Wisata murah ala mahasiswa
Sebagai mahasiswa, saya merasakan betul bahwa wisata murah itu soal strategi. Mau Jumatan di Istiqlal lalu jalan kaki ke Monas? Bisa. Ongkos Transjakarta pulang pergi sekitar tujuh ribu rupiah. Mau ke Ancol, Bogor, UI, atau sekadar turun di Palmerah buat lihat Gedung DPR, semua bisa diakses dengan KRL.
Kalau tempat wisatanya berbayar, kartu tanda mahasiswa sering jadi penyelamat. Tinggal tunjukkan, harga tiket bisa lebih ramah dibandingkan umum.
Catatannya satu: murah kalau tidak jajan sembarangan. Bawa bekal dari rumah jauh lebih masuk akal daripada kalap beli makanan yang ujung-ujungnya bikin saldo menipis tanpa sadar. Membawa bekal dari rumah juga menghindari pedagang yang menggetok harga. Walaupun dagangan PKL masih ramah dikantong lebih baik bertanya harga daripada kena getok.
Privilege yang sering tidak disadari
Pengalaman ini bikin saya sadar, wisata bukan cuma soal niat, tapi soal akses. Tinggal di kota dengan transportasi terintegrasi dan ruang publik yang layak adalah privilege yang sering dianggap biasa.
Dan sebagai anak Tangerang, saya benar-benar bersyukur tentang ini. Saya tidak selalu butuh uang banyak untuk sekadar keluar rumah dan bernapas sebentar. Kadang cukup naik bus, duduk di taman, atau KRL-an tanpa tujuan yang terlalu muluk.
Di tengah narasi bahwa liburan harus mahal dan jauh, Tangerang mengajarkan satu hal sederhana: jalan-jalan itu bisa murah serta mudah, asal kotanya melakukan pembenahan berupa akses yang mudah.
Penulis: Faris Firdaus Alkautsar
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Tangerang Rasa Timur Tengah: Jadi Pusat Bisnis, Minim RTH
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















