Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Buku

Belajar tentang Penerimaan Diri dan Pilihan untuk Bangkit dari The Poz Says OK

Rezha Rizqy Novitasary oleh Rezha Rizqy Novitasary
12 November 2021
A A
the poz says ok
Share on FacebookShare on Twitter

“Kejujuran sejatinya adalah obat yang mujarab.”

Kutipan tersebut terus terngiang di kepala saya seusai membaca buku The Poz Says OK. Menggelitik hati saya lebih dalam. Mengingat sebagian kita selalu bersikap denial terhadap apa yang kita alami. Mencoba menutupi identitas diri dan apa yang kita rasakan nyatanya tak selalu berakibat baik. Saya setuju terhadap pernyataan penulis, jujur terhadap diri dan orang lain, sejatinya adalah kesembuhan yang mujarab.

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Amahl S. Azwar, seorang Poz. Poz sendiri merujuk pada pengidap HIV positif.  Meski mengidap HIV, Amahl menjalani hidup seperti biasa. Dia menjalani pekerjaan, menikmati apa yang ia makan, berolahraga, dan hal-hal lainnya. Bukan menderita seperti apa yang saya dan orang awam bayangkan tentang hal ini.

Amahl S. Azwar sama sekali tidak bermaksud membanggakan statusnya yang positif HIV. Tujuan utamanya menulis buku ini adalah menolong para penderita positif HIV agar segera bangkit dan mengupayakan kesembuhan untuk dirinya. Bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi juga menjalani hidup.

Kenangan Amahl tentang HIV pertama kali adalah saat membaca majalah Hidayah yang terbit sekitar tahun 2000-an. Ada sebuah kisah tentang seorang pramugari yang menjalin hubungan dengan seorang bule. Keduanya sama-sama laki-laki. Di akhir cerita, pramugari tersebut mengidap HIV dan menjalani sisa hidupnya dengan sangat mengerikan.

Tapi, dia tak mendapat informasi apa pun tentang pengobatan atau apa yang harus dilakukan. Cerita tersebut terfokus pada azab dan hal-hal yang sudah kita tahu.

Amahl juga pernah menjadi aktivis HIV/AIDS. Berkat pengetahuan yang ia peroleh, ia dapat meyakinkan ibu dan keluarganya untuk menerima salah satu sanak keluarga yang positif HIV. Sebelumnya, ibunya merasa ketakutan saat menemui kerabatnya yang bertamu. Tantenya bahkan mencuci semua piring setelah kerabatnya pergi. Amahl menjelaskan bahwa HIV tak bisa menular lewat sentuhan tangan maupun udara.

Kendati demikian, ternyata pengetahuan yang ia dapatkan dari pengalamannya belum cukup. Amahl tak pernah tahu bagaimana upaya preventif agar tak tertular HIV. Dia akhirnya tertular.

Baca Juga:

Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

Kabar Buruk Hari Ini: Perjalanan Seorang Mawa Kresna Selama Menjadi Jurnalis

Di fase awal, Amahl memutuskan untuk menutupi identitasnya. Meskipun deteksi virus ini masih terbilang dini, Amahl juga merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya. Ia merasa sel-sel tubuhnya berjatuhan satu per satu. Ia tetap melakukan pekerjaanya sebagai wartawan full time seperti biasa. Ia menenggak obat setiap hari di jam yang tepat. Efek sampingnya pusing luar biasa dan cukup mengganggu aktivitasnya sehari-hari.

Suatu ketika, atas kelalaian dan kesalahan yang dilakukan Amahl, ia dipecat dari pekerjaanya. Kelalaian itu masih erat kaitannya dengan status positif dan efek samping dari mengkonsumsi ARV. Amahl menerima pemecatan itu. Ia menganggapnya sebagai pil pahit yang harus ia telan.

Saat itulah Amahl merasa putus asa. Ia merasa dunianya runtuh. Menjadi jurnalis adalah cita-citanya sejak kecil. Ia sempat ragu untuk menghubungi keluarganya dan mengabarkan bahwa ia positif HIV. Ia khawatir akan mengalami penolakan yang kedua kalinya. Namun, keraguannya sama sekali tidak terbukti. Ia mendengar suara halus ibunya dari seberang telepon.

“Pulang saja, Nak. Kamar kamu nanti akan disiapkan. Mama malah senang kalau kamu ada di rumah.”

Di saat itulah, saya kembali teringat akan kasih ibu yang tak terbatas. Keluarga yang dapat menerima kita apa adanya adalah tempat pulang terbaik. Suara ibunya membuat Amahl memantapkan diri untuk pulang ke Bandung, tempat ia dibesarkan.

Beberapa waktu lamanya, Amahl mengalami depresi yang cukup berat. Ia mengakui dan menerima kondisinya itu. Dalam keterpurukan yang sangat itu, Amahl masih bisa membuat komitmen sederhana: ia harus makan dan mandi. Dua hal ini tentu tampak sepele bagi orang yang sehat fisik maupun mentalnya. Namun, menjadi sangat berat buat orang yang sedang sakit. Ah, ingatkah kita saat patah hati menerjang? Jadwal makan berantakan, tidur juga tak nyenyak. Kita lebih nyaman berbaring di kasur sambil berurai air mata.

Hal itulah yang juga dialami Amahl. Tempat ternyamannya adalah di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan menonton serial film secara marathon. Dengan komitmen sederhana yang ia buat, ia berhasil memaksa dirinya untuk keluar kamar saat tiba waktu makan dan mandi. Amahl menyebutnya self care. Suatu hal yang pantas untuk kita tiru saat depresi menyerang.

Salah satu hal istimewa yang ia peroleh di masa itu adalah pertemuannya dengan Magdalene. Esai singkatnya yang menceritakan dirinya memperoleh respon yang baik dari pembaca. Ia kerap mendapat pesan pribadi dari pembaca yang merasa terbantu dengan tulisannya. Juga para pembaca yang menggunakan tulisannya untuk memotivasi kerabat atau orang terdekat yang terpapar virus ini.

Serangkaian peristiwa penolakan dan penerimaan masih ia terima setelah itu. Hari-harinya tak selalu mudah. Namun, pada akhirnya Amahl memutuskan untuk tetap hidup dan berkembang.

The Poz Says OK tak luput membahas pentingnya tahu status HIV. Terutama bagi mereka yang rentan terpapar seperti para pekerja seks komersial dan pemakai narkoba dengan jarum suntik. Amahl menceritakan pengalaman seseorang yang ia temui di klinik, yang menolak melakukan tes HIV. Meski, sebenarnya orang itu datang untuk melakukan rangkaian tes PMS yang lain.

Amahl juga pernah memiliki seorang kenalan yang terpapar virus ini. Sayangnya, ia sudah sangat terlambat mengetahuinya. Infeksinya sudah menyebar ke mana-mana. Pada akhirnya ia memilih untuk pulang dan menjalani sisa hidup dengan bertobat, tanpa berobat. Menurutnya, ia pantas mendapatkan penyakit ini.

Sungguh disayangkan. Andai orang-orang itu segera sadar diri untuk melakukan tes HIV dan tidak buru-buru menyerah, tentu akan lain ceritanya.

Dalam The Poz Says OK, Amahl membuktikan bahwa ia dapat bertahan selama delapan tahun dengan status HIV positif. Dengan meminum ARV secara taat jadwal dan teratur, jumlah virus dapat ditekan hingga angka yang rendah hingga tak terdeteksi. Menurut dokternya, jumlah yang rendah ini tak akan mampu menularkan infeksi ke pasangannya. Perlu dicatat, ARV hanya menekan jumlah virus saja. Status HIV orang tersebut masih positif.

The Poz Says OK memberikan informasi yang penting dan amat perlu kita ketahui tentang HIV. Buku ini, saya pikir, adalah jalan untuk memberi pengetahuan dan pencerahan kepada manusia yang awam tentang hal ini.

Manusia menolak dan takut akan hal yang tidak dia ketahui. Terkadang, manusia membuat cerita rekaan yang ia pikir pantas untuk menanggulangi rasa takut. Tapi, seperti kegelapan, ketakutan yang didasari atas ketidaktahuan tak memberimu apa-apa. Membuatmu tersesat tanpa tahu arah mana yang harus dilewati. The Poz Says OK memberi cahaya yang cukup agar kita, sebagai manusia, tak perlu lagi takut dan percaya rekaan-rekaan yang ada.

The Poz Says OK menekankan bahwa harapan untuk hidup dan bahagia itu penting. Mungkin, kalian punya pendapat berbeda tentang hal ini, namun kita perlu sepakat, bahwa hidup adalah hal terindah yang kita punya, dan apinya perlu kita jaga.

Sumber gambar: Situs Buku Mojok

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Mei 2022 oleh

Tags: Buku Mojokreview bukuThe Poz Says OK
Rezha Rizqy Novitasary

Rezha Rizqy Novitasary

Seorang perempuan, pengajar SMA, dan penikmat waktu pagi.

ArtikelTerkait

Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya oleh Rusdi Mathari: 30 Kisah yang Mengaduk-aduk Nurani

Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya oleh Rusdi Mathari: 30 Kisah yang Mengaduk-aduk Nurani

22 Agustus 2023
Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan Cak Rusdi dan Dedikasinya Terhadap Jurnalisme Terminal Mojok

Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan: Cak Rusdi dan Dedikasinya Terhadap Jurnalisme

11 Mei 2022
Rezim Kerja Keras dan Apa-apa Saja yang Akan Terjadi di Masa Depan Kita

Rezim Kerja Keras dan Apa-apa Saja yang Akan Terjadi di Masa Depan Kita

17 Juni 2022
Mindfulness Parenting (Buku Mojok)

Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya

30 Juli 2025
Akhir Penjantanan Dunia Dorongan Revolusi untuk Perempuan dan Laki-laki Terminal Mojok

Mengakhiri Langgengnya Ideologi Kejantanan

30 Januari 2023
Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta

Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta: Kejujuran yang Megah dan Mahal

28 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

14 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026
Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

15 Januari 2026
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026
Kebohongan Pengguna iPhone Bikin Android Jadi Murahan (Pixabay)

Kebohongan Pengguna iPhone yang Membuat Android Dianggap Murahan

18 Januari 2026
Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan Pembayaran QRIS ke Pembeli  Mojok.co

Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan QRIS ke Pembeli 

17 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.