Informasi
ADVERTISEMENT

Tinggal di rumah mertua murah secara biaya, tapi mahal secara mental karena terlalu banyak dinamikanya

Tinggal di rumah mertua murah secara biaya, tapi mahal secara mental karena terlalu banyak dinamikanya Mojok.co

Setelah menikah, impian paling klise dari setiap pasutri baru adalah punya rumah sendiri. Tidak tinggal bareng orang tua, ataupun bersama mertua. Sesederhana supaya bisa berdaulat penuh atas tata letak perabotan, kendali dapur hingga nantinya pengasuhan atas anak.

Cuma, kenyataan seringkali berseberangan. Ada alasan-alasan tertentu yang membuat seseorang terpaksa mengurungkan niat untuk hidup mandiri setelah menikah. Bisa karena kondisi ekonomi yang memang belum mampu beli rumah, atau bisa juga atas pertimbangan kemanusiaan. Misalnya, kondisi orang tua yang sudah lanjut usia dan butuh untuk ditemani. Alhasil, opsi ‘numpang’ atau tinggal bersama mertua pun harus diambil.

Nah, fase tinggal bersama mertua ini nih yang seringkali melahirkan begitu banyak cerita. Bukan hanya cerita suka, tapi juga duka. Saya juga kerap mendengarnya dari orang-orang yang ada di sekitar saya.

Tinggal di rumah mertua dijamin tetap bisa makan meski duit pas-pasan

Kalau bicara soal enaknya tinggal bersama mertua, banyak yang bilang kalau tinggal bersama mertua itu murah. Masuk akal, sih. Soalnya kan kita jadi nggak perlu lagi memikirkan bayar listrik atau beli beras. Semua itu sudah dibayarkan oleh mertua tercinta.

Paling-paling, sebagai bentuk tanggung jawab moral, sekaligus untuk meringankan rasa tidak enak karena sudah menumpang, kita menyisihkan beberapa persen dari gaji untuk diberikan kepada mereka. Yah, semacam pengganti uang dapur. Walaupun pada praktiknya, ada saja mertua yang menolak pemberian tersebut. Biasanya mereka akan bilang, “Udah, duitnya ditabung saja.”

Jadi kalau dihitung-hitung, benar saja kalau tinggal bersama mertua ini menang banyak. Terlebih ketika ketemu dengan situasi sulit. Tanggal tua dan nggak ada duit, misalnya. Hidup bareng mertua bisa terasa seperti penyelamat. Soalnya, kita tetap bisa makan 3 kali sehari tanpa khawatir.. Bayangkan kalau memilih hidup mandiri, apa ya nggak gigit jari?

Belum kalau bicara soal pengasuhan anak. Keberadaan mertua di rumah bisa jadi lifesaver karena bisa bantu untuk handle anak-anak saat kita sedang repot ataupun capek.  

Nggak usah beli gas, nggak mikir beli beras, anak juga ada yang bantuin jaga, lalu cobaannya dimana? Jawabannya adalah di kesehatan mental.

Harga yang harus dibayar

Harus diakui, tinggal bersama dengan orang tua kandung dan tinggal bersama mertua itu berbeda. Kalau tinggal bareng orang tua sendiri, batas-batas toleransinya teras lebih longgar. Kita enak-enak aja gitu misalnya mau protes soal menu masakan, pulang malam, atau mager sepanjang hari.

Sebaliknya, ketika kita menumpang di rumah mertua, muncul rasa ewuh pekewuh atau tidak enak. Rasanya tuh tiap gerak-gerik kita seperti sedang diawasi. Padahal ya (mungkin) nggak. Namun, entah kenapa suasananya seperti itu. Mulai dari cara kita merapikan rumah, mendidik anak, sampai jam berapa bangun tidur, kayaknya tuh harus hati-hati banget.

Bangun siang dikit, ngerasa waswas. Rumah berantakan sedikit, langsung nggak enak. Apalagi kalau salah ngomong, wah, langsung keringat dingin, takut banget dijadikan bahan sindirian di rumah atau dibawa-bawa saat belanja di tukang sayur. Alhasil, hari-hari selalu pasang mode waspada. Tenggorokan jadi sering tercekat, asam lambung sering naik dan hawanya selalu deg-degan. Khas banget dengan ganguan mental.

Sialnya, gangguan kesehatan mental ini bukan monopoli milik mereka yang mertua galak saja. Bahkan saat kita bernasib mujur dan dikaruniai mertua yang baik hati pun, gangguan mental itu tetap ada. Cuma beda bentuk aja.

Punya mertua baik tak lepas dari cobaan

Seperti yang terjadi pada salah satu kenalan saya. Dia bilang mertua dia baik. Nggak pernah marah, kalau ngomong soft spoken, sering belikan dia jajan, dan lain sebagainya. Cuma, saking baiknya, kawan saya ini jadi berat untuk mengimbangi. Seringkali ia justru merasa tersiksa karena standar kebaikan yang diperlihatkan mertuanya terlalu tinggi. Mau nggak mau dia selalu berusaha untuk tampil sempurna, menjaga sikap, dan membalas setiap gestur baik tersebut dengan takaran yang setimpal. Sungguh melelahkan.

Makin repot kalau kebaikan mertua sudah mencapai level yang luar biasa. Baiknya bukan cuma baik ke keluarga sendiri, tapi juga ke semua orang. Ya, bagus sih. Tapi kalau kebaikannya disebar ke luar tanpa memperhitungkan energi, waktu dan privasi orang rumah kan jadi gimana gitu. 

Orang rumah bakalan kebagian repotnya karena rumah selalu ramai dengan urusan orang lain. Sementara kita sebagai menantu hanya bisa mengelus dada. Hilang sudah satu kesempatan untuk istirahat dengan tenang setelah seharian lelah bekerja.

Begitulah. Dinamika tinggal bersama mertua ini lagi-lagi mengingatkan kita bahwa hidup adalah serangkaian pilihan. Mau hidup mandiri atau numpang di rumah mertua, keduanya sama-sama punya konsekuensi. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia yang pintar-pintar menyiasati.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 September 2026 oleh .

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.