Susi Pudjiastuti, Terima Kasih

Selain Pak Habibie yang akan selalu mengingatkan kita pada pesawat, ada Susi Pudjiastuti yang membuat anak-anak bisa bermimpi memimpin lautan di negeri ini.

Featured

Kalis Mardiasih

Banyak orang barangkali akan kangen banget dengan foto-foto semacam ini. Foto yang ikonik, yang membuat orang bisa bangga dan ingin pamer ke seluruh dunia kalau negara kami punya Menteri keren. Ini fotonya. Dia memimpin Kementerian Kelautan dan Perikanan. Di tengah lautan yang luas, dia duduk di atas paddleboard sambil minum kopi dan udut. Perempuan ini adalah ratu penguasa laut utara, barat, timur dan selatan yang sambil santai begitu, tiba-tiba bisa sekaligus teriak, “tenggelamkan!”

Berkat Ibu Susi, rakyat Indonesia jadi ingat kalau punya laut. Laut, dalam semesta pembicaraan Ibu Susi adalah kehidupan. Ia mencintai kehidupan di lautan sekaligus tahu betul bahwa laut adalah sumber penghidupan para nelayan. Susi memang tidak sempurna, tapi ia bisa membuat Indonesia ingat bahwa ada kehidupan lain di Indonesia selain gedung-gedung dan beton-beton di perkotaan.

Di media sosial, orang-orang suka memotret menu makan ikannya lalu memention Ibu Susi. Ibu Susi, kami makan ikan untuk memenuhi perintah Bu Susi! Benar. Ibu Susi sering bilang kalau anak-anak harus rajin makan ikan karena ikan bergizi tinggi. Ibu Susi seringkali membanggakan ikan-ikan Indonesia. Dia bilang ikan mahal yang ada di restoran-restoran yang diimpor dari luar negeri itu kandungan gizinya jauh lebih rendah dari ikan pindang yang ada di laut Indonesia yang harganya sangat murah di pasar-pasar. Ibu Susi menumbuhkan kebanggaan kerakyatan.

Pada suatu hari, Mark Zuckerberg si bos Facebook mengunggah foto paddling di media sosialnya. Ibu Susi tiba-tiba kirim komentar: “Saya juga suka paddling. Ingin sekali menantangmu untuk balap paddle dan memenangkan 10 persen saham Facebook. Jadi saya bisa menjualnya dan menggunakan uang itu untuk membeli beberapa kapal patroli besar untuk melindungi perairan Indonesia dari kapal ikan yang ilegal, tak dilaporkan, tak diregulasi, dan membeli kapal ikan untuk nelayan Indonesia agar mereka bisa memancing lebih banyak dan lebih baik lagi.”

Baca Juga:  Dilema Self-Partnering: Apa Enaknya sih Berpacaran dengan Diri Sendiri?

Saya tak peduli apakah Ibu Susi sedang iseng ketika mengetik begitu. Tapi fakta bahwa pemimpin negara bagian lautan selalu berbicara tentang harapan kehidupan lautan di publik adalah oase, di tengah tontonan pejabat-pejabat negara seperti Arteria atau Masinton yang selalu bicara soal angka-angka.

Di Jakarta Fashion Week 2019, Ibu Susi tiba-tiba muncul dengan kacamata hitam, outer batik, dan sepatu booth. Rupa-rupanya, ia menerima tantangan Anne Avantie yang menjanjikan 10 perahu untuk para nelayan Palu-Donggala kalau ia mau berjalan di atas catwalk malam itu.

Susi Pudjiastuti juga semacam “SJW” lautan. Ia berkampanye untuk mengurangi tas plastik sekali pakai. Ia berkampanye untuk tidak memakai sedotan plastik. Ia selalu bicara itu atas nama edukasi sampah di lautan yang kian menggunung. Ia menjelaskan bahwa ada milyaran ikan-ikan kecil yang belum bisa membedakan sumber makanan di lautan, akhirnya memakan mikroplastik karena dikiranya biota laut. Akhirnya ikan-ikan kecil itu mati karena sampah plastik di lautan.

Susi Pudjiastuti adalah perempuan dengan pandangan meritokrasi. Ia tidak senang kalau ia dilihat sebagai perempuan, oleh karena itu harus dibilang hebat. Ia percaya kalau siapa saja bisa hebat asalkan mereka mau bekerja keras.

Tentu saja ia melihat dirinya sendiri. Terkadang saya tidak sepakat dengan pandangannya itu. Di luar sana, ada banyak perempuan yang memang mengalami peminggiran, stigmatisasi, subordinasi dan menjadi korban kekerasan ganda yang karena benar-benar terbatas tidak bisa lagi untuk sekadar punya akses. Tapi bagaimana pun, Susi Pudjiastuti bicara atas nama harapan. Ia pasti mau bilang kalau anak-anak Indonesia, dari daerah dan latar belakang apa pun, bisa jadi apa saja asalkan tidak menyerah.

Baca Juga:  Bisa Nggak Sih Stop Ngasih Komentar Menjatuhkan yang Merusak Kesenangan Orang?

Susi Pudjiastuti adalah perempuan yang pada hari pertama pengumuman Kabinet membuat ribut luar biasa karena pertanyaan “siapa perempuan ini?” yang bukan elit partai, yang bertato di kaki, dan pertanyaan lainnya. Tapi kemudian ia selalu saja dibicarakan dengan penuh decak kagum dan kini akan tinggal kangen kepada foto-fotonya yang super passionate.

Kita melihat Susi Pudjiastuti selalu sebagai perempuan lautan yang bukan penguasa, yang dengan santainya duduk bareng dan bercanda dengan nelayan tanpa takut kotor dan kepanasan. Yang dibahas dari Susi adalah khazanah lautan, bukan merek tas mahal, sepatu atau pembicaraan khas elit lainnya.

Di penghujung kepemimpinannya, Ibu Susi mengumumkan bahwa reklamasi Teluk Benoa Bali dibatalkan. Sebuah ketegasan yang tentu dihadang oleh para cukong yang rakus dan culas.

“Saat pelantikan, Pak Jokowi minta saya bikin terobosan. Saya terobos semua.”

“Tuhan itu luar biasa adil dan akbar. Ikan di laut melimpah tanpe perlu kita beri pakan. Kita hanya perlu membiarkannya dan mengambilnya dengan cara yang bijak saja tanpa semena-mena. Menjaga, mengelola dan mengambil ikan dengan bijak seperti ini adalah tugas kita semua.”

Selain Pak Habibie yang akan selalu mengingatkan kita pada pesawat, ada Susi Pudjiastuti yang membuat anak-anak laut Pangandaran, laut Pantura juga laut Timur Indonesia bisa bermimpi memimpin lautan di negeri ini.

Terima kasih, Ibu….

BACA JUGA Gus Dur dan Radikalisme dalam Kacamata Kemanusiaan atau tulisan Kalis Mardiasih lainnya. Follow Facebook Kalis Mardiasih.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
1.473 kali dilihat

67

Komentar

Comments are closed.