Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Tingkat Egaliter Seseorang Diukur dari Tempat Duduknya

Mukhammad Nur Rokhim oleh Mukhammad Nur Rokhim
30 Desember 2020
A A
Tingkat Egaliter Seseorang Diukur dari Tempat Duduknya Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Sebuah ungkapan klasik yang sering kita dengar mengatakan, “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.” Jika bicara relevansinya, tentu peribahasa itu cukup relevan. Ketika seseorang duduk akan terlihat sama rendahnya, begitu juga saat berdiri juga nampak sama tingginya. Jika kita bicara kesetaraan, tentu lebih memilih berdiri sama tinggi. Memang benar bahwa saat seseorang berdiri tinggi badannya berbeda, tetapi secara tingkatan dianggap sama. Hal ini justru berbeda dengan duduk. Saat seseorang duduk, ternyata malah menampakkan perbedaannya. Perbedaan tersebut salah satunya nampak dari alat atau tempat duduknya. Semakin bagus tempat duduknya, maka semakin tinggi kedudukannya.

Istilah tempat atau alat untuk duduk disebut dengan kursi. Pada umumnya, kursi dicirikan dengan benda yang memiliki empat kaki penyangga yang menopang alas duduk serta ada penyangga pundak yang sejajar dengan dua kaki belakangnya.

Definisi tersebut mungkin bisa disepakati bersama menurut bahasa Indonesia, tetapi dalam bahasa Jawa, mendefinisikan tempat duduk tidak semudah itu. Hal ini karena ada banyak sekali tempat duduk dan sebutannya dalam bahasa Jawa. Penyebutan tersebut sekaligus menandakan tingkat egaliter orang-orang yang mendudukinya.

Pertama adalah lesehan. Sebenarnya lesehan ini adalah posisi duduk, bukan tempat duduk. Alas duduk lesehan bermacam-macam sehingga tidak mungkin untuk dibakukan dalam satu alat saja. Alas duduk lesehan biasanya berupa karpet, tikar, daun, bahkan sandal bisa jadi alas duduk atau mungkin tidak memakai alas duduk sama sekali.

Orang yang suka duduk lesehan biasanya memiliki jiwa egaliter yang tinggi. Mereka memiliki sifat tenggang rasa, karena dalam kondisi dan situasi apa pun kedudukannya tetap sama. Saat duduk bersila, selonjoran, sekalipun tiduran, ada perasaan sama bahwa mereka duduk sejajar dan dalam posisi yang sama rata, sama rasa.

Tempat duduk kedua adalah dhingklik. Dhingklik adalah tempat duduk yang terbuat dari selembar papan berukuran kecil, kira-kira 30 cm x 15 cm, dengan dua penyangga yang memiliki tinggi proporsional. Dhingklik merupakan tempat duduk yang sederhana, sampai-sampai ada ungkapan yang mengatakan “wong cilik lungguhe dhingklik” atau rakyat itu duduk di dhingklik.

Sebenarnya, keberadaan dhingklik merupakan sebuah sarana interaksi yang terbuka dan egaliter setelah lesehan. Ketika beberapa orang sudah berkumpul dalam forum dhingklik, biasanya mereka akan membaur dan merasa sama. Kalau orang-orang di desa, biasanya mereka duduk menggunakan dhingklik di sekitar tungku untuk menghangatkan tubuh sambil ngopi atau sekadar ngobrol sana-sini.

Saya masih ingat beberapa waktu yang lalu saya pergi jagong bersama teman-teman. Pembahasan kami pun bermacam-macam mulai dari vaksinasi, kuliah daring, pilkada serentak, bahkan sampai urusan mancing pun jadi bahan diskusi asik dan penuh canda tawa di forum dhingklik.

Baca Juga:

Jangan Pesan 3 Kursi Ini Saat Naik Bus Mila Sejahtera kalau Mau Nyaman Sepanjang Perjalanan

Jangan Pesan 5 Tempat Duduk Ini Saat Naik Kereta Api Ekonomi AC

Walaupun terkesan sederhana, dhingklik sebenarnya juga mengajarkan etika. Dalam mengatur posisi duduk, seseorang diwajibkan mampu beradaptasi dengan keadaan. Tidak boleh duduk mengangkang atau selonjoran sehingga menghalangi orang lain. Duduk yang pas adalah sewajarnya dan luwes. Inilah yang menjadi pegangan hidup bahwa kebebasan maupun sikap egaliter itu hendaknya jangan terlalu bebas, tetapi juga ada beberapa patokan yang perlu diperhatikan.

Tempat duduk yang ketiga adalah lincak. Jika digambarkan, lincak memiliki bentuk seperti dhingklik, tapi lebih panjang dan besar. Jika kaki penyangga dhingklik cukup dua, maka kaki penyangga lincak dibuat empat bagian. Kita bisa menemui lincak sebagai tempat duduk di warung makan, angkringan, maupun warung kopi pinggir jalan.

Jika kita bandingkan dengan dhingklik, orang-orang yang duduk di lincak tidak sebebas mereka yang duduk di dhingklik. Kesamaan antara egaliternya orang yang duduk di dhingklik dan lincak angkringan adalah serba luwes. Apa saja yang disampaikan tidak kaku dan mengalir begitu saja. Mulai dari aspek politik, ekonomi, bahkan urusan skripsi yang tidak kunjung kelar menjadi bahan pembicaraan.

Hal yang membedakan adalah obrolan-obrolan yang menjadi buah bibir di masyarakat biasanya lebih serius, walaupun diselingi oleh guyonan. Di sinilah biasanya muncul jarak agar obrolan santai tetap hangat, serta menghindari perpecahan yang mungkin muncul dari kesalahpahaman.

Tempat duduk yang keempat adalah kursi. Seperti yang sudah disampaikan, kursi sangat berbeda dengan lincak maupun dhingklik. Kursi adalah simbol kesempurnaan dan kenikmatan dalam duduk. Selain unsur kenikmatan, kursi merupakan simbol etika tinggi dan kekuasaan.

Biasanya, kursi memiliki relasi dengan meja. Keduanya mencerminkan sikap-sikap formal dan “kaku” dalam berkomunikasi lantaran hanya ada di beberapa tempat seperti ruang tamu, ruang rapat, dan sebagainya. Di sinilah mulai nampak perbedaan bahwa privasi dalam berbicara sangat diperhatikan.

Dalam posisi duduk misalnya, seseorang yang berada di kursi tidak boleh duduk jegang karena dianggap tidak sopan. Tidak hanya posisi kaki saja, dalam mengatur posisi tempat duduk pun ada pembedanya. Dalam forum-forum resmi, kursi VVIP pasti memiliki posisi dan fasilitas yang berbeda dengan kursi biasanya. Jika posisi kursi makin ke belakang, maka kedudukan seseorang semakin berbeda.

Sebagai simbol kekuasaan, kursi melambangkan derajat atau pangkat dalam pemerintahan. Orang yang mampu menduduki kursi ini bukan sembarang orang, yakni hanya orang-orang terpilih saja yang bisa duduk di atasnya. Dari atas kursi tersebut, mereka bisa memerintahkan siapa yang duduk di bawahnya. Maka, sering kita mendengar kompetisi orang-orang yang menginginkan kursi kekuasaan itu.

Sikap egaliter atau tidak, sebenarnya merupakan sebuah relativitas saja. Artinya ada juga yang memiliki “kursi bagus”, tetapi sikapnya merakyat seperti “lincak” atau “dhingklik”. Sayangnya, jarang sekali orang yang bersikap demikian, apalagi setelah duduk di kursi kemudian duduk di dhingklik atau lesehan. Hanya mereka yang memahami penyifatan tempat duduk saja yang mampu menjalankan sikap egaliter tak berbatas.

BACA JUGA Pandawa Adalah Simbol Yin-Yang, Mengajarkan Keseimbangan dalam Diri Manusia dan tulisan Mukhammad Nur Rokhim lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Desember 2020 oleh

Tags: tempat duduk
Mukhammad Nur Rokhim

Mukhammad Nur Rokhim

Juru Pikir di Pendhapa Kabudayan.

ArtikelTerkait

Kasta Tempat Duduk di Angkot yang Perlu Dicoba Terminal Mojok

Kasta Tempat Duduk di Angkot yang Perlu Kamu Coba

23 Februari 2022
Kasta Tempat Duduk di Stadion Sultan Agung Bantul terminal mojok.co

Kasta Tempat Duduk di Stadion Sultan Agung Bantul

6 Januari 2022
Jangan Pesan 3 Kursi Ini Saat Naik Bus Mila Sejahtera kalau Mau Nyaman Sepanjang Perjalanan

Jangan Pesan 3 Kursi Ini Saat Naik Bus Mila Sejahtera kalau Mau Nyaman Sepanjang Perjalanan

15 September 2025
Jangan Pesan 5 Tempat Duduk Ini Saat Naik Kereta Api Ekonomi AC Terminal Mojok.co

Jangan Pesan 5 Tempat Duduk Ini Saat Naik Kereta Api Ekonomi AC

24 Maret 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

24 Februari 2026
Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

23 Februari 2026
Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar Mojok.co

Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar

21 Februari 2026
Yamaha NMAX, Motor yang Tidak Ditakdirkan untuk Dimodifikasi Mojok.co

Yamaha NMAX, Motor Gagah tapi Biaya Merawatnya Sama Sekali Tak Murah

25 Februari 2026
Ilustrasi Bus Bagong Berisi Keresahan, Jawaban dari Derita Penumpang (Unsplashj)

Di Jalur Ambulu-Surabaya, Bus Bagong Mengakhiri Penderitaan Era Bus Berkarat dan Menyedihkan: Ia Jawaban dari Setiap Keresahan

20 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”
  • Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya
  • Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun
  • Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga
  • Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik
  • 8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.