Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Tolak Demo dengan Demo Adalah Wujud Istimewanya Aspirasi yang Offside

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
14 Oktober 2020
A A
Tolak Demo dengan Demo Adalah Wujud Istimewanya Aspirasi yang Offside terminal mojok.co

Tolak Demo dengan Demo Adalah Wujud Istimewanya Aspirasi yang Offside terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

“Jogja istimewa bukan hanya daerahnya, tapi juga karena orang-orangnya.” Sepenggal lirik dari lagu Jogja Istimewa ini kembali terngiang di telinga saya. Lagu gubahan Jogja Hip Hop Fondation ini memang penuh dengan gambaran keistimewaan Jogja. Memang benar, Jogja istimewa karena orang-orangnya. Orang Jogja dipandang punya karakter yang istimewa daripada orang luar Jogja. Mulai dari tata bahasa yang penuh unggah-ungguh, senyum salam sapa yang jadi way to life, sampai melakukan demo untuk menolak demo.

Menolak demo dengan demo? Mungkin terdengar ironis. Mungkin terkesan punya nilai filsafat tinggi. Namun, ini terjadi pada 9 Oktober 2020, tepat sehari setelah demonstrasi penolakan Omnibus Law yang geger itu.

ADVERTISEMENT

Seperti yang dilansir kompas.com, demonstran yang mengaku sebagai pedagang kaki lima di Malioboro melakukan orasi di depan gedung DPRD. Mereka menyerukan kekecewaan atas unjuk rasa yang terjadi sehari sebelumnya. Mereka juga menyebut kerusuhan kemarin adalah aksi massa paling anarkis sepanjang sejarah gerakan sosial di Jogja. Wow.

Demonstran penolak demo ini juga membawa spanduk besar bertuliskan “Masyarakat Yogyakarta menolak demo di Malioboro.” Setelah berorasi di depan Gedung DPRD, demonstran penolak demo ini melakukan longmarch sampai ke depan Mapolresta Jogja.

Seperti biasa, saya gemas dengan dulur-dulur saya ini. Saya berusaha berpikir positif. Menurut saya, aspirasi demonstran ini bisa diterima. Namun, dari sudut pandang yang terbatas, perkara kenyamanan umum saja. Sementara sisanya terlalu offside, bahkan bagi orang yang emosinya meletup-letup.

Offside pertama, demonstrasi kemarin tidak pernah ditujukan ke Malioboro. Tidak ada nilai politis dari aksi di Malioboro. Sasaran demonstrasi adalah gedung DPRD. Kebetulan, gedung DPRD DIY berada di Jl. Malioboro, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta.

Mau tidak mau, demontrasi kemarin berimbas pada Malioboro secara keseluruhan. Jika ingin Malioboro bebas dari aksi menyuarakan aspirasi, maka gedung DPRD dan kantor Gubernur sebaiknya dipindahkan ke luar area Malioboro. Bisa ke wilayah Baciro, njeron Beteng, atau Srandakan.

Offside kedua, perkara kekecewaan karena tidak bisa berdagang saat demo. Saya rasa, menolak demo karena membuat warung tutup ini berlebihan. Mungkin, demo seperti kemarin hanya akan terjadi setiap 20 tahun sekali. Dan jika percaya pada ilmu rezeki, kalau memang rezeki tidak akan salah alamat.

Baca Juga:

Tinggal dekat Ringroad Barat itu nggak nyaman, tiap malam diteror suara blayer motor yang meresahkan

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Lagipula, para pedagang Malioboro sudah terbiasa tutup sebulan sekali. Tepatnya saat Selasa Wage, memperingati weton dari Ngarso Dalem. Tapi libur karena weton Ngarso Dalem lebih bisa diterima daripada libur karena ada warga yang ingin menyuarakan penolakan pada UU yang ngoyoworo. Istimewah!

Akan tetapi, saya bisa memaklumi kekecewaan karena kerusakan yang terjadi. Beberapa pedagang mengaku mengalami kerugian akibat aksi yang berakhir rusuh kemarin. Saya tidak akan berkomentar apa pun selain, “Rusuh dan gontok-gontokan pasti terjadi karena 2 pihak berselisih. Coba marahi juga pihak lain selain demonstran yang terlibat kerusuhan kemarin.”

Offside ketiga, penilaian terhadap level kerusuhan kemarin. Demonstran penolak demo kemarin menyatakan aksi 8 Oktober kemarin sebagai aksi massa paling anarkis sepanjang sejarah gerakan sosial di Jogja. Oke, kita sabar dulu dan pahami maksud dari kata anarkis tadi adalah kekerasan dan kerusuhan. Bukan anarkis dalam makna sebenarnya.

Masalahnya, saya lihat aksi kemarin masih lebih kalem daripada aksi yang terjadi dua dekade lalu. Tepatnya saat aksi menuntut lengsernya Soeharto. Meskipun saya baru masuk TK, tapi saya ingat betapa mencekamnya aksi massa waktu itu. Bahkan kerusakan aksi 8 Oktober kemarin terlalu kecil dibandingkan aksi reformasi di Jogja.

Namun, puncak offside dari aksi kemarin adalah apa yang dilakukan secara keseluruhan. Mereka menolak demo dengan demo. Mereka harus libur untuk menolak demo yang membuat mereka libur. Mereka melakukan aksi di lokasi yang mereka tolak sebagai lokasi demo. Bahkan mereka melakukan prosesi longmarch selayaknya demo yang mereka tolak.

Akan tetapi, saya tetap menemukan keistimewaan Jogja dari aksi yang ironis kemarin. Seperti lirik lagu Jogja Istimewa. Jogja memang istimewa karena orang-orangnya, termasuk demonstran penolak demo kemarin. Saking istimewanya, mereka bisa menolak demo dengan demo. Seperti melawan api dengan api.

Saking istimewanya, ini terjadi tepat sehari setelah demo sebelumnya. Tidak hanya pedagang Malioboro yang istimewa. Saya merasa, penyedia jasa printing spanduk juga sama istimewanya. Dalam waktu kurang dari 24 jam, spanduk penolakan telah siap dikibarkan.

Dan sebagai penutup, saya ingatkan sekali lagi: saya KTP Jogja dan warga asli Jogja lho, Lur. Bukan apa-apa, anggap saja penutup manis dari artikel yang kecut ini.

BACA JUGA Mengenal Ego-Resiliensi: Melawan Trauma Pasca Demonstrasi Omnibus Law dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2020 oleh

Tags: DemoJogjaMalioboroomnibus law
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Dari Jogja Pindah Minang, “Dipaksa” Makan Nasi Padang Tiap Hari (Unsplash)

Nasib Mahasiswa Pertukaran dari Jogja ke Padang ketika Setiap Hari “Dipaksa” Menikmati Sedapnya Nasi Padang

29 Maret 2024
Jogja Aneh, Membiarkan Tukang Becak Mati dalam Kemiskinan (Unsplash)

Dosa Jogja kepada Tukang Becak Tradisional: Becaknya Dianggap Warisan Budaya, tapi Pengemudinya Dibiarkan Menua, Lalu Mati dalam Kemiskinan

21 Mei 2026
Jalan DI Panjaitan Mantrijeron, Perbatasan Jogja-Bantul yang Bikin Sakit Kepala

Jalan DI Panjaitan Mantrijeron, Perbatasan Jogja-Bantul yang Bikin Sakit Kepala

7 Oktober 2024
Driver GoCar di Jogja Adalah Driver Terbaik di Indonesia, No Debat!

Driver GoCar di Jogja Adalah Driver Terbaik di Indonesia, No Debat!

3 Desember 2023
J-Walk Mall Jogja Bikin Kapok Pengunjung yang Datang

J-Walk Mall Jogja Bikin Kapok Pengunjung yang Datang

22 Februari 2024
Nggak Cuma di Jogja: Ternyata, Malioboro Punya Cabang di Beberapa Kota terminal mojok.co

Nggak Cuma di Jogja: Malioboro Juga Punya Cabang di Beberapa Kota

8 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

2 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026
5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu pindah ke Salatiga (Unsplash)

5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu banget mau pindah ke Salatiga

2 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026
Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026
Cikarang Menyimpan Salah Paham yang Bikin Iri sama Jakarta (Unsplash)

Di balik gaji besar operator industri di Kawasan Industri Cikarang, ada harga mahal yang harus dibayar

4 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.