Malang nggak cuma Universitas Brawijaya atau Universitas Negeri Malang. Di sana juga ada UIN Maliki Malang kampus yang mungkin tak dikenal banyak orang, tapi sangat membantu mahasiswanya. Bukan tanpa alasan saya sampaikan hal ini. Setidaknya ada empat alasan kenapa saya memilih kampus ini dan saya anggap lebih unggul dari kampus lain di Malang.
Seingat saya dulu ketika awal menjadi mahasiswa baru, ada dua jenis mahasiswa rantau yang bisa saya klasifikasikan. Pertama, yang datang dengan koper penuh mimpi dan tabungan yang entah cukup sampai semester berapa. Kedua, yang datang dengan koper penuh mie instan dan doa supaya uang kiriman tidak telat tiap bulan.
Nah kalau kamu kuliah di UIN Malang, kabar baiknya: hidupmu tidak harus sekeras itu. Bukan berarti nggak ada drama. Tetap ada. Tapi setidaknya, dramanya nggak ditambah dengan biaya hidup yang bikin jantung deg-degan tiap akhir bulan. Mari kita bahas pelan-pelan, agar kamu makin yakin jika ini kampus punya beragaman keunggulan
Biaya hidup masih masuk akal (dan perut tetap bahagia)
Salah satu anugerah terbesar kuliah di UIN Malang adalah, kamu masih bisa makan dengan harga manusiawi. Di sekitar kampus, warung makan murah itu bukan mitos. Kamu bisa menemukan porsi jumbo dengan nasi yang boleh nambah. Ayamnya? Bisa dimakan dua kali. Siang dimakan separuh, malam tinggal dipanaskan ulang sambil merenungi chat yang nggak dibalas.
Harga makanan di sini belum sampai tahap “kok segini doang 20 ribu?”. Masih banyak menu 10–15 ribuan yang layak disebut makan, bukan camilan. Kalau masih dianggap mahal, kamu bisa beli di kantin Ma’had yang lebih nggak ngotak murahnya. Dengan 7 ribu, kamu sudah dapat nasi sepuasnya beserta dengan lauk sederhana yang sudah mengenyangkan lambung mungilmu itu.
Buat anak rantau, ini bukan sekadar soal hemat. Ini soal bertahan hidup dengan martabat. Karena percaya atau tidak, stabilitas emosi mahasiswa sering kali ditentukan oleh dua hal: saldo ATM dan isi perut. Di UIN Malang, minimal satu dari dua itu masih bisa diusahakan.
Kos murah itu di UIN Malang nyata, bukan hanya cerita senior angkatan lama
Di beberapa kota, mencari kost murah itu seperti mencari pasangan yang green flag: ada, tapi langka. Tapi di sekitar UIN Malang, kos seperti ini masih banyak.
Tahun 2023 saja, saya masih menemukan kos seharga 450 ribu per bulan, dan itu sudah termasuk listrik, air, sampah, dapur umum, dan kamar full perabot. Memang luasnya standar. Tapi cukup untuk kasur, meja belajar, dan ruang merenung ketika skripsi belum ada progres.
Bandingkan dengan beberapa kota lain yang harga segitu cuma dapat kamar kosong saja.
Kos di sekitar UIN Malang masih punya logika. Kamu nggak perlu kerja paruh waktu cuma untuk bayar tempat tidur. Uang bulanan masih bisa dibagi untuk makan, fotokopi, dan sesekali self-reward es kopi 18 ribuan biar merasa produktif.
BACA JUGA: 3 Hal Menyebalkan di UIN Malang yang Justru Membuat Saya Kangen
Swalayan SARDO: penyelamat anak rantau yang lupa bawa baskom
Anak rantau baru biasanya punya dua tipe: yang super siap dan yang terlalu optimis. Yang super siap datang dengan rice cooker, galon, hanger 20 biji, sampai ember lipat. Yang optimis datang cuma bawa baju dan niat. Tapi tenang, tidak perlu risau dan tak perlu khawatir. Ada Swalayan SARDO.
SARDO ini semacam toserba sejuta umat. Mau beli ember? Ada. Mau beli gayung? Ada. Situ mau beli sendok, piring, sapu, rak sepatu, sampai cemilan tengah malam? Ada juga. Harganya masih bersahabat. Tidak membuat kamu menyesal lahir sebagai mahasiswa.
Jaraknya pun nggak bikin kamu mikir dua kali. Jadi kalau tiba-tiba sadar belum punya gantungan baju, kamu nggak perlu panik atau telepon orang rumah minta dikirim paket.
Di kota lain, mungkin kamu harus naik ojek online dulu cuma untuk beli hanger. Di sini? Jalan bentar aja sudah sampai. Hidup jadi lebih praktis. Dan anak rantau sangat butuh kepraktisan.
Tata letak UIN Malang yang tidak bikin tersesat (secara fisik)
Ada kampus yang kalau kamu salah belok sedikit, tahu-tahu sudah sampai fakultas orang. Nah, UIN Malang relatif ramah untuk mahasiswa yang kemampuan orientasi arahnya minim.
Gerbang utama ke gerbang belakang? Lurus saja. Patokannya Tugu Mastar UIN Malang. Mau cari rektorat? Di depan. Pusat informasi? Sekitar situ juga.
Di bagian belakang ada perpustakaan, gedung Saintek, gedung perkuliahan, Fakultas Ekonomi, Tarbiyah, Psikologi, dan Humaniora juga nggak jauh-jauh amat. Gedung Ma’had putra dan putri di sisi utara dan selatan. Intinya, nggak ribet lah jika dibandingkan UB dan UM.
Kamu nggak perlu satu semester cuma untuk hafal peta kampus. Energi bisa dialihkan untuk hal lain. Misalnya menghafal jadwal dosen yang suka tiba-tiba mengganti ruang kelas atau hafalan al-qur’an.
Tapi, kuliah di UIN Malang bukan berarti hidup tanpa masalah. Tugas tetap numpuk, bekal dunia dan akhirat berjalan seirama. Deadline kuliah dan ma’had tetap mengejar. Banyak kelas Bahasa di semester awal. Tapi setidaknya, kamu tidak ditambah beban biaya hidup yang tidak masuk akal.
Singkatnya, kuliah di UIN Malang masih bisa makan cukup, tinggal di kos yang layak, belanja kebutuhan tanpa drama, bisa jalan-jalan tanpa harus nabung tiga bulan. Dan kuliah di kampus yang tata letaknya tidak bikin kamu merasa bodoh karena nyasar. Kamu sudah mengeliminasi masalah yang teramat tak perlu. Jadi, mau daftar kapan?
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
