Surat Terbuka untuk Fans Coldplay yang Nggak Balikin Xyloband: Nggak Apa-apa kok, Beneran, tapi Ingat, Lemah Teles!

Konser Coldplay Cuma Sehari di Jakarta, Harusnya Pemerintah Sadar Diri dan Berbenah xyloband

Konser Coldplay Cuma Sehari di Jakarta, Harusnya Pemerintah Sadar Diri dan Berbenah (Unsplash.com)

Kepada yang terhormat sesama fans Coldplay, bagian dari 23% yang tidak mengembalikan gelang xyloband. Semoga saat ini kalian dalam keadaan yang sehat dan bahagia. Sebagai sesama pejuang yang berhasil di war tiket konser Music of The Spheres Coldplay Jakarta, tentu kita punya banyak kesamaan walau berbeda sikap. Kadang saya juga masih menonton ulang video rekaman konser 15 November lalu dan merasa seperti mimpi. Mungkin kalian pun masih merasakan excitement yang sama hanya bedanya sambil elus-elus gelang.

Sebentar, kalian pasti mengira saya nggak nonton kan? Nggak apa-apa, mukanya jangan kaku kayak kanebo kering gitu dong.

Sebagai bagian dari 77% fans Coldplay yang mengembalikan xyloband, izinkan saya menuliskan keresahan saya yang bisa jadi mewakili beberapa atau sedikit fans yang datang ke konser kemarin. Semoga dengan surat terbuka ini, mereka yang tidak mengembalikan wristband bisa mengerti kenapa banyak yang menyayangkan sikap teman-teman untuk menjadikan gelang ini sebagai suvenir instead of dikembalikan sesuai permintaan Coldplay.

Oke, sebelum saya lanjut, saya tahu isu xyloband Coldplay ini kayaknya udah basi. Tapi, saya rasa keresahan ini butuh dicurahkan. 

Apa itu xyloband Coldplay

Bagi yang belum tahu, xyloband adalah gelang yang dipasang di tangan setiap fans ketika konser Coldplay berlangsung. Setiap xyloband dihubungkan dengan radio frequency yang akan menerima data untuk memberitahu kapan waktu dan warna apa ketika berkedip. Gelang ini memang menjadi aksesori yang memberikan pengalaman unik. Terlihat ajaib ketika dipakai selama konser, karena akan memendarkan cahaya dengan warna tertentu yang selaras dengan musik yang dimainkan.

Saya mengerti bahwa tiket konser Music of The Spheres memang mahal. Jika dirata-rata kasar, harga tiket nonton konser Coldplay di Jakarta itu senilai separuh lebih UMP Jakarta yang baru naik jadi 5 jutaan. Hidup di Jakarta sudah keras, sulit, biayanya tinggi pula. Pasti setengah mati rasanya untuk berhemat demi bayar pinjol atau menabung supaya bisa beli tiket konser yang dinanti-nanti. Mau beli merchandise apalagi, ah mana cukup saldo rekening.

Tapi, hidup, terkadang, adalah tentang memberi garis jelas pada apa-apa yang terlihat samar.

Anjuran memang tak mengikat, tapi ia memberi garis

Setiap xyloband yang diberikan ke penonton konser Coldplay Jakarta sudah dilengkapi tulisan “Please return after the show” yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah “Mohon dikembalikan setelah acara”. Tetapi sebagaimana aturan tertulis lainnya di dunia ini, pemaknaannya memang kembali pada kepercayaan masing-masing. 

Tujuh puluh tujuh persen dari 80.000 manusia yang datang ke konser Coldplay memaknai dengan mengembalikan xyloband ke wadah-wadah daur ulang khusus setelah konser usai. Sementara dua puluh tiga persen sisanya mengartikannya dengan membawa pulang gelang ini sebagai suvenir. Tidak mengembalikan gelang memang bukan tindakan kriminal dan melanggar hukum. Bahkan, bisa jadi kalian artikan sebagai anjuran. Yang namanya anjuran, kerap dimaknai sebagai sesuatu yang bisa dilanggar.

Tapi, apakah sebuah tindakan yang benar? Nah, inilah yang saya maksud dengan memberi garis jelas pada apa-apa yang samar.

Memasuki venue konser, terdapat dua layar raksasa di kanan dan kiri panggung. Layar raksasa tersebut menampilkan interaksi dan informasi sebelum artis pembuka dan Coldplay mulai manggung. Di leaderboard tersebut terpampang infomasi tiga ranking teratas tingkat pengembalian xyloband. Kemudian paling teratas dengan tulisan “Jakarta = ??”

Sebagian besar penonton konser di GBK menafsirkan leaderboard yang menuliskan Jakarta dengan tanda tanya bersama dengan penyebutan tiga kota lainnya sebagai ajakan oleh Coldplay kepada fans di Jakarta untuk turut melestarikan lingkungan dengan mengembalikan gelang. “Wristband Recycling Leaderboard” atau “Papan Peringkat Daur Ulang Gelang” menyebutkan Tokyo dengan tingkat pengembalian tertinggi 97%, disusul Copenhagen 96% dan Buenos Aires 94%. 

Namanya ajakan tentu bersifat persuasif dan tidak mengikat. Belum tentu semua orang setuju dan mau mengikuti undangan tersebut. Apalagi di Indonesia, imbauan melawan korupsi oleh KPK saja bisa dianggap sekedar semboyan oleh ketuanya sendiri. Ah, maaf kalau saya jadi melantur.

Maksud Coldplay yang sebenarnya

Kembali lagi kepada kawan sesama penonton konser Coldplay Jakarta yang tidak bersedia mengembalikan gelang xyloband. Saya dan teman lainnya mengerti, boro-boro mau beli merchandise Coldplay kemarin. Sudah uang cekak, mau beli merch saja ngantrinya berkilo-kilo meter mungkin lebih panjang dari anakonda si ular terpanjang di dunia. Keputusan yang termudah dan paling impulsif memang menjadikan xyloband sebagai merchandise.

Namun selayaknya perilaku impulsif lainnya yang sudah sering kita uji coba, tentu saja ada konsekuensi natural dari keputusan yang menuai pro dan kontra ini. Yang pertama tentu saja kemungkinan dirujak netizen jika ingin flexing keberhasilan membawa merchandise xyloband. 

Memilih diam dan tidak pamer xyloband di sosial media cenderung minim risiko. Namun apakah sejalan dengan tujuan Coldplay datang ke Jakarta. Ya, tahun ini Coldplay datang ke Jakarta karena menyimpulkan bahwa awareness mengenai sustainability lingkungan akan lebih tepat sasaran ke negara berkembang, bukan negara maju. Jika jawabanmu adalah tidak peduli, maka terimalah jika janji Coldplay kembali lagi ke Jakarta mungkin tidak akan pernah terjadi.

Well, after BMTH dan masalah ticketing Coldplay kemarin, saya rasa, agak optimis juga ya artis luar mau manggung di Indonesia.

Memento itu penting, tapi…

Tapi, ingat satu hal ini. Walaupun band asal Inggris ini adalah superband yang membawa misi sosial, sudah pasti mereka bukanlah yayasan. Butuh effort dan uang extra untuk menghelat konser yang berkelanjutan dan minim karbon. Berkontainer-kontainer alat musik dan tata panggung harus dikirim untuk manggung sehari saja di Jakarta, itupun dengan bahan bakar ramah lingkungan yang lebih mahal. 

Ibarat organisasi bisnis yang melakukan analisis SWOT, sepertinya lebih banyak Weakness dan Threats dalam helatan tur dunia Coldplay di Indonesia. Sudah susah payah datang ke Jakarta saja masih dihajar demo dan diancam dibubarkan. Ditambah fakta tingkat pengembalian gelang yang nggak tinggi banget. 

Jadi kepada mereka yang menyimpan gelang xyloband, oke, saya mengerti. Xyloband mungkin adalah memento yang tak akan bisa kalian dapat lagi. Saya paham betul akan itu. Tapi, saya juga tahu bahwa manusia bisa jadi sesuatu yang lebih baik ketimbang pikirannya.

Tidak mengembalikan xyloband, mungkin tak jadi masalah yang kelewat besar bagi Coldplay. Tapi, jadi masalah besar untuk diri Anda, yang rela menurunkan derajat diri kalian sendiri.

Penulis: Maryza Surya Andari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Konser Coldplay Cuma Sehari di Jakarta, Harusnya Pemerintah Sadar Diri dan Berbenah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version