Surat Terbuka untuk Pemkot Depok: Warga Butuh Akses Jalan Nyaman, Bukan Trotoar Instagrammable dan Barcode Pohon!  

3 Inovasi yang Bisa Dilakukan agar Geplak Depok Kembali Eksis Terminal Mojok

3 Inovasi yang Bisa Dilakukan agar Geplak Depok Kembali Eksis (Serenity via Wikimedia Commons)

Beberapa waktu lalu, warga Depok ramai-ramai mengeluhkan pembangunan trotoar yang dibangun di sepanjang Jalan Margonda Raya yang menutup akses jalan masuk ke SDN Pondok Cina I. Keluhan yang banyak dilontarkan sangat beralasan, pasalnya sekolah tempat anak mereka mengenyam ilmu menjadi tidak layak karena akses pintu masuk yang lebih rendah dibandingkan trotoar baru yang jauh lebih tinggi.

Tidak sampai di situ saja, anak-anak sekolah terpaksa diliburkan beberapa hari imbas pembangunan trotoar tersebut. Wacana untuk menggusur bangunan SDN Pondok Cina I tersebut juga sudah santer terdengar karena akan ada proyek pembangunan Masjid Raya Margonda. Tetapi, hal tersebut masih ditunda sembari menunggu relokasi gedung sekolah pengganti yang baru.

Dinas PUPR Kota Depok Citra Indah Yulianti belum lama ini menjelaskan, proyek trotoar yang dijadwalkan rampung pada pertengahan Desember digadang-gadang akan menjadi wajah baru kota Depok yang lebih Indah. Nantinya di trotoar yang sedang dibangun tersebut akan disediakan bangku-bangku dan lampu penerangan jalan yang etnik, futuristik, dan Instagrammable. Lampu dan bangku akan dipasang tiap jarak 20 meter dan akan ada jalur sepeda dan akses khusus untuk pengidap disabilitas. Fasilitas itulah yang akan menjadi akses pejalan kaki dan spot menarik untuk berswafoto.

Spot menarik untuk berswafoto, here we go again…

Memperindah tampilan trotoar dengan fasilitas seperti bangku dan lampu estetik tersebut tentunya mampu menarik para remaja dan warga sekitar yang tertarik berfoto-foto demi keeksisan di media sosial. Hal tersebut bisa berdampak pada kondisi trotoar yang bisa beralih fungsi menjadi tempat nongkrong ABG, tukang jualan yang mangkal, serta parkir liar. Hal tersebut sudah dibuktikan dengan potret-potret di media sosial yang merekam banyaknya parkir liar dan pedagang mangkal di trotoar yang bahkan belum sepenuhnya rampung tersebut.

Margonda sebagai salah satu jalan utama yang dilewati pengendara menuju Lenteng Agung, Tanjung Barat, Pasar Minggu hingga Jakarta membuat jalan utama ini tidak pernah sepi, bahkan hingga larut malam masih ramai dilalui oleh pengendara. Kehadiran trotoar Instagrammable itu akan menarik perhatian khalayak ramai. Tak mengagetkan jika trotoar tersebut nanti beralih fungsi bukan sebagai akses pejalan kaki sebagaimana mestinya. Bisa dipastikan jalanan Margonda yang sudah semakin sempit akibat trotoar baru akan lebih buruk lagi karena kemacetan yang ditimbulkan warga yang nongkrong di spot baru tersebut.

Maka dari itu, ketimbang membuat trotoar lebar yang Instagrammable yang bisa menimbulkan sumber kemacetan baru, warga Depok rasanya lebih membutuhkan akses jalan lebar untuk para pengendara motor dan mobil agar lebih nyaman dalam berkendara tanpa macet.

Apakah “inovasi” Pemkot Depok berhenti di situ saja? Oh, tentu saja tidak. Depok, selalu punya cara untuk membuatmu terheran-heran.

Barcode pohon yang tak diperlukan

Trotoar belum rampung, Pemkot Depok sudah kembali melakukan hal-hal yang membuat warganya kembali geleng-geleng kepala. Pasalnya sebanyak 1500 pohon sekitaran Margonda dan Juanda dipasangi barcode pada masing-masing badan pohon tersebut hingga menghabiskan anggaran sekitar Rp49 juta.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Depok melalui situs resmi Pemkot Depok menjelaskan bahwa pemasangan barcode pada ribuan pohon di sepanjang ruas Jalan Margonda dan Juanda Depok bertujuan untuk memberi informasi dan edukasi. Seperti, nama pohon, nama ilmiah, umur maksimal pohon, tinggi maksimal, daya serap CO2, lokasi pohon, dan kode pohon untuk pendataan. Tujuan pendataan disebutkan sebagai langkah antisipasi agar warga tidak menebang pohon secara sembarangan.

Seorang warga yang diwawancarai bahkan tidak tahu apa fungsi barcode tersebut. Lagipula jalan yang terdapat pohon barcode tersebut sangat jarang dilalui oleh para pejalan kaki karena letaknya berada di pinggir jalan raya dengan arus kendaraan yang cepat. Sehingga pemasangan barcode pada pohon dinilai kurang efektif kalau tujuannya mengedukasi pejalan kaki.

Dibandingkan membuat trotoar instagramable atau barcode untuk ribuan pohon yang kurang efektif dan menelan anggaran tidak sedikit, maka akan lebih bermanfaat jika dana yang ada untuk membenahi jalan agar lebih nyaman. Terutama ruas Jalan Margonda yang semakin macet akibat kondisi jalan yang semakin sempit.

Bisa juga mengatasi kondisi jalan berlubang sekitaran Grand Depok City atau GDC yang lubangnya sudah sering memakan korban. Cara apapun yang bisa dirasakan manfaatnya oleh warga Depok dan sekitarnya secara nyata dan langsung.

Lagipula, amat kecil kemungkinan orang melihat barcode di pohon lalu berpikiran, “AH, SAATNYA MELIHAT BARCODE INI, SAYA HARUS MEMBUKA 1500 BARCODE YANG ADA DI SEPANJANG JALAN INI!”

Semoga suara saya yang mewakili salah satu warga Depok ini bisa menjadi masukan agar Pemkot Depok bisa memenuhi kebutuhan warganya melalui fasilitas yang bisa dinikmati oleh seluruh warganya. Bukan hanya sekadar menghabiskan anggaran akhir tahun tanpa adanya solusi yang bisa memecahkan permasalahan daerah yang memang benar-benar membutuhkan perhatian.

Penulis: Rizka Utami Rahmi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kota Depok Layak Disebut sebagai Kota Avatar Saat Musim Hujan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version