Apa yang pertama kali terbayang di benak kalian ketika mendengar kerja sebagai PNS di desa? Saya yakin sebagian besar akan membayangkan kehidupan yang terjamin, nyaman, dan tenang. Saya pun mengira hal yang serupa.
Sulit rasanya memisahkan citra PNS dengan kestabilan finansial, posisi atau jabatan, hingga hari tua. Terlebih kalau kerjanya di desa yang kuat akan kesan slow living-nya. Di kepala ini terlanjur melekat pekerjaan yang terjamin dengan tanggung jawab yang tak seberapa tidak seberapa, tapi semuanya terjamin. Plus, bergengsi. Iya, jadi PNS di desa itu semacam pencapaian sosial tertinggi.
Tidak heran kalau orang berbondong-bondong orang mengincar jadi abdi negara, termasuk saya. Itu mengapa saya susah payah mempersiapkannya. Tidak masalah rasanya berjuang keras di awal, toh kehidupan akan mulus setelah lolos. Kenyataannya, hidup sebagai PNS tidak seenak itu, terlebih sebagai PNS di desa.
Ekspektasi berlebihan
Setelah 2 tahun jadi PNS saya menyadari, jadi PNS tidak seindah bayangan. Pekerjaan ini memang stabil, tapi tidak melulu lancar dan enak seperti yang saya bayangkan sebelumnya.
Gaji memang datang rutin setiap bulan, tetapi terasa pas untuk hidup sehari-hari. Boro-boro tersisa untuk foya-foya, penghasilan hanya cukup untuk makan dan kebutuhan dasar lain yang harganya terus merangkak naik. Saya harus tetap menghitung dengan hati-hari agar gaji tak habis hingga akhir bulan.
Pengeluaran lain yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya adalah biaya sosial. Misal, menghadiri undangan warga, membantu kegiatan masyarakat, hingga iuran lingkungan. Dan, status PNS yang melekat membuat saya terlihat mapan di mata warga. Ekspektasi mereka terhadap iuran yang saya berikan pun lebih tinggi daripada warga lain.
Di titik itulah saya sadar jadi PNS di desa itu tak mudah
Setelah bertahun-tahun kerja jadi PNS akhirnya saya sadar pekerjaan ini tidak melulu mudah, apalagi di desa. Selain tuntutan sosial, saya hampir tidak bisa melepaskan atau memisahkan pekerjaan saya dengan kehidupan sehari-hari. Jabatan ini melekat sepanjang waktu.
Kebetulan saya bertugas pada bidang administrasi pemerintahan dan pelayanan masyarakat desa. Tanggung jawab utamanya meliputi pelayanan administrasi warga seperti pengurusan surat keterangan, pengarsipan dokumen pemerintahan, pendataan masyarakat, serta mendukung pelaksanaan program-program pemerintah desa.
Selain tugas administratif di kantor, pekerjaan ini juga menuntut keterlibatan langsung dengan masyarakat, termasuk koordinasi kegiatan desa, pendampingan program bantuan sosial, serta pelayanan publik yang tidak selalu terbatas pada jam kerja formal.
Itu mengapa, ketika warga ada masalah administrasi, mereka langsung datang pada saya di luar jam kerja. Bahkan, ketika ada konflik antartetangga, saya ikut dimintai pendapat. Suara saya diperhitungkan walau hal itu bukan dalam ranah jobdesc PNS saya. Ketika ada kegiatan desa, kehadiran saya dianggap wajib. Jam kerja sering kali tidak benar-benar selesai ketika kantor tutup.
Belajar banyak hal
Pekerjaan ini memang mengangkat status sosial. Saya jadi lebih terpandang, tapi itu semua diiringi dengan tanggung jawab yang mudah. Bukan hanya hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, saya jadi punya posisi tersendiri di tengah masyarakat.
Pekerjaan yang dulunya saya pikir nyaman dan mudah justru membuka mata saya akan realitas di lapangan. Berkat (mau tak mau) bertemu banyak orang, saya menyaksikan bagaimana warga yang tetap tersenyum meski penghasilannya tidak menentu. Ada keluarga yang hidup sederhana tetapi tetap saling mendukung. Ada orang-orang yang tidak memiliki jabatan, tetapi memiliki ketulusan luar biasa dalam membantu sesama.
Jadi PNS di desa ternyata jauh dari kata tenang, tidak seperti bayangan saya sebelumnya. Namun, berkat pekerjaan ini saya bisa belajar banyak hal tentang hidup. Jadi buat kalian yang pengin jadi PNS di desa dan cuma pengin enaknya saja, sebaiknya pikir-pikir lagi ya.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















