Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Tutorial Bikin Puisi Pascakontemporer yang Artsy

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
24 Desember 2021
A A
pascakontemporer
Share on FacebookShare on Twitter

“Puisi kamu bagus?” begitu yang dijawab salah satu laman yang menampung puisi-puisi bagus saat menjawab pertanyaan kontributor ketika bertanya ngirim puisi di situ dapat honor atau enggak. Tentu saja jawaban itu bikin hati sesak menengok nggak ada salahnya nanya honor tentang karya yang mau dipublikasi.

Jawabannya itu mengingatkan saya kepada mas-mas progresif kampus yang kalau ditanya kegiatan yang ia buat berdampak apa bagi peserta, ia bakalan mencak-mencak dan menyeret semua isme-isme yang ia baca selama di perpustakaan kampus. Tapi, ya nggak masalah lah, kadang kan maba ketika bertemu ilmu baru, bakalan merasa bisa mengendalikan dunia lewat pemikirannya.

Kalau saya ditanya “Puisi kamu bagus?” oleh media tersebut, saya nggak bakal marah kok. Malah saya bertanya, “Lah, emang saya bikin puisi?”

Akun puisi itu membawa—katanya sih—embusan baru bagi dunia perpuisian. Yakni pascakontemporer. Ya nggak masalah sih. Tapi, ya kenapa nggak sekalian neo-kontemporer saja gitu lho. Biar lebih terkini dan makin ndakik-ndakik. Tapi saya baru ingat, “Pasca” ini lebih puitis ketimbang “neo”.

Pascakontemporer awkwkwkkwk. Maap, kelepasan ketawa.

Lantas banyak warga net yang bertanya, puisi pascakontemporer ki opooo? Apakah kita harus membaca Ferdinand de Saussure atau Michel Foucault dulu? Nyatanya tidak, kawan-kawan. Saya coba buatkan kiat membuat puisi yang pascakontemporer abiesss biar puisimu nggak ditanya “puisi kamu bagus?” sama bapak puisi pascakontemporer sedunia itu.

#1 Harus memuat nama-nama tokoh

Salah satu penggalan puisi milik bapak puisi pascakontemporer sedunia itu bertuliskan begini, “Kita mencibir yves bonnefoy” (nama Yves Bonnefoy nggak saya ganti pakai huruf capital agar nggak mengurangi nilai artsy puisi blio). Sedang Yves Bonnefoy ini adalah seorang sastrawan asal Prancis.

Lantas dalam penggalan puisi milik bapak puisi pascakontemporer sedunia yang lain bertuliskan gini, “di negeri dostoyevsky” (lagi-lagi, nama Dostoyevsky nggak saya ubah pakai huruf kapital biar pascakontemporer abiess). Sedang Dostoyevsky, salah satu penulis asal Russia favorit saya. Saya udah baca yang Crime and Punishment.

Baca Juga:

Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Itu Luas. Nggak Melulu Bikin Puisi, Pantun, apalagi Quotes!

Jangan Dicemooh, Food Vlogger Memang Sangat Berguna bagi Kelanjutan Dunia

Nah, kalau Anda kepengin pascakontemporer abis, tinggal masukkan saja nama-nama tokoh dunia. Misalnya,

“Senyum indah seperti lengkungan hasil sepak Trent Alexander-Arnold.”

“Berat napas Enny Arrow.”

“Hidupku ka-chow seperti Lightning McQueen.”

“Pekik keras Uncle Muthu.”

“Kau menyihirku, Draco Malfoy.”

#2 Cari kata sulit di KBBI

Seperti kita tahu, salah satu contoh puisi apik dan memenuhi syarat pascakontemporer itu harus ndakik. Puisi favorit saya, milik Beni Satrio, “Aku menunjuk struk-struk yang terselip di bawah mangkuk acar. Itu apa? Harga yang harus kita bayar.” Palingan hanya dikomentari, “Puisi kamu bagus?”

Puisi milik bapak puisi pascakontemporer sedunia begini bentuknya, “Meneropong Oriental dari Occidental” (“Oriental” dan “Occidental” saya nggak edit dan tetap pakai kapital, soalnya pascakontemporer memang begitu, nama tokoh huruf kecil, sedang kata ndakik pakai kapital). Lantas apa itu oriental? Lantas occidental ini siapanya dokter gigi? Sila buka KBBI.

Nah, saya kasih kiat-kiat supaya puisi kamu lebih berbentuk pascakontemporer dan nggak dipermasalahkan ketika ditanyai honor.

“Kawan lama adalah adarusa ketika ada maunya.”

“Tempat monyet ada di gembiraloka, kalau kamu ada di asmaraloka.”

“Senja ini jatmika banget.”

“Tuk utuk, Handoko, eh, Hamtaro makan kanigara.”

“Pasha adalah vokalis band Kirmizi.”

“Ketika dirangsang, kukila selalu bangun.”

“Inspector Gadget pakai suryakanta.” Kok malah pengen tak bales “Cakeuuup!”

Intinya, pakai kata-kata yang jarang dipakai. Itu sudah. Eh, kurang pascakontemporer seperti “Membuat sarang di bibit lazuardi”? Tunggu sampai kamu membaca yang ini:

“Dua sisi bak sebuah taksa.”

“Mput-mputan di warung ugahari.”

“Tumbuh mejadi wanodya yang berdikari.”

Nah, itu dia kiat-kiat biar puisimu masuk dalam jajaran pascakontemporer. Ya, walau kita (atau lebih tepatnya saya) nggak bakalan bisa mendekati level bapak puisi pascakontemporer sedunia, setidaknya dengan kiat-kiat ini, puisi saya kelak nggak bakal ditanyain, “Emang puisimu bagus?” Modyaaar kowe nek ditakoni itu.

Sumber Gambar: Pixabay

Editor: Rizky Prasetya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Desember 2021 oleh

Tags: pascakontemporerPuisisatir
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Kiat-Kiat Mengobati Patah Hati di Kota Jogja

Kiat-Kiat Mengobati Patah Hati di Kota Jogja

7 Januari 2020
paterson

Paterson: Berpuisi dan Menjadi Biasa-biasa Saja Bukanlah Masalah

4 Juni 2019
Mafalda

Komik Mafalda: Ketika Anak-anak Menyindir Negara

25 September 2021
ucapan idul fitri lebaran MOJOK.CO

Ucapan Idul Fitri Tak Perlu Bertele-tele, Kamu Nggak Lagi Bikin Naskah Pidato MLM

23 Mei 2020
bucin 4 Rekomendasi Tempat Pacaran di Jogja versi Low Budget terminal mojok.co

Menjadi Bucin Tidak Sebudak Amat pada Cinta yang Anda Kira

15 Januari 2020
Alasan Saya Rela Beli Kopi Mahal padahal Saya Konsumen Bergaji UMR terminal mojok.co

Mengapa Harus Kopi dan Senja, Jika Teh dan Pagi Lebih Nikmat?

30 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Booth Nescafe di Kulon Progo Selalu Ramai, padahal Cuma Kecil dan Menunya Itu-Itu Saja Mojok.co

Alasan Booth Nescafe Bisa Jadi Primadona Ngopi Baru di Kulon Progo

6 Januari 2026
Daihatsu Ceria, Mobil Mungil yang Bikin Pengemudinya Benar-benar Ceria  Mojok.co

Daihatsu Ceria, Mobil Mungil yang Bikin Pengemudinya Benar-benar Ceria 

8 Januari 2026
Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

5 Januari 2026
3 Peraturan Tidak Tertulis Makan Ramen di Golden Geisha Jogja agar Tidak Kecewa Mojok.co

3 Peraturan Tidak Tertulis Makan Ramen di Golden Geisha Jogja agar Tidak Kecewa

5 Januari 2026
Alasan Saya Lebih Nyaman Diajar Dosen Muda daripada Dosen Tua Mojok.co

Alasan Saya Lebih Nyaman Diajar Dosen Muda daripada Dosen Tua

9 Januari 2026
Healing dari Palembang ke Lampung Penuh Perjuangan, tapi Sepadan dengan yang Didapat Mojok.co

Healing dari Palembang ke Lampung Penuh Perjuangan, tapi Sepadan dengan yang Didapat

5 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 
  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.