Berharap Tuah Magis Boaz Solossa di PSS Sleman

Suporter PSS Sleman (Sumber: bcsxpss.com)

Suporter PSS Sleman (Sumber: bcsxpss.com)

Liga 1 musim 2022/2023 tak lama lagi bergulir. Banyak tim peserta yang menggeber persiapan menjelang musim baru. Mulai dari memperkenalkan pemain baru, hingga menggelar pemusatan latihan intensif. Tak terkecuali PSS Sleman yang baru saja merekrut legenda sepak bola Indonesia, Boaz Solossa.

Menjelang musim baru, tim yang berbasis di Stadion Maguwoharjo itu tak mau kalah langkah dengan kontestan Liga 1 lainnya. Selain menggelar training camp selama sepekan di kawasan Kaliurang, PSS juga mulai mengenalkan pemain baru untuk mengarungi kompetisi.

Terbaru, tim asuhan Seto Nurdiantoro berhasil mendatangkan salah satu penyerang lokal terbaik Indonesia, Boaz Solossa. Nama Boaz Solossa tentu sudah tak asing di mata dan telinga kita.

Sejak pertama kali muncul di PON 2004 Palembang, Boaz sukses mencuri hati publik bola nasional. Tim PON Papua dibawanya meraih medali emas cabor sepak bola.

Peter White, pelatih timnas Indonesia kala itu tak ragu untuk memanggilnya ke tim Piala AFF 2004. Bersama Ilham Jayakesuma, Boaz membentuk duo penyerang yang ditakuti lawan dan berhasil membawa Tim Merah Putih melaju ke partai final sebelum dikalahkan Singapura.

PSS berharap tuah Boaz Solossa

Sejak promosi ke Liga 1 pada 2019, PSS sepertinya susah move on dari sosok goal getter andal. Sleman Fans tentu belum bisa melupakan bagaimana gol-gol yang lahir dari kaki dan kepala Yevhen Bokhashvili.

Nemanja Kojic dan Wander Luiz, dua penyerang yang mengisi posisi striker utama PSS, gagal menunjukkan peran sebagai tukang gedor yang dibutuhkan tim. Malah Irfan Jaya, yang banyak berkontribusi atas gol-gol PSS.

Tumpulnya lini depan musim lalu jelas jadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan Coach Seto. Dan Boaz Solossa, diharapkan menjadi solusi atas masalah PSS tersebut.

Sudah banyak rekam jejak yang menunjukkan kualitas Boaz Solossa sebagai penyerang. Rentetan gelar juara liga dan pencetak gol terbanyak ketika membela Persipura adalah bukti sahih yang tak terbantahkan.

Catatan statistiknya selama berbaju Mutiara Hitam sungguh mengagumkan. Empat trofi Liga Indonesia dan tiga kali gelar pencetak gol terbanyak. Total, Boaz tampil 359 kali dengan torehan 225 gol di semua ajang bersama Persipura. Sungguh, angka yang mengagumkan, bukan?

Dengan catatan yang demikian ciamik, rasanya cukup pantas menaruh harap pada pemain yang identik dengan nomor punggung 86 itu.

Faktor cedera dan usia

Boaz Solossa pernah mendapatkan label wonderkid, si bocah ajaib, begitu dulu media menjulukinya. Menjadi pemain kunci di timnas Indonesia senior sejak usia 17 tahun, tak banyak pemain muda Indonesia yang mampu melakukannya.

Namun, kisah tak kalah ajaib juga mengiringi karier panjang seorang Boaz Solossa. Tercatat dua kali Boaz Solossa menderita cedera yang cukup parah, yang bisa saja membuatnya pensiun muda. Selain cedera parah gara-gara ditekel Baihakki Khaizan di leg pertama final Piala AFF 2004 kontra Singapura, insiden patah kaki jelang Piala Asia 2007 jelas masih terbayang dalam ingatan.

Aksi penetrasinya di depan kotak penalti Hong Kong harus dihentikan dengan sebuah tekel keras yang membuat engkel kanannya patah. Firman Utina dan anggota timnas lain turut histeris begitu mengetahui kondisi Boaz. Kariernya terancam tamat. Cedera yang diakui Boaz di kemudian hari sebagai yang terparah dalam kariernya.

Menyaksikan peristiwa itu di YouTube, sungguh membuat saya terasa ngilu. Seandainya tidak menderita dua kali cedera parah itu, saya yakin, kiprah seorang Boaz Solossa akan lebih dahsyat dari yang kita ketahui sekarang.

Perekrutan Boaz Solossa oleh PSS tentu menjadi kabar menggembirakan bagi banyak Sleman Fans. Meskipun secara usia tak lagi muda dan produktivitas gol yang jauh menurun, yang diinginkan publik bola Sleman dari Boaz Solossa adalah lebih dari sekadar gol.

Kehadiran pemain senior berkaliber tim nasional bukanlah hal baru bagi PSS dan Coach Seto. Sleman Fans tentu masih ingat bagaimana tajamnya Cristian Gonzales di Liga 2 2018. Bergabung di putaran kedua, El Loco langsung jadi mesin gol andalan hingga membawa Super Elja juara. Sekali lagi, Coach Seto diharapkan dapat mengoptimalkan pemain senior seperti Boaz. Ya, walaupun kita tahu, Boaz dan Cristian Gonzales adalah tipikal penyerang yang beda gaya dan cara bermain. 

Dengan perjalanan karier yang begitu panjang sejak 2004, Kakak Bochi diharapkan bisa menularkan pengalamannya pada sederet legiun muda lokal di PSS Sleman. Secara terang-terangan, dia tak ingin menjadi penghambat bagi perkembangan karier segenap pemain mudah PSS yang sedang merekah. Irkham Milla, Todd Ferre, Saddam Ghafar, sampai Hokky Caraka harus bisa menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari sang legenda.

Sekaligus mengakhiri tulisan ini, mari bersama bernyanyi “Boaz Solossa, cetaklah gol ke gawang lawanmu!”

Penulis: Taufiq Prasetya

Editor: Yamadipati Seno 

BACA JUGA PSS Sleman di Titik Nadir.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version