Kami, Gen Z Madura, tidak klemar-klemer karena kami sudah mengalami sepinya hidup di Madura sebelum ada Suramadu.
Di media sosial, banyak postingan memperlihatkan karakter Gen Z yang katanya terlalu sensitif. Dibentak dikit, nangis. Dimarahi sama bos, langsung pergi ke psikolog. Disuruh resign, eh resign beneran. Pokoknya nggak tahan banting. Lalu, selain nggak tahan banting, mereka juga lebih suka main-main, mejanya full aksesoris, tasnya penuh gantungan kunci, pokoknya heboh. Kaya anak kecil!
Tapi, apakah semua Gen Z seperti itu? Jawabannya adalah tidak. Gen Z di Madura contohnya, jarang yang memiliki karakter klemar-klemer seperti itu. Banyak dari mereka masih memiliki etos kerja tinggi, disiplin, pekerja keras, juga bertanggung jawab.
Tapi, di sini saya tidak ingin menjelaskan secara panjang lebar bagaimana etos kerja Gen Z di Madura. Sebaliknya, saya ingin menjelaskan kalau sebetulnya di balik itu semua ada luka masa kecil yang terus membekas. Ya bisa dibilang, Gen Z di Madura adalah generasi terakhir yang menghadapi kehidupan keras pulau ini.
Gen Z jadi generasi parentless terakhir di Madura
Kita tahu bahwa masyarakat Madura merupakan orang-orang perantau. Ya setidaknya ke Surabaya. Dimana-mana pasti ketemu orang Madura. Masalahnya, orang Madura yang merantau banyak yang meninggalkan anak-anak mereka di kampung halaman. Mereka dirawat oleh nenek/kakeknya. Jadi, maklum kalau sebetulnya banyak orang Madura yang tumbuh parentless.
Ingat, bukan cuma fatherless atau motherless ya, tapi parentless, nggak hidup sama kedua orang tuanya!
Nah, Gen Z (kelahiran 1997-2012) adalah generasi terakhir yang merasakan nasib nahas ini. Berkat Suramadu, sejak 2009, para orang tua bisa pulang kapan saja mengunjungi anak mereka. Tidak butuh waktu lama atau biaya yang mahal. Bahkan, ada yang tiap hari pulang-pergi Madura-Surabaya.
Kalau dulu, Gaes, orang tua saya bisa berbulan-bulan tidak pulang. Padahal cuma di Surabaya. Mereka hanya menitipkan kiriman ke orang-orang yang kebetulan harus pulang kampung. Ini tidak terjadi pada saya saja ya, tetapi semua anak-anak seusia saya. Jadi kalau main, ya semacam kumpulan anak-anak parentless gitu.
Ya, sekali lagi, untungnya sudah ada Suramadu. Jembatan ini cukup membantu mengurangi anak-anak parentless di Madura!
BACA JUGA: 6 Syarat yang Harus Dipenuhi Madura sebelum Bermimpi Menjadi Provinsi Sendiri
Banyak Gen Z Madura tersesat saat masih muda
Oleh karena jadi generasi yang jauh dari orang tua, banyak Gen Z Madura yang mudah tersesat saat masih muda. Ketika Suramadu dibuka, beberapa tahun kemudian Gen Z ini sudah beranjak remaja, yakni usia belasan tahun. Nah di sinilah mereka menghadapi dunia baru berupa kehidupan Kota Surabaya.
Ya, yang namanya remaja, banyak sekali yang ingin mereka coba. Sayangnya, alih-alih mencoba hal positif, Gen Z di Madura banyak yang tertarik pada hal negatif. Saya ingat sekali pas saya SMP, memodifikasi motor satria FU sangat ramai di kalangan teman-teman saya. Terutama masalah bunyi knalpot yang ada keras. Di zaman ini pulalah jamet mulai bertebaran, rambut jambul dengan kaos oversize mulai jadi trend.
Kemudian, yang tak kalah memprihatinkan menurut saya, club malam juga mulai digandrungi anak-anak muda. Haduh!
Kini mereka tobat saat dewasa
Tapi saya bersyukur, Gen Z di Madura yang tersesat tak berlangsung lama. Saat menginjak dewasa, banyak dari mereka kembali ke jalan yang benar. Mereka tetap menjadi manusia Madura yang punya etos kerja tinggi. Misalnya teman-teman saya yang dulu terkenal nakal, sekarang mereka tetap bertanggung jawab terhadap keluarganya. Semua pekerjaan dikerjakan asal halal.
Ada yang dagang bakso, jual sayuran, jual ayam potong, pokoknya produktif.
Ya itulah kondisi Gen Z Madura yang sebetulnya berbeda dengan Gen Z kebanyakan. Kami tidak klemar-klemer karena kami sudah mengalami sepinya hidup di Madura sebelum ada Suramadu. Saya pribadi bersyukur, terlepas awalnya Suramadu menghasilkan budaya buruk bagi Gen Z, jembatan ini kini membantu mengurangi anak-anak parentless di pulau ini!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
