Tradisi lek-lekan di hajatan pernikahan diam-diam bikin biaya bengkak 

Tradisi lek-lekan di hajatan perkawinan diam-diam bikin biaya bengkak  Mojok.co

Tradisi lek-lekan di hajatan perkawinan diam-diam bikin biaya bengkak  (unsplash.com)

Dalam hajatan pernikahan, ada satu jenis pengeluaran yang sering luput dari perhatian karena nominalnya tidak langsung terasa besar. Namanya tradisi lek-lekan.

Tradisi begadang bersama menjelang atau selama hajatan ini memang terdengar sederhana. Hanya duduk, ngobrol, ngopi, makan camilan, lalu menemani keluarga yang sedang punya hajat.

Akan tetapi, kalau dihitung secara jujur, lek-lekan bisa berubah menjadi lubang kecil yang terus menguras anggaran. Masalahnya bukan karena lek-lekan merupakan tradisi yang buruk. Masalahnya adalah tradisi ini sering diperlakukan seperti kebutuhan wajib.

Ketika hajatan digelar, lek-lekan seolah otomatis harus tersedia. Akhirnya, keluarga yang sedang punya hajat harus menyiapkan berbagai kebutuhan tambahan yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan inti acara perkawinan. Di sini pemborosan mulai terjadi.

Pengeluaran kecil lama-lama menjadi besar

Pembengkakan anggaran jarang terjadi karena satu pengeluaran yang fantastis. Justru sering terjadi karena banyak pengeluaran kecil yang dianggap sepele. Untuk lek-lekan misal, harus tersedia kopi, teh, gula, air mineral, rokok, gorengan, jajanan, nasi, lauk, dan berbagai konsumsi lainnya.

Belum lagi kebutuhan penerangan karena kegiatan berlangsung sampai malam, tempat duduk, perlengkapan tambahan, bahkan biaya tenaga atau kebutuhan lain yang muncul selama kegiatan. Satu pengeluaran mungkin tidak membuat dompet langsung menangis. Tetapi kalau semuanya dikumpulkan, nominalnya bisa membuat keluarga yang punya hajat mulai bertanya-tanya ke mana uang habis.

Inilah masalah utama dalam pembiayaan hajatan. Banyak orang lebih mudah menghitung biaya gedung, katering, dekorasi, atau pakaian pengantin karena nominalnya terlihat jelas. Sementara pengeluaran kecil untuk kegiatan tambahan sering dibiarkan berjalan tanpa perhitungan yang serius.

Padahal, uang tetap uang. Seribu rupiah yang keluar sepuluh kali tetap menjadi sepuluh ribu. Kalau pengeluaran kecil dilakukan puluhan bahkan ratusan kali, pembengkakannya bukan lagi kecil.

Lek-lekan hajatan sering dibayar dengan logika “sekalian”

Kata paling berbahaya dalam hajatan mungkin adalah “sekalian”. Masalahnya, “sekalian” hampir tidak pernah berhenti pada satu tambahan.

Satu kebutuhan melahirkan kebutuhan lain. Ketika jumlah orang yang datang bertambah, konsumsi pun ikut bertambah. Ketika waktu berkumpul semakin panjang, makanan dan minuman harus disediakan lebih banyak. Acara pun dibuat semakin ramai, kebutuhan pendukung ikut bermunculan.

Akhirnya, lek-lekan yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai kegiatan berkumpul berubah menjadi satu rangkaian pengeluaran yang cukup panjang. Ironisnya, semua itu sering dianggap sebagai konsekuensi normal dari hajatan.

Persoalan menjadi semakin rumit ketika lek-lekan masuk ke dalam urusan gengsi. Hajatan tetangga ramai, hajatan sendiri tidak boleh kalah. Tetangga menyediakan makanan sampai malam, keluarga sendiri merasa harus melakukan hal serupa. Kalau sebelumnya orang-orang terbiasa dengan kopi dan gorengan, sekarang konsumsi harus dibuat lebih banyak agar tidak dianggap pelit.

Tradisi kemudian bercampur dengan tuntutan sosial. Yang awalnya cukup sederhana menjadi semakin mahal karena keluarga takut dinilai kurang mampu menyelenggarakan hajatan. Akhirnya, anggaran bukan lagi disusun berdasarkan kebutuhan. Namun, berdasarkan bayangan tentang komentar orang.

Yang dibayar saat lek-lekan hajatan bukan hanya makanan, tetapi ekspektasi

Dalam banyak kasus, keluarga sebenarnya tidak sedang membayar biaya lek-lekan semata. Keluarga sedang membayar ekspektasi sosial. Semua ekspektasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi pengeluaran. Padahal, tidak semua ekspektasi masyarakat harus dipenuhi.

Kalau sebuah keluarga memiliki anggaran terbatas, memaksakan lek-lekan hanya karena takut dianggap tidak menghargai tradisi adalah keputusan yang cukup mahal. Apalagi kalau setelah hajatan selesai, keluarga masih harus menanggung berbagai kebutuhan lain. Tradisi akhirnya bukan lagi menjadi bentuk kebersamaan. Namun, justru menjadi biaya sosial yang harus dibayar agar tidak menjadi bahan omongan.

Bagian paling menyedihkan dari pembengkakan anggaran hajatan adalah ketika acara sudah selesai, tetapi tagihannya masih berjalan. Pernikahan hanya berlangsung sehari. Lek-lekan mungkin hanya berlangsung semalam. Namun, uang yang digunakan untuk membiayainya bisa berasal dari tabungan berbulan-bulan, bahkan utang.

Di sinilah pentingnya membedakan antara kebutuhan dan kebiasaan. Apakah lek-lekan benar-benar diperlukan? Atau hanya diadakan karena sejak dulu hajatan memang seperti itu?

Kalau sebuah tradisi membuat keluarga mengeluarkan uang yang sebenarnya tidak tersedia, lalu harus berutang untuk menutup biaya hajatan, rasanya sudah waktunya tradisi tersebut dipertanyakan. Bukan tradisinya yang salah. Cara masyarakat memperlakukannya sebagai kewajiban yang bermasalah.

Tidak semua yang sudah biasa harus terus dibiayai

Ada kecenderungan masyarakat menganggap sesuatu harus dipertahankan hanya karena sudah dilakukan sejak lama. Lek-lekan sudah biasa. Hajatan tanpa lek-lekan dianggap aneh. Akhirnya, kebiasaan berubah menjadi kewajiban tidak tertulis.

Padahal, kondisi ekonomi masyarakat berubah. Harga kebutuhan meningkat. Biaya perkawinan semakin mahal. Kebutuhan keluarga setelah menikah juga tidak sedikit. Dalam situasi seperti itu, mempertahankan seluruh rangkaian tradisi tanpa mempertimbangkan biaya justru tidak masuk akal.

Tradisi boleh dipertahankan. Namun, anggarannya tetap harus masuk akal. Jangan sampai karena ingin terlihat guyub, keluarga justru pulang membawa beban finansial.

Pada akhirnya, lek-lekan hajatan adalah pilihan. Kalau sebuah keluarga mampu dan ingin mengadakannya, tidak ada persoalan. Namun, kalau sebuah keluarga memilih tidak mengadakan lek-lekan karena ingin menekan anggaran, keputusan tersebut juga seharusnya tidak dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap tradisi.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 5 istilah di hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version