Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Trik Merespons Collector Menyebalkan dan Sok Galak yang Tagih Pinjaman via Telepon

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
23 November 2020
A A
Trik Merespons Collector Menyebalkan dan Sok Galak yang Tagih Pinjaman via Telepon terminal mojok.co

Trik Merespons Collector Menyebalkan dan Sok Galak yang Tagih Pinjaman via Telepon terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi saya, penagih atau collector pinjaman online yang suka menagih dengan menghalalkan berbagai cara itu menyebalkan. Lantaran sering kali mengganggu kenyamanan orang lain yang, bahkan tidak ada hubungannya dengan si peminjam.

Bermodalkan nomor hape kita ada di hape si peminjam, kita langsung di SMS, bahkan tak jarang ditelepon untuk mengingatkan si peminjam agar membayar kewajibannya.

Hal tersebut juga saya alami sebagai HRD. Serius. Hampir selalu saya mendapat telepon dari para collector berulang kali. Tujuan mereka menelepon kepada saya sebagai salah satu HRD perusahaan, tentu saja bukan untuk menanyakan lowongan kerja yang tersedia atau tahap lanjutan dari suatu proses perekrutan karyawan. Melainkan untuk menagih pinjaman yang kata collector-nya, dilakukan oleh karyawan.

Ada yang bertanya secara baik-baik. Ada juga yang sejak awal sudah ngegas. Malesin. Bahkan, nggak sedikit juga collector yang menggunakan kata-kata atau ungkapan merendahkan. Beberapa kata template yang sering saya terima, di antaranya:

“Hey, babu. Saya mau minta data si Yanto (nama samaran). Cepat! Dia punya utang sudah menumpuk!”

“Hey, jongos. Kasih tahu ke si Mamat (nama samaran) karyawan kau yang goblok itu, segera bayar pinjamannya! Ditelepon, malah kabur-kaburan melulu.”

Mau bagaimanapun respons yang saya berikan, selalu salah bagi para collector.

Saat saya jawab, “Iya, nanti akan diinfokan ke yang bersangkutan”. Jawaban dari collector selalu saja, “Halah, kau jangan iya-iya aja. Cepat infokan sekarang juga. Saya tunggu. Kalau perlu, telepon ini nggak usah ditutup!”

Baca Juga:

Bank Digital Jangan Terlalu Diglorifikasi karena Nyatanya Nggak Selalu Lebih Menguntungkan dari Bank Konvensional

Meminjamkan Shopee PayLater ke Orang Lain: Seni Menyusahkan Diri Sendiri

Pada kesempatan lain, ketika saya menjawab, “Karyawan tersebut sudah resign, jadi sudah di luar kuasa kami.” Si collector malah merespons, “Nggak usah lah kau sembunyikan dia. Dibayar berapa kau sama dia? Jadi jongos aja belagu kali kau!”

Setelah kejadian ini saya alami berkali-kali, ada beberapa hal yang saya soroti.

Pertama, sebagai sesama karyawan, mohon sekali, jika melakukan pinjaman, apalagi secara online, sebisa mungkin bayar tepat waktu untuk meminimalisir hal-hal yang tidak menyenangkan. Kalaupun belum bisa, selesaikan secara personal. Jangan bawa-bawa perusahaan. Kalau seisi kantor tahu, berpotensi jadi bahan gibah. Tentu akan menjadi sesuatu yang tidak nyaman.

Kedua, ini collector pinjaman online yang menagih via telepon kenapa selalu ngegas dan marah-marah, sih? Serius, nggak bikin saya takut sama sekali. Saya malah keheranan sekaligus merasa lucu. “Ini orang kenapa ujug-ujug marah begini, sih?” itu yang selalu saya pikirkan selama ini.

Para collector yang menghubungi saya, hampir semuanya memiliki ciri serupa dengan logat tertentu. Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk menyamakan logat dengan mereka. Pikir saya, barangkali jika menggunakan logat yang sama, rasa saling memiliki karena merasa dari satu daerah pun jadi semakin kental gitu.

Suatu ketika, lagi-lagi saya mendapat telepon dari seorang collector yang menagih utang dengan cara kurang menyenangkan.

“Bodat! Cepat kasih tahu si Lambe (nama samaran), suruh bayar utangnya! Ku tunggu, ya. Nggak usah banyak cakap. Ku tumbuk nanti kepala kau, ya.”

Dengan ketenangan yang mumpuni dan karena sudah belajar dari istri saya yang memiliki logat serupa, saya memberanikan diri merespons collector tersebut.

“Heh! Lantam kali mulut kau, ya. Dari mana kau rupanya? Baik-baik kau kalau mau nelepon aku!”

Tanpa saya duga, nada bicara si collector pun berubah drastis. Dari yang sebelumnya ngegas, jadi sedikit lebih sopan.

“Eh, Abang dari mana rupanya? Tinggal di mana Abang di Jakarta? Berkawan lah kita, Bang.”

Setelah itu, saya langsung menjawab dengan lugas, “Nggak perlu kau tahu asalku dari mana. Jangan laju kali mulut kau lain kali, ya. Buat malu aja kau.” Tidak lama kemudian, teleponnya ditutup.

Hmmm. Saya pikir, boleh juga cara ini digunakan. Bukan untuk melindungi seseorang yang memiliki kewajiban bayar utang, melainkan untuk mengakhiri percakapan yang nggak penting-penting amat dengan para penagih pinjaman online yang menyebalkan dan sering kali galak.

Kali lain, saya dihubungi kembali oleh collector yang awalnya sok-sok ngegas sekaligus mengancam.

“Heh, budak perusahaan! Aku nggak peduli kali jabatan kau apa. Cok kabari temanmu di kantor itu, suruh si Jumadi (nama samaran) bayar tunggakan. Dah berapa bulan ini!”

Tentu saja saya sudah memiliki cukup pengalaman menghadapi lagu lama ini dan betul-betul siap merespons dengan cara serupa.

“Ku dengarkan dari awal lantam kali mulut kau, ya? Nggak bisa sopan sikit kau?” jawab saya sambil menahan tawa. Di luar dugaan, kemudian ia langsung menjawab,

“Nggak gitu lah, Bang. Awak lagi kerja, Bang. Kan kita sama-sama dari daerah, bantu lah adek sikit, Bang. Dah berapa lama Abang di Jakarta, Bang?”

Spontan saya langsung menjawab, “Nggak perlu tahu kau dah berapa lama aku di Jakarta. Yang sopan sikit, lah.”

Tidak lama kemudian, lagi-lagi teleponnya ditutup. Rasanya nggak berlebihan jika pada akhirnya saya berpikir bahwa cara yang sudah dilakukan terbilang ampuh untuk meredam collector yang nyebelinnya naudzubillah setan itu.

Barangkali, dalam waktu mendatang, ada cara lain yang lebih baik dalam menagih utang secara online. Selain yang melakukan pinjaman pun harus memiliki kesadaran diri untuk melakukan tanggung jawabnya masing-masing.

BACA JUGA Dua Sisi Pinjaman Online: Antara Pencairan Mudah dan Data Pribadi yang Dikorbankan dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 November 2020 oleh

Tags: dept collectorpinjaman online
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Meminjamkan Shopee PayLater ke Orang Lain: Seni Menyusahkan Diri Sendiri

Meminjamkan Shopee PayLater ke Orang Lain: Seni Menyusahkan Diri Sendiri

4 Juni 2023
Bank Digital Jangan Terlalu Diglorifikasi karena Nyatanya Nggak Selalu Lebih Menguntungkan dari Bank Konvensional

Bank Digital Jangan Terlalu Diglorifikasi karena Nyatanya Nggak Selalu Lebih Menguntungkan dari Bank Konvensional

17 Mei 2024
pinjaman online

Dua Sisi Pinjaman Online: Antara Pencairan Mudah dan Data Pribadi yang Dikorbankan

28 Juli 2019
menagih utang tips agar tak kena denda karena telat bayar utang kuhperdata mojok.co membyara utang nagih utang tukang tagih

Tutorial Menagih Utang yang Baik dan Benar

18 Juli 2019
Bagi Saya, Akulaku Adalah Platform E-Commerce yang Sangat Buruk Keamanannya terminal mojok.co

Bagi Saya, Akulaku Adalah Platform E-Commerce yang Sangat Buruk Keamanannya

11 Agustus 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

Honda Odyssey: Mobil Indah, tapi Jalan Nasibnya Tak Mudah

11 April 2026
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026
8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya (Wikimedia Commons)

8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya

10 April 2026
SGPC Bu Wiryo Tempat Makan Alumni UGM Sukses, Mahasiswa Aktif Nggak Sanggup Makan di Sana karena Mahal Mojok.co

SGPC Bu Wiryo Tempat Makan Alumni UGM Sukses, Mahasiswa Nggak Sanggup Makan di Sana karena Mahal

11 April 2026
Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa Mojok.co

Jadi PNS di Desa Tidak Bisa Hidup Tenang, Tuntutan Sosialnya Tinggi karena Dikira Mapan dan Serba Bisa

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung
  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.