Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sulitnya Mencari Makam di Jogja

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
6 Oktober 2020
A A
ereveld makam korban perang belanda jogja sulitnya cari makam kuburan mojok

jogja sulitnya cari makam kuburan mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Memakamkan sanak saudara dianggap sebagai cara memuliakan seseorang untuk terakhir kali. Semua orang pasti ingin memberikan prosesi pemakaman yang layak bagi orang terkasih. Lebih luas dari keluarga, masyarakat umum merasa ikut bertanggung jawab dalam tahap akhir perjalanan hidup manusia. Sebenarnya, prosesi pemakaman tidak terlalu rumit, selama lokasi makamnya ada. Nah, perkara sulitnya mencari lokasi makam ini yang ingin saya bicarakan, terutama di Jogja.

Mengapa saya tertarik membahas ini? Semua dimulai dari postingan di grup Facebook Info Cegatan Jogja (ICJ). Salah seorang anggota grup sedang kesulitan mencari makam bagi keponakannya. Dalam postingan tersebut, blio mengatakan sudah dua hari mencari lokasi makam. Banyak makam yang menolak dengan alasan “bukan untuk umum”. Kebetulan, blio adalah pendatang di Jogja.

Makin miris ketika blio berhasil mendapatkan lokasi makam, blio masih terhalang oleh biaya administratif yang dirasa cukup mahal. Tentu saya hanya bisa geleng-geleng melihat kondisi ini. Beruntung, banyak pihak yang bersimpati. Menurut info terakhir, sang keponakan bisa dimakamkan di wilayah dusun Colombo.

Saya sendiri merasa kondisi “bukan untuk umum” adalah dilema. Di satu sisi, tentu warga setempat ingin sanak keluarganya tidak kesulitan mendapat lokasi makam. Di sisi lain, kondisi ini menyulitkan warga lain yang membutuhkan makam. Belum lagi halangan perkara adat masyarakat setempat. Sesama warga Jogja saja bisa kesulitan, apa lagi pendatang. Untuk perkara ini akan saya bahas lebih lanjut nanti.

Pengalaman saya perihal kesulitan mencari makam pernah terjadi di teman satu angkatan kuliah saya. Pada 2017 silam, teman kuliah saya meninggal di Jogja. Kebetulan, blio tidak memiliki sanak keluarga di sini. Maka prosesi pemakaman diambil alih oleh pihak kampus beserta teman-teman satu angkatan.

Kembali lagi, masalah utama yang terjadi adalah mencari makam. Sampai menjelang pagi (blio meninggal pada malam hari), kami belum menemukan lokasi makam. Tentu dengan alasan makam yang tersedia bukan untuk umum. Beruntung, pada puncak kebingungan ada satu masjid yang berbaik hati menyediakan makam bagi teman saya ini.

Selain perkara mencari lokasi makam, perkara biaya administrasi juga sering menjadi penghalang. Biaya yang dikenal sebagai “bedhah bumi” ini sering mencekik keluarga lelayu. Seperti pada kejadian pertama, mencari lokasi makam yang affordable bukan perkara gampang. Seringkali biaya tanah seluas 2×1 meter ini lebih mahal dari tanah pemukiman biasa.

Nah, bicara harga makam ini pernah saya alami sendiri bersama keluarga. Pada tahun 2019 eyang saya harus dirawat di ICCU karena komplikasi berbagai penyakit. Pihak rumah sakit mengingatkan, pemasangan ventilator (untuk membantu pernafasan eyang saya) adalah perkara hidup dan mati. Kemungkinan selamat hanyalah 50 persen, dan ini baru bicara pemasangan ventilator saja.

Baca Juga:

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

Dokter meminta kami sekeluarga untuk ikhlas. Tapi, bagaimana bisa kami sekadar ikhlas di saat penuh kemungkinan terburuk ini. Bapak saya mencoba berpikir jernih dan segera menyiapkan kemungkinan terburuk: mencari makam.

Awalnya Bapak pikir ini akan mudah karena kami sekeluarga adalah penduduk asli Jogja. Ternyata, kami mengalami apa yang terjadi pada teman saya dan berita di ICJ tadi. Kami terhalang dengan pemakaman yang bukan untuk umum. Kampung tempat eyang kami tinggal tidak memiliki pemakaman umum. Dan ketika berhasil mendapat opsi lokasi pemakaman, biayanya tidak murah.

Bapak saya mendapat tawaran lokasi makam yang tidak jauh dari rumah, tapi dengan biaya yang tidak murah. Uang muka saja sudah tembus lima juta rupiah. Namun, bicara makam tidak sesederhana tawar menawar rumah atau beras. Bapak hampir membayar lunas lokasi makam tersebut. Tapi, kami masih diberi berkah. Eyang berangsur-angsur pulih bahkan kini berkumpul kembali dengan kami sekeluarga. Sejenak kami bisa melupakan urusan makam.

Tapi, urusan kelangkaan dan biaya bukanlah akhir dari kesulitan ini. Masalah adat dan metode pemakaman ternyata juga menjadi. Tentu yang saya maksud berurusan dengan agama jenazah yang akan dimakamkan. Dan bicara tentang permasalahan adat ini juga kami sekeluarga alami.

Eyang saya beragama Kristiani. Dan ternyata agama ini juga ditanyakan dengan cara halus. “Nanti jenazahnya dipocong atau dipeti?” Dengan penekanan bahwa makam tersebut tidak menyediakan tempat bagi jenazah yang dimakamkan dengan peti. Jujur, kami langsung berpikir perkara diskriminasi ketika mendengar kabar ini.

Tapi, saya mencoba berpikir jernih. Mungkin, penolakan pemakaman dengan peti dikarenakan luas lokasi makam. Makam dengan peti dipandang memakan lahan lebih banyak daripada pemakaman dengan cara pocong. Pada akhirnya, bagi yang dimakamkan dengan peti juga memiliki lebih sedikit pilihan.

Perkara kesulitan mencari makam ini memang tidak banyak solusi. Secara personal, saya memandang tanah makam sebagai lahan non produktif. Menambah lokasi makam hanya memperluas lahan yang tidak bisa dimanfaatkan. Apalagi bicara jumlah lahan tinggal dan pertanian yang terus menyusut.

Penimbunan makam lama untuk makam baru bisa menjadi solusi. Sebab, permintaan untuk lokasi makam tidak akan pernah berhenti selama manusia belum punah. Metode pemakaman alternatif (kremasi atau makam berdiri) bertentangan dengan budaya dan adat masyarakat kita.

Namun, menimbun makam lama juga bisa menjadi masalah sosial bagi masyarakat setempat. Penimbunan makam untuk makam baru dipandang melanggar norma. Lebih jauh lagi, menimbun makam bisa memunculkan sengketa antara ahli waris makam lama dan baru. Berbagai usulan logis hanya akan dibenturkan dengan budaya dan adat.

Memang, saat ini banyak pihak yang peduli dengan perkara makam ini. Saya mendapat informasi beberapa pemerintahan daerah telah menyediakan lokasi makam umum dalam jumlah besar, seperti pemakaman di sekitar Prambanan yang disediakan Pemda Sleman.

Namun, masih muncul kabar perkara kesulitan mencari makam. Dari sekadar tidak ada lokasi, biaya, sampai adat pemakaman yang dilakukan. Wajar jika tanah makam dianggap sebagai perhiasan terakhir manusia. Entah berapa tahun lagi sampai kita mencapai puncak kesulitan mencari makam, sepetak tanah kecil yang menjadi bakti terakhir manusia bagi yang telah meninggal.

BACA JUGA Omnipotence Paradox: Bisakah Tuhan Menciptakan Batu yang Tak Bisa Tuhan Angkat? dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 Januari 2022 oleh

Tags: adatJogjakuburanmakamtanah
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

4 Keuntungan Punya Rumah Dekat Kuburan yang Jarang Disadari Orang Mojok.co

4 Keuntungan Punya Rumah Dekat Kuburan yang Jarang Disadari Orang

1 Mei 2025
5 Hal Normal di Lamongan tapi Susah Ditemukan di Jogja, Bikin Culture Shock Perantau

5 Hal Normal di Lamongan tapi Susah Ditemukan di Jogja, Bikin Culture Shock Perantau

17 September 2024
Jalan Godean Tembus Kulon Progo- Rute Anak Tiri (Unsplash.com)

Jalan Godean Tembus Kulon Progo: Rute Anak Tiri

25 Agustus 2022
Pakuwon Mall Jogja: Mall Mewah, tapi Parkir Mobil Susah Mojok.co

Pakuwon Mall Jogja: Mall Mewah, tapi Parkir Mobil Susah

4 Juni 2025
Danais Jogja Triliunan, tapi Mbah-mbah di Jogja Tetap Tidur di Trotoar

Danais Triliunan, tapi Mbah-mbah di Jogja Tetap Tidur di Trotoar

12 September 2025
Pakuwon Mall Jogja Paling Bisa Menyiksa Pengendara Amatir (Pexels)

Dear Pengguna Mobil di Pakuwon Mall Jogja: Kalau Tidak Bisa Parkir, Tidak Usah Membawa Mobil ke Mall, Mending Naik Ojol Saja

9 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

UNNES Semarang Rajin Menambah Mahasiswa, tapi Lupa Menyediakan Parkiran yang Cukup

24 Februari 2026
Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingunkan Pengunjung Mojok.co

Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingungkan Pengunjung

20 Februari 2026
Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi Mojok.co

Bukit Menoreh, Tempat Wisata Kulon Progo yang Bikin Kapok untuk Kembali Lagi

22 Februari 2026
Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar Mojok.co

Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar

21 Februari 2026
6 Dosa Penjual Jus Buah- Ancam Kesehatan Pembeli demi Cuan (Unsplash)

6 Dosa Penjual Jus Buah yang Sebetulnya Menipu dan Merugikan Kesehatan para Pembeli Semata demi Cuan

26 Februari 2026
Al Waqiah, Surah Favorit Bikin Tenang Meski Kehilangan Uang (Unsplash)

Al Waqiah, Surah Favorit yang Membuat Saya Lebih Tenang Meski Kehilangan Uang

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”
  • Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya
  • Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.