersendiri saat melihat interaksi mereka. Kita tidak perlu ikut berpikir, tidak perlu ikut berdebat, cukup duduk diam, mengunyah nasi, dan membiarkan suara-suara latar di Kampung Durian Runtuh mengisi kesunyian rumah kita yang sering terasa terlalu sepi atau terlalu penuh dengan beban kerja.
Mengendurkan syaraf
Banyak orang bilang, “Ngapain, sih, masih nonton kartun?” Mereka tidak mengerti. Upin Ipin itu sebenarnya bukan tontonan anak-anak. Ini adalah tontonan untuk orang dewasa yang sedang lelah dengan dunia.
Kalau kita menonton drama Korea atau film thriller, otak kita tetap bekerja keras memikirkan plot twist atau emosi karakter. Tapi Upin Ipin? Tidak.
Serial ini menawarkan kenyamanan yang datar. Tidak ada plot twist yang mengejutkan, tidak ada penghianatan cinta yang menyakitkan. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Makan sambil menonton Upin Ipin membuat saraf-saraf kita yang tegang karena dikejar deadline kerjaan dan apapun itu. Rasanya seperti melepaskan sepatu yang kesempitan setelah seharian berjalan di aspal panas Sidoarjo, lega!
BACA JUGA: Kak Ros: Sosok Galak nan Manis yang Menjadi Tulang Punggung Serial Upin Ipin
Jadi, terima kasih Upin Ipin
Kepada Upin Ipin yang tidak pernah naik kelas selama belasan tahun, saya harus berterima kasih. Kalian mungkin tidak tahu, tapi di dunia nyata, kalian adalah penyelamat bagi ribuan orang dewasa yang sedang berjuang keras menjaga kewarasan.
Setiap merasa dunia ini sudah terlalu brengsek, saya akan membuka episode lama, memesan nasi bungkus, dan membiarkan diri saya kembali menjadi anak kecil selama 20 menit. Tidak ada ambisi, tidak ada beban, hanya saya, makanan, dan Upin Ipin.
Toh, menjadi dewasa memang melelahkan, dan kalau ada cara untuk membuatnya sedikit lebih ringan lewat tontonan kartun, kenapa harus mempersulit diri dengan pura-pura jadi orang dewasa yang sok serius setiap saat?
Melihat Upin Ipin ketika makan memang tidak menyelesaikan masalah yang ada, tapi setidaknya, itu membuat saya bisa melewati hari esok dengan sedikit lebih waras. Dan itu sudah lebih dari cukup. Upin Ipin adalah terapi paling manjur.
Penulis: Krisdian Tata Syamwalid
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 4 Hal yang Jarang Orang Bicarakan tentang Serial TV Upin Ipin
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
