Rokok podek poden, rokok hasil sumbangan hajatan
Biasanya, rokok hasil sumbangan ini tidak disimpan oleh tuan rumah. Tidak ditabung. Tidak dinikmati bersama keluarga.
Sebagian besar atau bahkan seluruhnya justru dijual kembali ke pengepul dengan istilah rokok poden. Harganya tentu lebih murah dari harga pasaran. Selisihnya dianggap wajar demi cepat cair.
Jadi, di satu sisi orang memaksakan diri membeli rokok mahal demi gengsi. Di sisi lain, rokok itu langsung berubah jadi uang dengan nilai lebih rendah. Yang tersisa hanyalah catatan potang dan beban balasan di masa depan bagi warga Jepara.
Tradisi Jepara yang tidak sehat dan tidak relevan
Kalau ditarik ke belakang, tradisi ini mungkin lahir dari semangat gotong royong warga Jepara. Tapi dalam praktik hari ini, ia justru melahirkan tekanan sosial, ketimpangan, dan rasa sungkan berkepanjangan.
Yang tidak merokok ikut terbebani, yang ekonominya pas-pasan tercekik, yang tidak punya hajatan seumur hidup tetap menanggung potang orang lain. Silaturahmi berubah jadi transaksi. Kebahagiaan berubah jadi cicilan.
Tapi, yang perlu diketahui adalah, tradisi tidak selalu sakral. Kalau ia sudah menyulitkan banyak orang, maka menghentikannya bukan pembangkangan, tapi pembaruan.
Kondangan seharusnya tentang hadir, mendoakan, dan berbagi bahagia, bukan soal merek rokok, harga slop, dan catatan potang. Jepara tidak akan kehilangan identitasnya hanya karena berhenti nyumbang rokok. Tapi banyak warganya mungkin akan bernapas lebih lega.
Sebab, tidak semua yang diwariskan layak dipertahankan. Terutama kalau isinya cuma gengsi dan utang yang tidak pernah benar-benar lunas.
Penulis: Muhammad Sya’dullah Fauzi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jepara Adalah Kota Ukir, Kota yang Ahli Memahat Indah kecuali Masa Depan Warganya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




















