Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Surat Cinta untuk CakJi Surabaya: Kami Bukan Nyaman dengan Kendaraan Pribadi, tapi Nggak Punya Pilihan Lain!

Tiara Uci oleh Tiara Uci
5 Juni 2022
A A
Surat Cinta untuk CakJi Surabaya: Kami Bukan Nyaman dengan Kendaraan Pribadi, tapi Nggak Punya Pilihan Lain!

Surat Cinta untuk CakJi Surabaya: Kami Bukan Nyaman dengan Kendaraan Pribadi, tapi Nggak Punya Pilihan Lain! (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Hallo, Wawali Surabaya. Piye kabare, Cak? semoga sehat dan selalu bahagia, njeh. Aamiin. Maaf, lho, saya menyapa dengan panggilan “cak” alih-alih “bapak”, ini bukan karena saya tidak menghormati njenengan. Melainkan karena saya tahu, tagline politik sampeyan sejak dulu adalah CakJi, cacak e arek-arek Suroboyo. Duh, saya memang perhatian orangnya.

Oh iya, Cak. Saya baru saja melihat podcast sampeyan yang berjudul “Macet e Suroboyo meh Koyok Jakarta, Pakar Transportasi Ngeyel Nak CakJi”. Waah, ternyata selain pintar berpolitik, CakJi juga kekinian dan mengikuti hal-hal yang sedang ramai di media sosial, salut lah pokoknya. Topik transportasi publik memang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di Surabaya, utamanya oleh kaum milenial dan mereka yang peduli tentang isu lingkungan.

ADVERTISEMENT

Sebagai rakyat jelata yang tinggal selama tujuh belas tahun di Surabaya, saya mengucapkan terima kasih kepada CakJi yang telah membuka ruang diskusi tentang transportasi di Kota Pahlawan. Yaaa, meskipun diskusinya eksklusif antara CakJi dan Pak Putu selaku pakar transportasi saja, tapi kami tetap berterima kasih. Setidaknya, CakJi tahu, kalau masalah transportasi publik di Surabaya sudah tidak bisa lagi dinomor duakan.

Langsung ke intinya ya, Cak. Setelah mendengarkan podcast njenengan yang berdurasi kurang lebih 46 menit tersebut, kok saya merasa sedih ya, Cak. Saya merasa kalau kita berdua seperti puisinya Soe Hok Gie, alias “berbeda dalam semua”. Saya sampai nggak bisa tidur dan overthinking memikirkan betapa jauhnya perbedaan kita.

Namun, dalam lubuk hati terdalam, saya sempat berharap kalau setidaknya cara kita memandang transportasi publik di Surabaya sama. Lha, ternyata berbeda juga. Duh, saya memang manusia yang kebanyakan bermimpi bisa samaan dengan sampeyan. Kadang saya ini memang suka nggak tahu diri.

Namun, meskipun saya ini ibaratnya hanya umbi-umbian yang tumbuh di sekitar Tugu Pahlawan. Boleh kan, Cak, saya menyampaikan pendapat setelah melihat podcast njenengan yang saking serunya, telah di-like oleh 27 orang. Luar biasa, mantap!

Podcast CakJi dibuka dengan membicarakan kemacetan di Kota Surabaya “mendingan” daripada Jakarta. Statement tersebut nggak sepenuhnya salah sih, Cak, toh pengalaman berkendara seseorang bisa berbeda-beda. Masalahnya hanya satu, membandingkan mana yang lebih crowded, apakah Surabaya atau Jakarta, sudah nggak penting lagi.

Bagi warga Surabaya, kita butuh solusi untuk mengatasi kemacetan tersebut. Ya masa, kita nunggu sampai jalanan di Surabaya tidak bisa dilewati kendaraan sama sekali, baru membuat transportasi publik yang rutenya lengkap, efisien, cepat, dan ekonomis. Nggak gitu, dong ya.

Baca Juga:

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian 

Lagipula, menurut saya nih, Cak, transportasi publik dibangun bukan semata-mata untuk mengatasi kemacetan. Melainkan untuk mewujudkan cita-cita Surabaya sebagai sustainable city atau kota berkelanjutan yang perencanaan pengembangannya mengacu pada keseimbangan tiga pilar (ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan hidup) secara terintegrasi.

Artinya, parah atau tidak parahnya kemacetan di jalanan Surabaya seharusnya tidak mengurangi sedikit pun usaha pemerintah untuk membangun transportasi publik yang berkelanjutan. Sebab, sustainable city mengupayakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan kota dan warganya tanpa menimbulkan beban bagi generasi yang akan datang.

Tugas saya dan warga Surabaya adalah beradaptasi dengan kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan. Seperti, mengupayakan untuk tidak terus-terusan menambah emisi CO2 dari kendaraan pribadi. Tugas pemerintah adalah membangun infrastruktur untuk membuat kebiasaan baru tersebut bisa dilakukan.

Saya paham sih, Cak. Warga Surabaya memang kadang suka ngeselin tingkahnya. Di saat Pemkot sudah berusaha menyediakan Suroboyo Bus, Trans Semanggi, dan bikin Park and Ride di beberapa titik, eh, malah dianggurin. Suroboyo Bus dan Trans Semanggi yang busnya bagus, bersih dan warnanya merah ngejreng itu, malah sepi penumpang. Nggak heran sih, kalau CakJi kemudian menyimpulkan jika perilaku kita (baca: warga Surabaya) yang nyaman dengan kendaran pribadi adalah biang masalahnya.

Tapi, ngapunten njih, Cak. Warga Surabaya sebenarnya bukannya nyaman dengan kendaraan pribadi, kok. Kami selalu mengendarai mobil atau motor, lantaran hanya itu pilihan yang ada dan memungkinkan. Contohnya saya sendiri, Cak. Kantor saya di Jalan Kalibokor, dan tempat tinggal saya di Jalan Kebonsari. Tidak ada Suroboyo Bus dan Trans Semanggi yang menjangkau rute tersebut. Padahal saya tinggal di kawasan pemukiman yang padat penduduk dan cukup strategis, lho. Ada kampus besar di dekat area ini, yaitu kampus Universitas Negeri Surabaya. Strategis kan?

Nggak usah muluk-muluk dulu, deh. Surabaya nggak harus langsung membangun trem atau monorel yang memakan biaya besar kok, Cak. Wacana tersebut juga sudah pernah digembar-gemborkan wali kota sebelumnya, yang sayangnya, selama dua periode kepemimpinannya, itu semua hanya ada di draf kampanye politik.

Jika boleh usul nih, Cak. Alangkah baiknya, jika Pemkot Surabaya fokus pada hal-hal yang bisa dijangkau saja, tapi tetap memiliki efek jangka panjang. Saya mencatat ada empat hal yang bisa dilakukan untuk mendorong warga Surabaya tertarik beralih ke transportasi masal.

Pertama, tentu saja membuatkan jalur khusus untuk Suroboyo Bus (SB) dan Trans Semanggi (TS). Jalur khusus bukan berarti melebarkan jalan lagi, kok, manfaatkan saja ruas jalan Surabaya yang sudah lebar itu. Kenapa ini penting? soalnya agar waktu tempuh SB dan TS lebih cepat. Surabaya kan bukan kota wisata, ini kota industri. Kebutuhan warga berpindah lokasi lebih banyak urusan pekerjaan daripada jalan-jalan, sehingga efisiensi waktu menjadi poin penting.

Kedua, membuat semua mode transportasi yang sudah ada di Surabaya (Suroboyo Bus, Trans Semanggi, kereta dan angkutan) terhubung atau terintegrasi satu sama lain. Hal ini akan membuat jangkauan atau rute transportasi masal kita menjadi lebih luas, dan memungkinkan untuk menjangkau lebih banyak wilayah di Surabaya. Tentunya, hal ini tetap harus diiringi dengan terus menambah rute baru Suroboyo Bus dan Trans Semanggi secara bertahap.

Menurut saya, ini lebih penting ketimbang memberikan subsidi langsung berupa uang ataupun BBM kepada supir angkot. Menjadikan angkot sebagai feeder yang menjangkau kampung-kampung lebih efektif bagi keberlangsungan hidup supir angkutan.

Sudah waktunya para pemimpin di kota ini menyudahi anggapan kalau warga hanya mau uang. Maaf, Cak. Jangan menganggap rakyat seperti pengemis yang harus diberi uang secara langsung. Saya rasa, memberikan fasilitas dan ruang untuk bekerja dengan baik cum kondusif adalah kebijakan yang lebih bijaksana daripada memperlakukan warga seperti peminta-minta.

Ketiga, memanfaatkan Park and Ride yang sudah ada dengan menjadikannya rute atau jalur yang wajib dilewati oleh Suroboyo Bus dan Trans Semanggi. Kalau Park and Ride cuma jadi tempat parkir tok, kan yo eman-eman.

Keempat, konsisten melakukan ketiga hal tersebut. Sama dengan berjualan rujak cingur, menawarkan transportasi publik kepada warga dibutuhkan konsistensi agar pelanggan bersedia datang. Selama ini, kadang kits suka di-prank jadwal Surabaya Bus. Di aplikasi tertulis keberangkatannya jam tujuh, eh bus-nya datang jam 7.30. lha, kalau warga Surabaya menggunakan bus tersebut untuk berangkat kerja, nggak sampai satu bulan bisa dipecat, Cak, lantaran suka telat masuk kantornya.

Sementara hanya itu dulu yang ingin saya sampaikan kepada CakJi. Oia, kalau boleh saran nih, Cak. Sebaiknya panjenengan mboten usah promosi naik motor untuk menghindari kemacetan. Bukannya apa, takutnya nanti sales motor kehilangan lapangan pekerjaannya.

Akhir kata, semoga CakJi selalu diberi kesehatan oleh Gusti Allah, agar bisa melakukan banyak perubahan yang lebih baik untuk kota Surabaya yang kita cintai ini. Cemungud njeh, Cak!

Salam hormat dari saya, patung Suro dan Boyo di depan KBS.

Penulis: Tiara Uci
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Kesengsaraan Orang Berkacamata, dari Kecolok sampai Dibilang Sombong

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Juni 2022 oleh

Tags: CakJiKemacetanSurabaya
Tiara Uci

Tiara Uci

Alumnus Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya. Project Manager perusahaan konstruksi di Surabaya. Suka membaca dan minum kopi.

ArtikelTerkait

Jalan Ketintang Surabaya, Jalan Paling Problematik yang Pantas Dibenci Mojok.co

Jalan Ketintang Surabaya, Jalan Paling Problematik yang Pantas Dibenci

5 November 2023
Surat Cinta untuk Walikota: Pak, Malang Macet, Jangan Urus MiChat Saja!

Mati Tua di Jalanan Kota Malang

28 Maret 2023
buru-buru

Habis Telat Terbit Buru-Buru dan Bunyi Klakson di Lampu Merah yang Masih 5 Detik

2 Maret 2020
Pelayanan Adminduk Surabaya Pantas Diacungi Jempol, dan Bikin Daerah Lain Makin Iri dengan Surabaya jogja kuliah di Jogja

Pelayanan Adminduk Surabaya Pantas Diacungi Jempol, dan Bikin Daerah Lain Makin Iri dengan Surabaya

28 Januari 2024
Betapa Problematiknya Trans Semanggi Surabaya: Waktu Kedatangan yang Tak Bisa Diprediksi, Nunggu Sampai Lumutan!

Betapa Problematiknya Trans Semanggi Surabaya: Waktu Kedatangan yang Tak Bisa Diprediksi, Nunggu Sampai Lumutan!

26 Maret 2024
4 Hal Jadi Mahasiswa UNESA Itu Nggak Enak terminal mojok.co

4 Hal Jadi Mahasiswa Unesa Itu Nggak Enak

17 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma Mojok.co

Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma

10 Agustus 2026
Kontroversi [arfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

Kontroversi parfum Mykonos: ketika naluri “ingin gaul” anak SD dihakimi netizen yang kurang piknik

4 Agustus 2026
Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

8 Agustus 2026
Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

9 Agustus 2026
Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di nikahan desa, tetap saja sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja Mojok.co

Bridesmaid dan groomsmen nggak guna di hajatan desa, tetap saja muda-mudi sinoman dan ibu-ibu dapur yang kerja

5 Agustus 2026
Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian Mojok.co

Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian

8 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.