Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Sulitnya Jadi Warga PSHT di Tengah Stigma: Bangga, tapi Juga Harus Siap Dicap Macam-macam

Mukhamad Bayu Kelana oleh Mukhamad Bayu Kelana
13 Agustus 2025
A A
Jadi Warga PSHT di Tengah Stigma: Antara Bangga dan Harus Siap Dicap Macam-macam

Jadi Warga PSHT di Tengah Stigma: Antara Bangga dan Harus Siap Dicap Macam-macam (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Punya seragam hitam dan sabuk putih di lemari itu kadang rasanya kayak punya dua identitas sekaligus. Di satu sisi, bangga karena itu simbol proses panjang dari latihan, jatuh-bangun, dan beratus kali keringat netes di lapangan latihan. Di sisi lain, harus siap pasang wajah datar kalau ada orang yang tiba-tiba nyeletuk, “Wah, PSHT, ya? Jangan berantem, Mas.”

Saya sudah tidak heran lagi, setiap kali bertemu orang baru dan mereka tahu saya anggota PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate), obrolannya hampir selalu belok ke urusan tawuran, rusuh, atau konvoi. Mungkin karena hal-hal itulah yang lebih sering tersorot media. Padahal, ada banyak sisi positif yang mungkin tidak banyak orang ketahui, dan justru saya alami sendiri sebagai warga PSHT. Tapi ya, itulah risiko punya atribut yang sering muncul di berita kriminal.

Masalahnya, stigma itu nggak muncul di ruang hampa. Memang ada oknum yang bikin rusuh, dan sayangnya yang terekam kamera atau masuk media selalu yang model begini. Jadilah citra PSHT di mata banyak orang identik dengan kekerasan. Padahal, kalau mau jujur, yang rusuh itu cuma sebagian kecil, tapi efeknya terasa ke seluruh anggota-termasuk yang kerjaannya cuma latihan, kerja, kuliah, dan tidur.

PSHT: dari lengah sitik agomo sampai dicap suka ribut

Sejak 2022 resmi menjadi anggota PSHT, saya sadar betul kalau atribut itu punya beban sosial. Pakai kaos hitam dengan logo di punggung saja sudah cukup membuat sebagian orang langsung menaruh perhatian, apalagi di tengah berita-berita miring soal PSHT. Nongkrong di warung kopi sambil pakai jaket sablonan PSHT? Bisa jadi ada yang diam-diam menilai, “Oh, ini yang sering ribut di jalan.”

Di lingkaran internal, gurauan itu malah sering jadi hiburan. Teman sesama anggota pernah bilang sambil menirukan sound TikTok yang lagi viral, “Lengah sitik, agomo,” sambil nunjukin logo di baju saya. Semua tertawa, tapi di balik itu kita sama-sama paham kalau kesan orang luar belum tentu sama dengan kenyataan di dalam.

Padahal kalau mau fair, perilaku rusuh itu nggak ada di ajaran resmi. PSHT berdiri dengan nilai persaudaraan, bukan permusuhan. Tapi stigma memang bandel sekali melekat, susah dihapus. Orang lebih gampang mengingat berita kerusuhan yang viral di Instagram ketimbang cerita bakti sosial yang sepi liputan.

Sisi baik yang jarang orang lihat

Kalau orang mau datang ke tempat latihan, mereka bakal lihat sesuatu yang berbeda jauh dari gambaran di kepala. Di sana, kami diajari sabar, disiplin, dan saling menghormati. Latihan bukan cuma soal pukulan dan tendangan, tapi juga soal mengendalikan diri. Ada filosofi yang diajarkan: “Ojo seneng gawe susah wong liya” (jangan suka membuat susah orang lain). Ironisnya, pepatah ini jarang disebut ketika PSHT dibahas di luar

Saya pribadi banyak merasakan manfaat dari bergabung. Fisik jadi lebih kuat, mental lebih tahan banting. dan yang paling penting, punya jaringan saudara di mana-mana. Pernah suatu kali, saya bepergian ke kota lain, nggak kenal siapa-siapa, tapi karena ketemu sesama warga PSHT, langsung disambut, dikasih makan, dan bahkan diantar pulang. Itu momen yang bikin saya sadar, persaudaraan ini nyata, bukan sekadar slogan di spanduk latihan.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Selain itu, ada juga kegiatan sosial yang rutin dilakukan seperti donor darah, kerja bakti, sampai membantu korban bencana. Sayangnya, kegiatan begini jarang masuk berita. Sepertinya media memang lebih doyan berita bentrokan ketimbang berita bakti sosial.

Antara bangga dan harus waspada

Buat saya, jadi warga PSHT itu mirip punya medali. Bangga bisa meraihnya karena berhasil mendapatkan hasil latihan dari, tapi harus paham konsekuensi memakainya. Medali itu bisa jadi simbol kehormatan, tapi di mata orang lain, kadang dianggap sebagai tanda bahaya. Saya paham kenapa anggapan itu ada,  karena beberapa kali memang terjadi insiden di jalan atau bentrokan antarkelompok yang melibatkan oknum berseragam PSHT.

Tapi di saat yang sama, saya juga merasa penting untuk menunjukkan bahwa itu bukan wajah tunggal dari organisasi ini, dan ada banyak sisi lain yang layak dikenal orang.

Makanya, sebagai anggota, saya merasa punya kewajiban pribadi untuk jaga sikap. Bukan cuma demi nama baik saya, tapi juga demi nama organisasi. Kalau ketemu orang yang langsung menilai negatif, saya coba tunjukkan lewat tindakan bahwa nggak semua warga PSHT itu keras kepala atau hobi bikin masalah. Nggak selalu berhasil mengubah pandangan, tapi minimal mereka punya gambaran lain selain berita buruk.

Akhirnya, saya paham bahwa citra PSHT nggak akan berubah hanya dengan kata-kata. Harus dibuktikan dengan perilaku sehari-hari. Kalau semua anggota mau ambil bagian menjaga nama baik, lambat laun stigma itu bisa luntur. Persaudaraan yang sejati bukan cuma di dalam lapangan saja, tapi juga di luar termasuk persaudaraan dengan mereka yang awalnya memandang kita miring.

Penulis: Mukhamad Bayu Kelana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Derita Orang Madiun, Mau Sombong ke Daerah Lain tapi Kena Cap Jelek karena Ulah PSHT hingga Dicap Sarang PKI

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2025 oleh

Tags: kerusuhan PSHTkonflik PSHTPSHTPSHT 1922PSHT Madiunstigma PSHTwarga PSHT
Mukhamad Bayu Kelana

Mukhamad Bayu Kelana

Mahasiswa Sarjana Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Trauma Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Menderita Mojok.co

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

31 Maret 2026
Makanan Malang yang Membuat Saya sebagai Perantau Kecewa, Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

1 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Saya Setuju Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup
  • Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial
  • WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?
  • Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi
  • Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna
  • Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.