Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Gelar Sarjana Tak Ada Harganya di Tulungagung, Gajinya Bikin Geleng Kepala

Helisa oleh Helisa
23 September 2025
A A
Gelar Sarjana Tak Ada Harganya di Tulungagung, Gajinya Bikin Geleng Kepala

Gelar Sarjana Tak Ada Harganya di Tulungagung, Gajinya Bikin Geleng Kepala (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Selepas wisuda, saya pulang kampung ke Tulungagung dengan perasaan bangga sekaligus lega. Empat tahun kuliah, biaya yang tak sedikit, akhirnya lunas dengan sebuah gelar sarjana. Dalam benak saya, ini saatnya membalas perjuangan orang tua: bekerja di kampung halaman sendiri, dekat rumah, gaji lumayan, dan hidup tenang.

Tapi ternyata itu cuma bayangan manis. Begitu benar-benar pulang, kenyataan datang menampar keras.

Lowongan kerja banyak, tapi gaji bikin geleng kepala

Begitu sampai rumah, saya langsung berburu lowongan kerja. Grup Facebook pencari kerja, brosur di warung kopi, sampai situs rekrutmen online saya lahap semua. Dan hasilnya, mayoritas lowongan kerja di Tulungagung yang saya temukan berputar-putar di jenis pekerjaan yang sama: penjaga toko, kasir minimarket, staf stan makanan-minuman, sales, atau admin di kantor kecil.

Sekali lagi, saya tekankan: pekerjaan apa pun itu mulia. Tidak ada yang rendah selama halal dan dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Tetapi masalah utamanya bukan di jenis pekerjaannya. Masalahnya ada di gaji. Banyak tawaran kerja di Tulungagung yang bahkan tidak menyentuh angka UMR. Fyi, besaran UMR Tulungagung ada di angka Rp2.470.800.

Saya menemukan lowongan administrasi dengan gaji Rp1,5 juta. Ada juga penjaga toko yang dibayar dibawah Rp1 juta. Bahkan ada yang terang-terangan bilang, “Ya segini sudah standar Tulungagung.”

Kalimat itu membuat saya terdiam. Standar dari siapa? Kalau gaji segitu dipakai untuk biaya hidup sehari-hari, apa cukup?

Gelar sarjana jadi tidak terasa bedanya di Tulungagung

Saya sempat melamar ke sebuah kantor swasta yang kelihatannya lebih “kantoran” di Tulungagung. Harapannya, gajinya bisa lebih manusiawi. Tapi hasilnya sama saja. Upah yang ditawarkan bahkan tidak sampai Rp1,5 juta.

Baca Juga:

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

Realitas Pahit Lulusan Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Prodi Laris yang Susah Cari Pekerjaan

Di titik ini, saya sadar bahwa di kampung halaman sendiri, gelar sarjana terasa tidak ada bedanya. Mau lulusan S1 atau bahkan S2, kalau gajinya di bawah UMR, ya sama saja. Gelar hanya jadi tempelan di ijazah, bukan tiket menuju penghidupan layak.

Sementara itu, teman-teman saya yang merantau ke kota lain seperti Surabaya atau Malang bisa mendapatkan gaji Rp4 juta sebagai fresh graduate. Biaya hidup memang lebih tinggi, tapi setidaknya upahnya sesuai standar, bukan angka yang membuat hidup jadi tarik-ulur antara makan nasi atau bayar listrik.

Tekanan sosial yang bikin sesak

Hal lain yang lebih bikin berat adalah komentar dari sekitar. Begitu pulang ke Tulungagung sebagai sarjana, tetangga langsung rajin bertanya, “Kerja di mana sekarang?” atau “Sudah keterima kantor mana?”

Pertanyaan itu mungkin maksudnya basa-basi. Tapi buat saya, rasanya seperti disidang di alun-alun. Saya hanya bisa menjawab singkat, “Masih cari, Bu.” Padahal dalam hati ingin berkata, “Bu, lowongannya ada, tapi gajinya jauh dari UMR. Kalau ada yang sesuai, saya sudah kerja dari kemarin.”

Tentu saja itu tidak pernah saya ucapkan. Akhirnya, setiap kali ada acara kumpul warga, saya lebih memilih duduk di pojokan, pura-pura sibuk main HP.

Bertahan dengan gaji rendah, atau merantau demi gaji layak?

Pilihan yang tersisa akhirnya dua: bertahan di Tulungagung dengan gaji di bawah UMR, atau kembali merantau demi penghasilan yang lebih layak.

Kalau bertahan, artinya saya bisa dekat dengan keluarga, tidak perlu jauh-jauh meninggalkan rumah. Tapi bagaimana caranya hidup dengan penghasilan Rp1,5 juta? Bayar makan, transportasi, listrik, dan kebutuhan lain jelas tidak cukup.

Kalau merantau, artinya saya harus jauh dari keluarga lagi. Tapi setidaknya, di kota besar peluang kerja lebih beragam, gajinya sesuai UMR, bahkan bisa lebih.

Setelah berpikir panjang, pilihan realistis memang merantau lagi. Bukan karena tidak cinta kampung halaman, tapi karena di kampung sendiri gajinya tidak cukup untuk bertahan hidup dengan layak.

Bukan soal gengsi, ini soal perut

Kadang ada yang menuduh, “Sarjana gengsi kerja ini itu.” Saya bisa bilang dengan jujur bahwa ini bukan soal gengsi, tapi soal realita.

Kalau bekerja keras tapi gaji bahkan tidak mencapai UMR, lalu bagaimana caranya bertahan hidup? Saya tidak masalah jadi kasir, pramuniaga, atau sales sekalipun, asal gajinya minimal sesuai UMR. Karena itulah standar layak yang mestinya dijamin, bukan angka yang bisa ditawar seenaknya.

Sayangnya, di Tulungagung, pekerjaan dengan gaji sesuai UMR masih bisa dihitung dengan jari. Itulah kenapa banyak anak muda akhirnya memilih keluar daerah. Kampung halaman jadi tempat pulang saat Lebaran, bukan tempat mencari penghidupan.

Harapan untuk Tulungagung

Kadang saya bertanya-tanya, kapan ya Tulungagung bisa punya lebih banyak perusahaan besar yang membuka lapangan kerja formal dengan gaji sesuai? Kalau itu terjadi, mungkin banyak sarjana yang tidak perlu lagi meninggalkan keluarganya.

Untuk saat ini, itu masih sebatas harapan. Jadi untuk sementara, pilihan paling realistis memang tetap merantau ke daerah lain.

Dan kalau nanti ada yang bertanya, “Kenapa pulang kampung cuma sebentar?” Jawaban jujurnya ya karena di Tulungagung, pekerjaan memang ada, tapi banyak yang belum dibayar sesuai UMR.

Pulang kampung sebagai sarjana ternyata tidak otomatis membuat hidup lebih mudah. Justru sebaliknya, saya harus menghadapi kenyataan bahwa di kampung sendiri, banyak pekerjaan yang belum bisa memberikan gaji layak.

Pengalaman ini membuat saya sadar, gelar sarjana bukan jaminan apa-apa. Ia hanyalah bekal, sementara perjuangan sebenarnya ada di lapangan. Dan di lapangan, kadang pilihan hidup sederhana saja: bertahan dengan gaji rendah, atau pergi lagi demi upah manusiawi.

Sampai kapan kondisi ini bertahan? Entahlah. Yang jelas, untuk saat ini, merantau masih jadi jalan keluar utama. Sambil tetap berharap, suatu hari nanti, kampung halaman bisa benar-benar jadi tempat pulang sekaligus tempat mencari penghidupan dengan gaji yang layak, minimal sesuai UMR.

Penulis: Helisa
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 4 Hal yang Dianggap Orang sebagai Candaan, tapi Sangat Melukai Hati Masyarakat Tulungagung.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 September 2025 oleh

Tags: gelar sarjanakabupaten tulungagunglowongan kerja tulungagungsarjanatulungagungUMR Tulungagung
Helisa

Helisa

Seorang pekerja yang mencari jeda di balik meja kantor untuk belajar menulis. Menjadi karyawan boleh saja biasa, namun cara memandang dunia lewat tulisan harus tetap luar biasa.

ArtikelTerkait

Derita Menyandang Status Sarjana Pertama di Keluarga, Dianggap Pasti Langsung Sukses Nyatanya Gaji Kecil dan Hidup Pas-pasan

Derita Menyandang Status Sarjana Pertama di Keluarga, Dianggap Pasti Langsung Sukses Nyatanya Gaji Kecil dan Hidup Pas-pasan

7 Mei 2025
4 Tipe Orang yang Sebaiknya Nggak Usah Kuliah S2, Cuma Buang-buang Waktu dan Duit Mojok.co

4 Tipe Orang yang Sebaiknya Nggak Usah Kuliah S2, Cuma Buang-buang Waktu dan Duit

26 Mei 2024
Wisuda TK Hanyalah Pembelokan Sejarah dan Pemborosan

Wisuda TK Hanyalah Pembelokan Sejarah dan Pemborosan

16 Juni 2023
3 Cara Mengenalkan Kampus UIN Tulungagung kepada Masyarakat Tulungagung

3 Cara Mengenalkan Kampus UIN Tulungagung kepada Masyarakat Tulungagung

13 September 2023
4 Tipe Orang yang Dipastikan Akan Merana kalau Tinggal di Tulungagung Mojok.co

4 Tipe Orang yang Dipastikan Akan Merana kalau Tinggal di Tulungagung

10 Mei 2025
Beban Menjadi Salah Satu dari Segelintir Sarjana di Kampung Terminal mojok

Beban Berat Menjadi Sarjana di Kampung

26 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Makanan Khas Jawa Tengah Paling Red Flag- Busuk Baunya! (Wikimedia Commons)

4 Makanan Khas Jawa Tengah yang Paling Red Flag, Sebaiknya Tidak Perlu Kamu Coba Sama Sekali kalau Tidak Tahan dengan Aroma Menyengat

17 Februari 2026
Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong di Banyumas (Wikimedia Commons)

Orang Purwokerto Adalah Manusia Paling Sombong se-Kabupaten Banyumas

15 Februari 2026
Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

Turunan Muria: Jalur Tengkorak yang Semua Orang Tahu, tapi Seolah Dibiarkan Merenggut Korban

19 Februari 2026
Surat Terbuka untuk Bupati Grobogan: Sebenarnya Desa Mana yang Anda Bangun dan Kota Mana yang Anda Tata?

Surat Terbuka untuk Bupati Grobogan: Sebenarnya Desa Mana yang Anda Bangun dan Kota Mana yang Anda Tata?

18 Februari 2026
Imlek 2026 Kenangan Simbah Mensyukuri Dodol sebagai Rezeki (Wikimedia Commons)

Imlek 2026 Menjadi Kenangan Manis akan Usaha Simbah Menurunkan Kasta Dodol sebagai Upaya Berterima Kasih kepada Rezeki

17 Februari 2026
Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

Makanan di Jawa Memang Terkenal Manis, tapi Kenapa Sambelnya Ikutan Manis?

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri
  • Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia
  • Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus
  • Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari
  • Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu
  • Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.