Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Olahraga

Tentang Aparat yang Memainkan Bola, Vietnam Sudah Memulainya Sejak Lama

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
17 Juni 2019
A A
4 Perilaku Atlet Sepak Bola Indonesia yang Menghambat Prestasi Timnas di Kancah Internasional terminal mojok.co

4 Perilaku Atlet Sepak Bola Indonesia yang Menghambat Prestasi Timnas di Kancah Internasional terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

PS TNI dan Bhayangkara FC barangkali menjadi suatu fenomena tersendiri bagi sepakbola Indonesia. Bukan saja tim yang beranggotakan para aparat ini berhasil menggebrak hegemono klub-klub tradisional seperti Persipura dan Persib dalam perebutan piala, kelahiran mereka di dunia sepakbola Indonesia tak kalah mengundang perdebatan lantaran akuisisi klub yang hendak bangkrut atau memiliki masalah. PS TNI ada lantaran membeli Persiram Raja Ampat dan menggunakan pemain-pemain dari PSMS Medan. Sedangkan Bhayangkara FC lebih pelik dengan dimulai dari keinginan Polri dalam menyalurkan bakat anggota guna menghadapi turnamen Piala Bhayangkara. Setelah ajang tersebut selesai, klub yang semula bernama PS Polri itu marger dengan Surabaya United sehingga bernama Bhayangkara Surabaya United. Dengan ending polri membeli keseluruhan saham dari Gede Widiade—pemilik sebelumnya—dan namanya berubah menjadi Bhayangkara FC.

Jika Bhayangkara FC lahir dalam kandungan Piala Bhayangkara, maka PS TNI lahir saat ajang Piala Jendral Sudirman. Intinya, kedua klub ini lahir dalam masa kekosongan kompetisi lantaran PSSI terkena ban oleh FIFA dan kedua klub ini lahir dalam ajang kompetisi.

Jika boleh jujur, tidak ada salahnya aparat—yang notabene menjaga dan melindungi saat pertandingan berlangsung—justru ikut memperebutkan piala. Sepakbola adalah permainan bagi siapa saja, tua muda, pria wanita hingga aparat pun kini berlomba memasukan bola ke jalan lawan. Pula ketika PSSI dibentuk, lekat hubungannya dengan militer lantaran dari era Ir. Soeratin hingga Edi Rahmayadi, kebanyakan kepala PSSI pernah mengangkat senjata.

Fenomena baru di Indonesia, namun seakan mejadi pemakluman bagi sepakbola di daratan Asia Tenggara lainnya. Ada Warrior FC dari Singapore yang membawa panji Singapore Armed Forces (SAF) atau TNI-nya Singapore. Di Thailand bahkan lebih berfariasi dengan Army United yang dimiliki oleh Angkatan Darat Kerajaan Thailand, Navy FC (Angkatan Laut), dan Air Force Central FC (Angkatan Udara). Ada pula Police BEC-Tero Sasana yang dimiliki oleh Kepolisian Kerajaan Thailand.

Di Laos, kita mengenal dengan Lao Police dan Lao Army yang mengatasnamakan kegagahan aparat negara mereka. Kedua klub ini bermarkaskan di Vientiane, ibukota Laos. Sedangkan di Malaysia, terdapat dua klub, yakni Angkatan Tentera Malaysia Football Association  yang biasa disebut dengan ATM FA atau Armed Forces FC. Ada pula Polis Di-Raja Malaysia Football Association atau PDRM FA yang dimiliki oleh kepolisian Malaysia.

Dari sekian banyak contoh yang disebutkan di atas, barangkali yang paling tradisional adalah The Cong dari Vietnam yang lahir pada 1954. The Cong dibentuk oleh Vietnam People’s Army pada tahun 1954 dengan nama đoàn công tác Thể dục Thể thao Quân đội atau yang biasa disebut The Cong. The Cong sendiri merupakan dari sebuah akronim dari kerja sama tim—atau jika di Indonesia di sebuat semangat gotong royong. The Cong sebenarnya merupakan sebuah proyek ambisius tentara Vietnam pada tahun tersebut menengok awalnya tidak hanya sepakbola saja, tetapi ada bola voli dan basket. Saat itu Hanoi masih dalam pelukan Vietnam Utara dan The Cong memainkan laga pertamanya di Hang Day—bertepatan dengan renovasi besar-besaran Hang Day Stadium lantaran langkah strategis Vietnam Utara dalam hal memperkuat gerakan kesehatan dan olahraga.

Tumbuh kembang dalam lingkungan sosialis Vietnam Utara, pemain-pemain The Cong dipilih untuk masuk timnas guna mengikuti liga sepakbola bagi Negara-negara beraliran ideologi sosialisme seperti Cina dan Kuba. Ketika kompetisi resmi Vietnam dibuat pada tahun 1980 yang baru bernama A1, The Cong berhasil menjuarainya pada seri kedua, yakni edisi 1981. Ditambah dengan tahun berikutnya 1982 dan diikuti tiga kali lagi pada tahun 1987, 1990 dan 1998. Dengan lima kali juara menjadikan The Cong sebagai pengoleksi gelar paling banyak di Vietnam. Diikuti dengan adik kandung mereka di Hanoi, yakni Hanoi FC.

Bukan hanya ambisius dalam pengembangan klub, Vietnam People’s Army juga serius dalam pengembangan infrastruktur pada saat itu dengan dibuktikan berdirinya Cột Cờ, homebase The Cong yang berada apa pusat olahraga militer. Cột Cờ merupakan arti dari tiang bendera karena pada saat dibangun, terdapat tiang bendera di dekatnya.

Baca Juga:

Manajemen Tolol Penyebab PSS Sleman Degradasi dan Sudah Sepatutnya Mereka Bertanggung Jawab!

Olahraga Lari Adalah Olahraga yang Lebih “Drama” ketimbang Sepak Bola

Sama spesialnya dengan Siliwangi bagi para Bobotoh dan Lebak Bulus bagi para The Jak, pula Highbury bagi para pendukung Arsenal, Cot Co merupakan stadium bagi The Cong yang sudah tidak mereka gunakan sejak tahun 1998 dan diberhentikan fungsinya pada tahun 2004 oleh pemerintah Kota Hanoi. Lapangan ini juga merupakan gambaran nasionalisme Vietnam lantaran dahulunya lapangan ini digunakan oleh kolonialisme Prancis. Tak ayal, banyak warga Vietnam mengatakan bahwa mencintai The Cong merupakan gambaran dari rasa nasionalis tersendiri bagi para penggemarnya kepada Vietnam.

Penulis yakin, siapapun pernah menitihkan air matanya karena sepakbola. Entah itu karena kekalahan di laga penting, degradasi atau saat klub kebanggaanmu dibeli oleh pengusaha kaya, dibawa lari ke suatu daerah dan kemudian menjadi sebuah kesatuan yang benar-benar baru, membawa panji daerah yang baru dan dengan logo baru. Setidaknya pada penggemar The Cong pernah menitihkan air mata lantaran tiga hal yang sudah disebutkan. Namun, pernahkah kita menangis lantaran klub kesukaan mu itu berganti nama guna tetap hidup, kemudian pergi untuk tetap ada dan kemudian hilang? Para penggemar The Cong pernah mengalaminya.

Memang sebagian dari pengelola klub ini adalah pekerja dari Viettel—operator jaringan selular yang dioperasionalkan oleh kementrian pertahanan—degradasi pada tahun 2004 dan kemudian berubah nama menjadi The Cong Viettel FC namun banyak mendapatkan penolakan.

tahun 2007 berhasil promosi dan merubah namanya menjadi sediakala dan pada tahun 2010 klub ini merelakan diri untuk meninggalkan Hanoi guna menuju ke Thanh Hoa dan tim kedua mereka—tim junior yang berlaga di tingkat kedua secara hierarkis—tinggal di Hanoi di bawah naungan pemodal baru dan merubah nama mereka menjadi Hanoi FC. Klub kedua mereka juga bernama Hanoi FC yang berisikan pemain-pemain muda dan berlaga di V.League 2. Kemana The Cong? Mereka telah melebur menjadi Hanoi FC. Hal ini dikarenakan Kementrian Pertahanan menugaskan untuk menghapus nama The Cong.

Identitas klub sebagai pemegang gelar klub paling tradisional dan tersukses pun menjadi kabur, tidak jelas dan terhempas entah kemana. Tidak ada lagi The Cong. Sebuah klub tradisional yang hilang.

Namun, apakah basis supporter mereka diam saja? Jawabannya adalah kampanye besar terjadi pada 2011—ketika 57 tahun pendirian klub, semua lapisan masyarakat terutama para mereka yang dibinasakan harapannya akan kejayaan The Cong dari generasi ke generasi, mengumpulkan seribu tandatangan untuk kembalinya tim ini. Viettel yang berbasis sebagai badan telekomunikasi milik militer Negara merasa bahwa The Cong haruslah dipertanggungjawabkan. Pada tanggal 26 Oktober 2014, Direktur Jenderal Military Telecom Corporation menandatangani Keputusan No. 2294 / QD-VTQĐ-TCNL yang mengkonsolidasikan fungsi dan tugas dan mengganti nama Pusat Pelatihan Sepak Bola Viettel menjadi Pusat Olahraga Viettel. Walau bernama Viettel dan berlaga di kasta bawah, namun kebanyakan orang mempresentasikan bahwa itu adalah reinkarnasi dari The Cong.

Tidak seperti klub Indonesia yang membeli lisensi dan dapat merangsak masuk ke kasta teratas, Viettle berjibaku di level bawah tepatnya pada laga usia di bawah 15. Mereka berhasil masuk final dan melawan Thành phố Hồ Chí Minh. Mereka pun menang dan hal ini dapat membuat mereka untuk berkompetisi di V.League-2 musim 2016. Setelah itu, pada edisi perdana, mereka menduduki peringkat 2 dan play-off melawan Long An. Mereka kalah 0-1 dan kebobolan di menit akhir sehingga mengubur impian mereka untuk promosi ke V.League 1. Tim muda Viettle ini berhasil masuk ke V.League 1 pada edisi 2019. Butuh waktu, tidak instan.

Sekali pun sebuah tim berada pada titik nadir dan siap dijemput oleh kematian, bagaimana pun caranya harus ada. Banyak kasus yang menyebabkan sebuah klub mati, kebanyakan karena kebangkrutan, tetapi pernahkah kalian tersadar bahwa yang menggerakan itu semua adalah aspek horizontal, semua lapisan yang berada di belakang nama sebuah klub tersebut. Para pendukung The Cong menyadari hal tersebut, mereka bergerak secara horizontal, dari aspirasi para penggemar berbagai generasi, mantan pemain dan pecinta sepakbola secara umum, kemudian ditindak oleh pemilik klub—dalam hal ini adalah Viettel.

Apa yang dialami The Cong, bukanlah sebuah kisah Cinderella yang memberikan banyak makna dalam sepakbola. Bukan prihal keuangan, aspek legal, aspek sporting, aspek personalia dan administrasi serta aspek infrastruktur, namun The Cong mengajari satu hal yang sebenarnya kita pelajari ketika kecil, yakni menghargai sebuah proses. Memang terdengar klise menengok sepakbola kini semacam pertaruhan mendapatkan keuntungan. Banyak yang mengambil jalan pintas guna memenuhi tujuannya.

Apa yang dialami The Cong—kini menjadi Viettle—adalah sebuah pembelajaran bahwa aparat atau presiden sekalipun boleh memainkan sepakbola. Sah-sah saja membangun klub seperti PNS FC, PS. Satuan Pamong Praja  atau Pemadam Kebakaran United. Yang tak kalah penting, maukah mereka semua membangun kekuatan dari bawah? Melalui strata heirarkis liga paling bawah, merangsak menuju atas dengan mewah? Ataukah membeli lisensi dan kemudian bermain di liga tertinggi adalah satu-satunya kunci?

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2022 oleh

Tags: AparatBhayangkara FCSepak BolaTNI dan Polisi
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Efek Positif Timnas Indonesia yang Luput dari Perhatian, Kafe-kafe Sepi Jadi Hidup Lagi erick thohir prabowo shin tae-yong pssi

Efek Positif Timnas Indonesia yang Luput dari Perhatian, Kafe-kafe Sepi Jadi Hidup Lagi

16 Oktober 2024
Aparat Penegak Hukum Harusnya Cinta Damai, Bukan Memukul Rakyat yang Sedang Aksi!

Aparat Penegak Hukum Harusnya Cinta Damai, Bukan Memukul Rakyat yang Sedang Aksi!

27 Agustus 2024
Menjadi Suporter Tim Sepak Bola Adalah Hal Sia-sia yang Pernah Saya Lakukan terminal mojok.co

Menjadi Suporter Tim Sepak Bola Adalah Hal Sia-sia yang Pernah Saya Lakukan

23 Oktober 2020
ole pemain underrated fans bola fans Manchester United MU jesse lingard manchester united liverpool Real Madrid #GlazersOut Gini doang nih grup neraka? MOJOK.CO

#GlazersOut dan Rumitnya Menjadi Fans Manchester United: Wawancara dengan @onestopunited

22 September 2020
Apa Cuma Saya yang Malas Ikutan Giveaway?

Ibu Saya Jadi Fans AHHA PS Pati Gara-gara Giveaway

13 Oktober 2021
Aparat Pemerintah Memang Brengsek, tapi Tidak untuk Damkar

Aparat Pemerintah Memang Brengsek, kecuali Damkar

27 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang Mojok.co

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.