Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

UIN Kampus Rakyat, Masihkah Relevan?

Ahmad Arief Widodo oleh Ahmad Arief Widodo
23 Desember 2022
A A
Kuliah di UIN (Unsplash.com)

Kuliah di UIN (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

UIN terkenal sebagai kampus rakyat. Tapi, itu dulu.

Jika kamu mengikuti dunia lawak Indonesia, terutama standup comedy, pasti tidak asing dengan nama Mukti Entut atau Mukti Metronom. Dia adalah seorang komika ternama asal Jogja, yang baru-baru ini menggelar standup special show-nya di Jakarta.

Selain lucu, Lord Mukti memiliki suatu ciri khas yang jarang dimiliki oleh komika lain pada dunia stand up comedy di Indonesia. Ciri khas tersebut adalah dia dapat membuat jokes dari nama-nama pemain sepak bola yang unik dan lucu. Saya nyaris selalu terkekeh ketika Lord Mukti mengeluarkan jokes itu, terutama jika nama-nama unik pemain bola yang ia sebutkan, pernah berkiprah di Indonesia.

Sebenarnya itu bukanlah satu-satunya jokes yang kerap dia suguhkan. Ada jokes dengan pola yang sama, dan kerap dia ulang-ulang, terutama saat mengisi acara di Jogja. Jokes tersebut tentang kampus dan mahasiswa UIN.

Mas Mukti kerap berkelakar tentang mahasiswa UIN yang secara gaya busana, kendaraan dan kemampuan ekonomi, berada di bawah rata-rata mahasiswa pada umumnya. Terlebih, jika dibandingkan dengan kampus ternama macam UGM, UNDIP dan ITB. Jujur, menurut saya sebagai lulusan UIN, kelakar tentang mahasiswa UIN berkemampuan ekonomi di bawah rata-rata, yang kerap dilontarkan oleh Mas Mukti, cukup tepat.

Meskipun, saya dan Lord Mukti, berkuliah di kampus UIN yang berbeda. Saya di kampus UIN Walisongo Semarang, sedangkan Lord di UIN Sunan Kalijaga. Walaupun begitu, karakteristik mahasiswa UIN pada umumnya, kurang lebih sama.

Dulu, memang ada sebutan yang cukup populer di beberapa kampus UIN yaitu UIN kampus rakyat. Pemahaman saya terhadap sebutan tersebut adalah UIN merupakan kampus yang dapat memberikan akses pendidikan kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama dalam urusan biaya kuliah yang murah.

Faktanya, saat saya pertama kali kuliah di UIN pada 2013, biaya UKT-nya masih satu jutaan. Bahkan, seingat saya, sampai 2015, UKT-nya maksimal masih di sekitaran 2 jutaan. Biaya UKT saya dulu, hampir sama dengan biaya SPP sekolah saya, sebelum digratiskan oleh pemerintah.

Baca Juga:

3 Alasan Maba Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian ke UIN Palembang, Takutnya Nanti Kecewa

5 Salah Kaprah tentang UIN Jakarta yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang, Termasuk Calon Mahasiswanya

Sayangnya, hal tersebut sudah nggak berlaku lagi sekarang, khususnya di kampus yang telah bertransformasi lama dari IAIN ke UIN, bukan yang baru-baru ini berubah status. Biaya kuliah di UIN saat ini, sudah membumbung tinggi. Berdasarkan data yang saya dapat, UKT tertinggi di UIN, sekitar lima sampai tujuh jutaan.

Artinya, ketika mahasiswa sekarang membayar UKT sebanyak dua kali, bisa buat saya kuliah dari maba sampai lulus.

Memang perbandingan ini sedikit kurang adil. Mengingat fasilitas penunjang kuliah di UIN saat ini, jauh lebih baik ketimbang zaman saya dulu. Kembali lagi ke prinsip, ada harga, ada rupa.

Akan tetapi, apakah Bapak/Ibu Pimpinan Kementerian Agama dan Bapak/Ibu Rektor UIN nggak pengin mempertahankan adagium UIN kampus rakyat, yang bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat?

Di zaman saya kuliah dulu, masih banyak senior, teman-teman dan junior saya, yang modal kuliahnya hanya doa orang tua dan semangat, alias dikasih duit yang nggak seberapa.

Bukan karena keluarganya nggak sayang, tapi karena kemampuan finansial keluarga mereka, memang hanya sanggup memberikan pendidikan sampai bangku SMA saja. Untungnya, orang-orang yang saya kenal ini, memiliki semangat juang yang tinggi. Guna mengubah status sosial keluarga mereka, melalui pendidikan di perguruan tinggi.

Biaya UKT UIN pada zaman dulu sangat terjangkau. Beberapa kenalan saya yang kemampuan ekonominya terbatas, dapat membayar UKT dan memenuhi kebutuhan sehari-hari saat kuliah, dari pekerjaan sampingan mereka. Ada yang jadi pelayan di warung makan, penjaga konter HP, dan masih banyak lagi. Kerja apa saja, yang penting halal dan uangnya cukup buat bayar UKT dan kebutuhan sehari-hari.

Mungkin orang-orang seperti itu, masih ada di UIN tapi sudah sangat langka sepertinya. Menilik biaya UKT UIN yang sekarang cukup tinggi, sulit sekali terbayarkan melalui hasil kerja sampingan.

Padahal, keberadaan orang-orang seperti itu, dapat memotivasi orang lain untuk mengubah kondisi ekonomi keluarganya melalui pendidikan. Minimal adik dan sepupunya, punya role model, yang bisa ditiru.

Selain itu, saya selalu senang melihat para orang tua mereka yang rata-rata dari desa, ketika ada acara wisuda. Raut kebahagian tak henti-hentinya terpancar di wajah orang tua mereka, saat menghadiri acara pemindahan toga anaknya. Bapak/Ibu Rektor UIN, apa nggak bungah menyaksikan wajah para orang tua tersebut?

Jika iya, tolong carikan solusi untuk memberikan pendidikan dengan harga terjangkau tapi berkualitas. Itu kan, salah satu tujuannya panjenengan dibayar oleh negara.

Sementara ini, saya pernah bangga dengan sebutan UIN kampus rakyat. Semoga kelak, kampus ini kembali menjadi kampus rakyat. Bukan kampus konglomerat.

Penulis: Ahmad Arief Widodo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nama Resmi UIN Memang Terlalu Sulit untuk Dihapal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Desember 2022 oleh

Tags: kampus rakyatUINUKT
Ahmad Arief Widodo

Ahmad Arief Widodo

Penulis lepas yang fokus membahas kedaerahan, dunia pemerintahan dan ekonomi. Stand like a hero and die bravely.

ArtikelTerkait

Pak Menteri, Tolong Beri Imbauan Rektor untuk Nurunin UKT Semester Ganjil Nanti!

Pak Menteri, Tolong Beri Imbauan Rektor untuk Nurunin UKT Semester Ganjil Nanti!

3 April 2020
5 Kejadian Luar Biasa yang Bikin Ospek UIN Gempar dan Viral, Ada Apa dengan UIN (yang Sekarang)?

5 Kejadian Luar Biasa yang Bikin Ospek UIN Gempar dan Viral, Ada Apa dengan UIN (yang Sekarang)?

10 September 2023
Program Pinjaman Kuliah atau Student Loan: Sebuah Solusi, Ilusi, atau Jeratan Riba Bergaya Akademik?

Program Pinjaman Kuliah atau Student Loan: Sebuah Solusi, Ilusi, atau Jeratan Riba Bergaya Akademik?

7 April 2025
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Stop Menganggap Hidup di Jogja Itu Lebih Murah

29 Desember 2020
4 Anggapan Keliru Terkait UIN Khas Jember yang Bikin Ngelus Dada uin jember

Keunikan UIN Jember: Papan Nama Kampus yang Jadi Tempat Pentas, Spot Mancing yang Ikannya Manja, dan Kafe yang Lebih Estetik ketimbang Kampusnya

5 Agustus 2025
Pilu Calon Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang Terjebak UKT Tinggi: Dilanjut Ekonomi Tak Mumpuni, Ditolak Nggak Bisa Kuliah di Kampus Negeri

Pilu Calon Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang Terjebak UKT Tinggi: Dilanjut Ekonomi Tak Mumpuni, Ditolak Nggak Bisa Kuliah di Kampus Negeri

11 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.