Yang perlu kamu ketahui tentang trail run, olahraga lari yang nggak bikin bosen

Trail run, olahraga lari yang nggak bikin bosen (Unsplash)

Trail run, olahraga lari yang nggak bikin bosen (Unsplash)

Sekarang ini banget, ada satu turunan dari olahraga lari yang lagi populer banget. Namanya trail run. 

Seperti namanya, trail run adalah olahraga lari yang (biasanya) di alam terbuka. Misanya kayak perbukitan, pegunungan, hutan, atau di jalur-jalur tanah alami. 

Kata orang, trail run jelas lebih berat ketimbang lari biasa. Kita harus lari di medan yang nggak rata, bahkan menembus hutan. Ketahanan fisik benar-benar diuji ketika trail run. Makanya, persiapannya harus ekstra, dan peralatannya (gear) juga nggak boleh asal-asalan.

Biar informasi ini makin manteb buat kamu, saya ngobrol sama dua kawan saya, Heldy dan Zidan. Mereka berdua cukup sering ikut event lari, termasuk trail run. 

Latihan dan persiapan intens selama 2-3 bulan sebelum ikut event trail run

Persiapan jadi hal yang krusial kalau mau trail run. Ini menentukan apakah kita nanti layak dan mampu ikut atau nggak. Dan, persiapannya juga nggak bisa mepet. Kalau bisa harus jauh-jauh hari. Biar badan nggak kaget, dan biar terbiasa nantinya.

“Mulai latihan 2-3 bulan sebelum event. Meskipun sudah punya fondasi lari, harus tetap persiapan. Tapi kalau sudah punya fondasi, 2-3 bulan terakhir dipakai untuk menambah porsi latihan aja. Jadi yang biasanya rata-rata 30-40 km per minggu, tambah sampai rata-rata 50 km per minggu,” ujar Zidan.

Menurut Zidan, latihan dan persiapan trail run nggak melulu harus latihan di gunung atau bukit. Latihan di jalan (road) juga bisa untuk melatih endurance. 

“Latihan di gunung untuk latihan elevasi. Nah, itu ada namanya fase peak training atau latihan puncak menjelang race. Kemudian lanjutkan dengan tapering, yaitu menurunkan volume/intensitas latihan secara bertahap sampai race.” lanjut Zidan,

Selain persiapan, pemanasan juga jadi aspek krusial. Di hari event trail run, pemanasan jadi hal wajib. Pemanasannya harus benar dan nggak boleh ngasal. Kalau nggak benar dan ngasal, risikonya bukan hanya gagal finish, tapi juga cedera. Pemanasannya juga nggak ribet, kok. 

“Warming up normal saja, seperti stretching mulai dari tangan dan lebih fokus ke kaki. Lalu setelah itu lanjut warming up dinamis. Sudah,” ujar Heldy.

Gear untuk trail run

Selain persiapan dan pemanasan, peralatan (gear) juga memegang peranan penting. Gear ini meliputi sepatu, kaos kaki, jersey, jaket windbreaker, topi, dan sebagainya. Karena medan trail run ini lebih ekstrem ketimbang lari biasa, maka gear-nya juga sedikit lebih berbeda.

Misalnya, sepatu road run dan trail run itu beda. Bedanya, sepatu trail run punya grip di bagian bawah untuk melawan medan yang nggak rata. Untuk harganya, berbeda-beda tergantung merek dan teknologinya. Lalu soal jersey, kaos kaki, jaket windbreaker, dan peralatan lain ya tinggal menyesuaikan dengan kenyamanan masing-masing saja. 

“Hindari race menggunakan sepatu baru karena berpotensi nggak nyaman di kaki, bahkan sampai blister (lecet). Kaos kaki juga gitu. Pakai yang sudah pernah dipakai saja” ujar Zidan. “Kalau jersey, aku lebih senang yang lengan panjang, menghindari kena ranting pohon waktu trail run.” lanjut Zidan. 

“Lalu kalau soal harga gear, mulai dari sepatu, HOKA Speedgoat itu ada yang 1 jutaan. Itu sudah bagus banget. Kalau yang saya pakai mulai dari jersey dan celana kisaran 200 ribuan. Kaos kaki 50 ribuan. Ada vest (Salomon Adv Skin 12) sekitar 2,5 juta. Topi 200 ribu, kacamata 150 ribu, jaket windbreaker (Arcteryx, bekas) sekitar 500 ribu. Ada tambahan untuk kelengkapan lain kayak P3K, jas hujan kresek, energy gel, dan protein bar. Oh iya, ada trekking pole sepasang harganya 400 ribu.” ujar Heldy.

Heldy juga bilang bahwa gear yang dia pakai nggak bisa jadi patokan. Apalagi terkait harga. Ada gear yang harganya mungkin bisa lebih murah dan lebih terjangkau. Sekali lagi, kalau untuk gear sebaiknya menyesuaikan budget saja. Beda orang beda kemampuan. 

Gabung komunitas dan ikut event

Sayangnya, Heldy dan Zidan bukan tipe pelari yang berkomunitas. Mereka kalau mau lari, ya lari saja sendiri, nggak perlu nunggu komunitas. 

Tapi, mereka berdua punya banyak teman di komunitas lari. Ketika saya tanya apakah harus gabung komunitas, jawaban keduanya sama: nggak ada keharusan gabung komunitas. 

“Gabung komunitas itu biar punya teman saja, apalagi kalau pas event. Biar nggak sendiri. Di komunitas, informasinya (terkait event) biasanya lebih banyak. Itu saja. Kalau aku, sih, merasa nggak perlu ikut komunitas. Gini aja sudah cukup,” ujar Zidan.

Selain itu, saya juga tanya tentang bagaimana cara ikut event trail run dan berapa biayanya. Heldy menjawab bahwa cara ikut event itu gampang banget. Tinggal daftar di web/laman yang sudah disediakan penyelenggara. Sistem seleksinya saja yang berbeda-beda.

“Ada yang pakai sistem ballot, ada juga yang pakai sistem kualifikasi tertentu. Tergantung pihak penyelenggara, lah. Tujuannya untuk memfilter peserta agar bisa dikatakan layak. Untuk biayanya macam-macam. Saya kemarin event Mantra 116 kategori 38 KM ada di harga Rp1.700.000 include tax, itu harga normal.” ujar Heldy.

Zidan lalu menambahkan bahwa kisaran biaya untuk ikut event trail run memang bermacam-macam, tapi rata-rata sudah Rp500 ribu ke atas. Tentunya tergantung kategori dan jenis event yang diikuti. “Event trail run sekarang banyak, tinggal pilih saja, cari di sosmed. Tapi tak wanti-wanti, harus tetap hati hati dengan maraknya event bodong.” tambah Zidan.

Intinya, kalau mau ikut trail run itu gampang banget. Tinggal latihan dan persiapan yang konsisten, lalu cari gear yang sesuai dengan budget dan kenyamanan. Kalau mau ikut event, ya tinggal cari informasi eventnya, daftar, bayar, ikut, deh. Gimana? Kalian sudah tertarik buat ikut atau seenggaknya mencoba trail run?

Penulis: Iqbal AR

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Olahraga Lari itu Sederhana, Kamu Sendiri yang Bikin Rumit

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version