Tutorial Menyelamatkan Purworejo: Jiplak Saja Wisata Kebumen dan Cara Magelang Menciptakan Lapangan Kerja

Sudah Saatnya Purworejo Turunkan Ego dan Belajar dari Kebumen daripada Semakin Tertinggal Mojok.co magelang

Sudah Saatnya Purworejo Turunkan Ego dan Belajar dari Kebumen daripada Semakin Tertinggal (wikipedia.org)

Kebumen mulai berbenah, Magelang mulai megah, masak ya Purworejo diam-diam saja?

Saya pernah menuliskan di Mojok kalau Purworejo perlu belajar dari Kebumen. Waktu itu konteksnya soal wisata, dan rasanya masih relevan sampai sekarang. Kebumen pelan-pelan bisa mengolah apa yang dimiliki, membuat orang datang, dan setidaknya ada usaha supaya daerahnya terasa bergerak.

Saya kira, itu sudah cukup sebagai catatan. Tapi makin ke sini, rasanya persoalannya tidak berhenti di situ. Karena pada akhirnya, orang tidak cuma butuh tempat untuk dikunjungi, tapi juga tempat untuk bekerja dan bertahan.

Di titik ini, arah belajarnya jadi berbeda. Bukan lagi soal bagaimana menarik orang datang, tapi bagaimana membuat orang tidak perlu pergi. Dan kalau bicara soal itu, mau tidak mau, kita jadi sering nengok ke Magelang.

Saya bilang menengok ke Magelang bukan karena tiba-tiba jadi kota besar, tapi karena di sana terasa ada sesuatu yang berjalan. Pelan-pelan, aktivitas industri mulai kelihatan dan memberi kesan bahwa ada ruang yang sedang dibuka. Skalanya memang belum besar, tapi geliatnya sudah terlihat.

BACA JUGA: Sudah Saatnya Purworejo Turunkan Ego dan Belajar dari Kebumen daripada Semakin Tertinggal

Industri di Magelang

Di kawasan seperti Secang, bekas Patal mulai disiapkan untuk pembangunan pabrik milik Mayora Group yang memproduksi Le Minerale dan Teh Pucuk Harum. Di sisi lain, ada juga pabrik PT VKTR Sakti Industries yang mulai beroperasi dan merakit kendaraan listrik dalam skala yang tidak kecil. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat biasa kalau hanya dibaca sebagai berita, tapi kalau dilihat dari dekat, itu memberi satu sinyal: ada arah jelas yang dituju oleh Magelang.

Sementara di Purworejo, ceritanya masih terasa berbeda. Banyak yang pergi karena kepastian ekonomi yang lebih baik hampir-hampir tidak ada. Merantau tak lagi opsi, tapi sebuah hal yang pasti.

Dan saya akhirnya merevisi apa yang saya katakan dulu: Purworejo bisa meniru Kebumen dan Magelang. Wisata meniru Kebumen, ekonomi meniru Magelang.

Kalau melihat ke Magelang, mungkin yang bisa ditiru bukan sekadar hasilnya, tapi caranya. Bagaimana daerah itu membuka ruang, memberi sinyal bahwa ada peluang, dan pelan-pelan membuat orang yakin untuk datang dan bertahan. Purworejo harus segera bergerak, tidak menunggu momentum, atau apa-apa yang belum pasti.

Purworejo mau tidak?

Sebenarnya, kalau mau, Purworejo itu tidak kehabisan inspirasi. Seperti yang saya bilang sebelumnya, wisata, bisa ke Kebumen. Ekonomi, Magelang. Atau kemajuan infrastruktur, misal, Purwokerto. Yang dekat-dekat saja, bisa memberi banyak. Nggak perlu melihat kelewat jauh.

Tapi, apakah semua itu benar-benar mau ditiru, atau hanya akan terus dilihat dari jauh. Karena kalau hanya dilihat,ya percuma. Itu concern yang sebenarnya.

Setiap kota, kabupaten, apalah itu, di Indonesia, selalu punya potensi. Belajarnya pun tak perlu jauh-jauh. Tapi dari dulu, entah kenapa, potensi tersebut selalu tak tergali. Dibiarkan dalam dormant state, atau bahkan tak dilirik.

Purworejo, saya rasa, tak boleh lagi seperti itu. Warganya jangan dibiarkan pergi karena mereka tak punya opsi. Meninggalkan tanah kelahiran demi kepastian itu benar-benar menyedihkan. Kebumen mulai berbenah, Magelang mulai megah, masak ya Purworejo diam-diam saja?

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Purworejo, Tempat Ideal bagi para Introvert yang Mendambakan Ketenangan Hidup

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version