Suka Duka Mahasiswa Asal Indramayu, dari Dianggap Norak Sampai Ngaku dari Cirebon

Artikel

Avatar

“Kamu, asalnya dari mana?”

“Indramayu.”

“Indramayu? Oh yang…yang mana ya?”

Kita semua tahu, bahwa Indonesia adalah negara yang sangat luas dan beragam. Walaupun nggak sebanding dengan maps Minecraft yang nggak ada ujungnya, kita cukup kewalahan kalau ingin tahu segala informasi yang ada di seluruh penjuru negeri ini. jangankan menjajaki sabang sampai merauke, terkadang kita juga nggak tahu seluk beluk daerah sendiri.

Suku dan budaya yang sangat banyak kadang membuat otak kita overload sampe nggak bisa ingat apa-apa. Ditambah lagi terakhir ngapalin begituan pas waktu kita masih SD, jelas itu udah ketutup sama beban hidup yang kita alami. Kalau emang dipaksa menyebutkan nama suku di Indonesia, paling mentok kita cuma tahu Jawa, Sunda, Batak, Minang, dan…apa lagi ya?

Jarang sekali terdengar kata Indramayu, kalah pamor sama boyband dan girlband Korea. Bahkan jumlah penduduknya pun kalah telak dibanding subscriber Atta Halilintar. Saking tidak terkenalnya, pedagang tahu bulat juga belum ada. Enggak deng, bercanda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Indramayu adalah kabupaten di bagian timur laut provinsi Jawa Barat, terkenal dengan sebutan kota mangga.

Sebagai seorang mahasiswa yang harus merantau keluar dari Indramayu, saya harus mengalami suka duka tentang pandangan dan stereotype orang-orang terhadap asal-usul kami. Suka duka tersebut akan saya ceritakan di bawah.

Disangka dari negeri antah berantah

Karena memang nggak terlalu terkenal, saya sering meladeni pertanyaan Indramayu itu di mana. Kita nggak boleh marah sampe menggebrak meja lalu berdiri dengan gagah dan berbicara nasionalisme dengan semangat berkobar kobar. Cukup bilang kalau indramayu itu salah satu kabupaten di Jawa Barat yang dikenal dengan kota mangga yang berada di pesisir utara ( sambil senyum ala tour guide).

Baca Juga:  Sambat Sejenak : Duh Iuran BPJS Kesehatan Naik Dua Kali Lipat

Mengaku orang Cirebon

Saat semua penjelasan kita nggak bisa tersampaikan dengan baik kepada orang yang bertanya sedangkan pertanyaannya semakin brutal dan tak terkendali, biasanya kami memakai jurus alternatif dengan mengaku sebagai orang Cirebon. Karena memang Cirebon sedikit agak dikenal. Tapi jika ada pertanyaan-pertanyaan susulan, itu akan menjadi senjata makan tuan bagi kita, karena harus menjelaskan kota Cirebon yang kita juga tidak terlalu paham.

Orang Jawa Barat tapi nggak bisa bahasa Sunda

“Oh..Indramayu tuh di Jawa Barat ya, bisa bahasa sunda dong”

Secara geografis Indramayu memang termasuk salah satu kabupaten di Jawa Barat. Namun secara budaya kami merupakan kaum minoritas yang dikelilingi dan didominasi suku sunda. Pertanyaan itu muncul karena stereotype bahwa Jawa Barat adalah Sunda dan Sunda adalah Jawa Barat. Kami punya hak prerogatif sendiri, jangan suka disama-samain lah. Tahu kan rasanya saat kamu udah menjadi dirimu sendiri tapi dibanding-bandingin sama orang lain, sakit.

Tapi kenapa nggak bisa bahasa Sunda? Em….

Dianggap norak dan kampungan

Karena memang sebagian besar wilayah Indramayu merupakan persawahan, masih sedikit tempat hiburan yang dapat dikunjungi. Joke yang mengatakan bahwa kita datang ke ATM atau minimarket cuma buat ngadem itu masih sangat relatable dengan kehidupan kami.

Yang makin menambah image kampung pada kami adalah nama. Masih banyak teman-teman saya yang namanya seperti mas-mas pedagang di festival jajanan Bango, bahkan lebih cocok diucap sebagai jampi-jampi ritual memanggil hujan. Padahal kalau dilihat dari makna namanya, nggak jelek-jelek amat. Tapi, ya sudahlah.

Outfit saat kuliah pun cukup sederhana, baju kemeja, celana bahan, sepatu futsal begitu kata Ridwan Remin dalam stand up comedy-nya. Kata orang nggak apa-apa jelek asal rapih, walaupun saya nggak sepenuhnya percaya. Karena orang jelek kalau rapih, hanya akan menjadi orang jelek yang rapih aja, tetap tidak akan menarik.

Baca Juga:  Wajah Lain Kabupaten Ciamis yang Perlu Kamu Tahu

Paguyuban mahasiswa sedikit

Karena tidak terlalu banyak siswa yang melanjutkan ke jenjang kuliah, hal yang saya rasakan adalah anggota paguyuban mahasiswa yang sepi. Berbeda dengan anggota paguyuban daerah lain yang punya basis cukup besar sampai nggak bisa dihitung pakai jari tangan, harus pakai jari kaki, jari kaki, kaki seribu. Bahkan saking sedikitnya, sampai kurang kalau ingin membentuk dua tim futsal untuk sekadar main bareng.

Itulah sedikit referensi buat teman-teman jika bertemu dengan salah satu dari bangsa kami. Karena tidak semua orang Indramayu bisa sabar dalam menghadapi serangan etnosentrisme. Jangan udik ngatain udik aja yang penting.

Sumber gambar: Akun Twitter resmi Kabupaten Indramayu

BACA JUGA Teori Soal Kenapa Orang Sunda Tidak Menikah dengan Orang Jawa.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
24


Komentar

Comments are closed.