Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

4 Tahun Kuliah di UGM, Saya Baru Menyesal Sudah Mengambil Jurusan Sosiologi yang Ternyata Susah Dapat Kerja dan Gaji Nggak Sesuai Harapan

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
5 April 2025
A A
Sosiologi UGM Bikin Saya Pernah Menyesal Kuliah 4 Tahun (Unsplash)

Sosiologi UGM Bikin Saya Pernah Menyesal Kuliah 4 Tahun (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Selama kuliah hingga menjadi alumni UGM, saya kerap mendengar istilah “salah jurusan”. Mahasiswa yang nggak enjoy atau nggak menemukan passion-nya di program studi tertentu mendapat status ini. Saya sendiri pernah merasakannya ketika mengambil jurusan Sosiologi.

Namun, selama hampir 4 tahun kuliah, saya nggak merasa salah sudah memilih Sosiologi. Saya tetap menjalani kuliah dengan baik, serta belajar, dan mengerjakan tugas dengan giat. Namun, pada akhirnya, jauh di dalam lubuk hati, saya menyesal memilih jurusan itu.

Jadi, segera selepas lulus dari SMA, saya lolos jalur undangan atau SNMPTN. Saya nggak perlu ikut ujian untuk masuk perguruan tinggi negeri. Cukup dengan nilai rapor SMA dari semester 1 hingga 5, saya berhasil mendapatkan tempat duduk di Prodi Sosiologi UGM.

Awal-awal menjadi mahasiswa baru, tentu saja euforianya masih saya rasakan. Tapi menjelang pertengahan perjalanan menuju kelulusan, dan menjadi alumni UGM, saya baru merasa menyesal. Penyebabnya karena saya mengalami hal-hal berikut.

#1 Alumni UGM beneran susah dapat kerja

Di dunia akademik dan pekerjaan, selalu ada perdebatan mengenai almamater memudahkan alumni mendapatkan pekerjaan. Banyak yang bilang alumni UGM akan lebih mudah dapat kerja. Ya karena kampusnya terkenal dengan otak-otak jeniusnya. Tapi, setelah saya mengalami sendiri, pendapat ini terlalu menggeneralisasi semua alumni.

Dari pengalaman saya sendiri sebagai alumni UGM dan lulusan Sosiologi, untuk bekerja di luar bidang penelitian itu agak sulit. Kuliah menempa kami dengan skill untuk menjadi peneliti. 

Kalau mau kerja di luar bidang itu, boleh saja. Tapi, kami harus eksplor sendiri dan tentunya peluang kami kalah jika bersaing dengan alumni yang bidangnya linear akan lebih besar.

Misalnya begini. Setelah menjadi alumni UGM, saya menargetkan pekerjaan di bidang kreatif. Saya mendapatkan skill ini bukan dari bangku kuliah, melainkan dari kegiatan ekstrakurikuler atau belajar otodidak. Sayangnya, hampir semua loker kreatif hanya mencari lulusan Ilmu Komunikasi, Marketing, dan sebangsanya.

Baca Juga:

Jurusan Teknologi Hasil Perikanan UGM: Masuk dan Lulusnya Gampang, tapi Sulit Dapat Kerja

Saya Tidak Pernah Merasa Bangga Kuliah di UIN Jogja, tapi Kampus Ini Sama Sekali Tidak Layak Dicela

Kami yang berasal dari disiplin ilmu ini sering sudah gugur di awal. Pasalnya, HRD-nya hanya memandang latar belakang pendidikan tanpa ngintip portofolio kami seperti apa. 

Loker untuk lulusan Sosiologi juga nggak sebanyak jurusan lain. Misalnya, di Rekrutmen Bersama BUMN hanya tersedia lowongan kerja di bank untuk alumni Sosiologi. 

Sementara itu, jurusan yang mirip-mirip seperti kami, yaitu Antropologi atau Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan UGM masih dapat slot dengan posisi sebagai peneliti. Padahal kami selama kuliah juga banyak praktik meneliti, lho.

#2 Sosiologi adalah jurusan yang kurang populer

Pengalaman ini sepele dan agak lucu saja sebenarnya. Dalam bayangan saya, Sosiologi lebih dikenal oleh masyarakat karena di SMA, khususnya jurusan IPS, ada mata pelajaran Sosiologi. Tapi kenyataannya, banyak orang yang nggak tahu Sosiologi UGM itu prodi macam apa.

Masyarakat, bisanya lebih mudah memahami sebuah jurusan jika langsung menjelaskan bidangnya. Misalnya, Hubungan Internasional atau Politik Pemerintahan. Hal ini berbeda jika kita membicarakan Sosiologi. 

Banyak orang masih sering salah paham. Mereka menganggap kami sebagai bagian dari Antropologi atau Psikologi. Pertanyaan seperti, “Berarti ada di Fakultas Ilmu Budaya, ya?” atau “Berarti suka dengerin orang curhat, dong?” sudah kelewat sering kami dengar. 

Lantaran jurusan ini nggak populer, setelah resmi menjadi alumni UGM, saya semakin lelah menjelaskan. Misalnya, saya sering harus menjelaskan Sosiologi mempelajari ilmu apa saja dan prospek kerja. Saking lelahnya, saya berpikir seharusnya mengambil jurusan lain saja.

#3 Gaji nggak sesuai harapan

Sosiologi adalah perpaduan antara 2 hal keramat, yaitu ilmu murni dan ilmu sosial. Hasilnya, kalau membandingkannya dengan jurusan-jurusan dengan kemampuan teknis, kami sudah pasti kalah telak dari segi gaji. 

Jurusan-jurusan lain di bidang ilmu sosial akan menyerobot kami. Khususnya jika kami, alumni UGM jurusan Sosiologi, hanya mengandalkan skill meneliti. Sedihnya lagi, jarang dari jurusan Sosiologi yang langsung dapat kerja sebelum lulus. Padahal kami lulusan Sosiologi UGM, misalnya.

Memang, sih, ada proyek penelitian yang bisa kami ikuti. Akan tetapi, kalau masih berstatus mahasiswa, lebih seringnya kami menjalani proyek tersebut sebagai part-time saja. Bahkan, beberapa loker peneliti sosial mensyaratkan alumni UGM jurusan Sosiologi untuk menamatkan S2 terlebih dulu. 

“Hidup nggak melulu soal gaji.” Oke, itu bisa saya terima. Tapi kalau 3 syarat ini terpenuhi.

Pertama, keadaan negara ini baik-baik saja. Kedua, masih dapat duit bulanan miliaran dari orang tua. Ketiga, semua benda yang saya sentuh bisa langsung jadi milik saya. Tapi untuk bertahan hidup, mau nggak mau, saya juga harus memikirkan gaji.

Jujur saja, setelah menjadi alumni UGM, saya pernah menyesal belajar Sosiologi. Kalau bisa memutar waktu, saya mungkin akan memilih jurusan ilmu sosial yang lebih spesifik dan memiliki keterampilan teknis. Misalnya, Ilmu Komunikasi atau Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan.

Tapi rasa menyesal itu saya rasakan ketika saya masih di Indonesia. Sebagai alumni UGM yang berada di luar negeri, saya merasa prospek lulusan Sosiologi lebih dihargai. Doakan saya, ya!

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Saya Malu Jadi Mahasiswa Jurusan Sosiologi, Jurusan Paling Sia-sia dan Selalu Kalah dengan Anak Teknik dan MIPA

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 April 2025 oleh

Tags: alumni ugmsosiologiSosiologi UGMUGMuniversitas gadjah mada
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

Enaknya Jadi Alumni UNY: Nggak Ada yang Bisa Dibanggakan, Nggak Ada Beban

Enaknya Jadi Alumni UNY: Nggak Ada yang Bisa Dibanggakan, Nggak Ada Beban

1 Maret 2025
Perjuangan Saya dari Kaum Rebahan Sampai Kuliah di UGM

Perjuanganku dari Kaum Rebahan Sampai Kuliah di UGM

24 Desember 2019
5 Drama Korea yang Bisa Jadi Topik Skripsi buat Mahasiswa Jurusan Sosiologi Terminal Mojok

5 Drama Korea yang Bisa Jadi Topik Skripsi buat Mahasiswa Jurusan Sosiologi

30 Juli 2022
PPSMB UGM: Ospek Terbaik yang Bikin Iri Mahasiswa Kampus Lain

PPSMB UGM: Ospek Terbaik yang Bikin Iri Mahasiswa Kampus Lain

8 Agustus 2023
Di Sleman, Mahasiswa Bisa Hidup dengan Uang 30 Ribu (Unsplash)

Cara Mahasiswa Bertahan Hidup di Sleman dengan Uang 30 Ribu

23 Juni 2024
Pengalaman Tahun Kuliah Jurusan Sosiologi Universitas Andalas, Tidak Menyesal karena Merasa Tersesat di Jalan yang Benar Mojok.co

Pengalaman Kuliah Jurusan Sosiologi Universitas Andalas, Tidak Menyesal karena Merasa Tersesat di Jalan yang Benar

26 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.