Suka Duka Jadi Penagih Utang di Malaysia, yang Sebenarnya Kebanyakan Dukanya

Suka Duka Jadi Penagih Utang di Malaysia, yang Sebenarnya Kebanyakan Dukanya terminal mojok.co

Suka Duka Jadi Penagih Utang di Malaysia, yang Sebenarnya Kebanyakan Dukanya terminal mojok.co

Sembari bertemu dengan Karyadi, junior saya semasa SMA dulu di perjalanan menuju stasiun LRT Masjid Jamek, saya mendengarkan curhatannya tentang duka-dukanya mengenyam sebuah profesi yang amat jarang saya dengar diambil oleh orang-orang Indonesia di negeri seberang: tukang penagih utang (atau biar keren pakai bahasa Inggrisnya: debt collector).

Profesi tersebut didapatkannya sekitar lima bulan yang lalu. Satu-satunya hal yang bisa dibanggakannya tentang profesinya itu adalah sekurang-kurangnya ia keluar dari arus profesi kelas menengah ke bawah yang mainstream diambil oleh orang-orang Indonesia: kalau tidak buruh pabrik atau bangunan, ya asisten rumah tangga.

“Banyak orang mengira para penagih utang itu orang-orang yang tidak tahu ampun, penghisap darah, dan tahunya hanya uang. Padahal, Masbro, kami tidak ada bedanya seperti mereka: sekumpulan orang-orang yang berjuang demi sesuap nasi,” ungkap Karyadi dengan nada yang muram. Memang, di Indonesia dulu, tetangga saya yang bernama Bu Panji bahkan menyebut penagih kreditan keliling di kompleks saya yang bernama Pak Mardiman sebagai Setan Kredit..

Karyadi membuka curhatnya dengan porsi kerja yang harus dilakukannya setiap hari. Katanya, ia menagih utang melalui panggilan telepon. Ia akan dihadapkan dengan sebuah komputer beserta perangkat lunak khusus tagih-menagih utang. Di situ ia akan melihat segala detail tentang klien yang memberikan pinjaman, para pengutang, hingga berapa banyak jumlah total utangnya. Setiap hari ia diharuskan menelepon sekurang-kurangnya 150 orang dan mengingatkan para pengutang untuk membayar utangnya, atau memberitahu seseorang bahwa ia ada utang.

Klien pemberi pinjaman bermacam-macam: bank, korporat swasta, hingga lembaga pemerintahan. Karyadi kebetulan ditugaskan untuk memegang sebagian dari orang-orang yang berutang kepada sebuah lembaga pendidikan milik pemerintah Malaysia. Ia memberitahu saya bahwa sekarang ini, ia memegang sekitar 300 lebih file dan hampir sepertiganya tidak bisa dihubungi. Itu berarti ia tidak bisa mengumpulkan pembayaran dari file-file tersebut. Tidak bisa mengumpulkan pembayaran berarti periuk nasi miliknya yang akan terancam.

“Memangnya pendapatanmu tergantung oleh seberapa banyak pembayaran yang sudah kamu kumpulkan?” tanya saya. Karyadi mengangguk.

“Ya iyalah, Masbro. Di mana-mana yang namanya penagih utang ya rezekinya tergantung seberapa banyak ia bisa menagih utang orang, lah,” tandasnya. Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam sebulan, target minimal per individu di kantornya adalah RM30.000 (RM1 kurang lebih setara dengan Rp3.000). Jika dalam tiga bulan seseorang tidak bisa mencapai target ini, berarti sayonara. Akan tetapi, jika ia bisa mencapai lebih dari target minimal, maka 4% dari selisih di antara pembayaran utang yang dikumpulkannya dan target minimal per individu akan menjadi tambahan pendapatannya.

“Lha, berarti kalau kamu mengumpulkan RM31.000 sebulan, berarti kamu hanya akan dapat 4% dari RM1.000 gitu?” tanya saya. Karyadi mengangguk dan menambahkan bahwa jika seseorang pas mendapatkan target minimal, ia tidak akan dapat apa-apa kecuali gaji pokoknya.

“Rata-rata berapa ringgit orang membayar dalam bulanan?” tanya saya. Lantaran setahu saya, utang bisa dibayar secara angsuran. Atau setidaknya begitu kisah kawan saya yang pernah berutang dengan sebuah koperasi pemerintah Malaysia.

“Rata-rata sih pada bayar RM50 atau RM100. Lucu, utang sampai beribu-ribu ringgit, bayar cuma RM50, RM100. Alasannya anak banyaklah, kerja tidak menentu, gaji kecil. Lha kita mau bagaimana lagi? Mau dipaksa, nanti merekanya malah tidak mau bayar. Namun, kalau untung, ya ada jugalah orang-orang kaya yang bisa langsung bayar habis,” curhatnya lagi.

Ia lalu melanjutkan bagaimana ia sebenarnya makan hati juga harus menagih utang dari orang-orang kecil yang sebenarnya ia yakini bahwa hidupnya tidak lebih baik dari dirinya. Karyadi bercerita bahwa sekali waktu ia pernah kena marah sama bosnya karena mengizinkan seseorang membayar bulanan sebanyak RM20, padahal utangnya sebanyak RM1.500.

Karyadi sudah menjelaskan bahwa orang itu kerjanya hanya ceker-cekeran, dengan gaji tak lebih dari RM400 tiap bulan, dan ia harus menanggung anak-anak dan istrinya. Namun, bosnya tidak mau tahu dan mengultimatum Karyadi untuk meminta sekurang-kurangnya RM150 setiap bulannya.

“Terus, kamu minta?” tanya saya penasaran. Sambil memandang ke luar jendela LRT dengan sendu, Karyadi mengangguk.

“Ya, saya mintalah. Saya bilang bahwa atasan mewajibkan dia untuk bayar bulanan RM150. Kalau dia tidak mau, namanya akan diblok di seluruh bank di Malaysia sehingga dia tidak bisa membuat pinjaman pribadi, dan di masa depan dia harus berurusan dengan pengadilan kalau ingin membersihkan namanya,” kisah Karyadi.

“Terus jawaban si orang itu?”

“Dia bilang dia ikhlas. Dia cuma bisa bayar RM20 bulanan, tetapi kalau hukum memaksanya untuk bayar RM150, dia lebih ikhlas untuk diblok namanya ketimbang harus melakukan apa yang dia tahu dia tidak mampu.”

Karyadi pun terus berkisah bagaimana banyak pengutang di bawah kendalinya sebenarnya telah dipermainkan oleh lembaga yang menjadi kliennya. Ada yang mengaku bahwa sebenarnya dia dibujuk oleh agen lembaga tersebut untuk membuat pinjaman. Akan tetapi, akhirnya pinjamannya tidak bisa dibuat dan malah dia kena utang. Ada yang sebenarnya sudah bayar habis, tetapi ke akun bank yang salah. Ada yang sudah sakit menahun dan mengajukan surat pernyataan tidak mampu bayar, tetapi lembaga itu tetap memaksanya untuk membayar. Dan banyak hal lainnya yang membuat Karyadi harus makan hati.

“Dan mereka bilang, kami para penagih utang adalah orang-orang yang tidak bertimbang rasa. Padahal, kami pun sebenarnya tahu apa keadaan mereka. Dan kami tahu apa yang akan terjadi kalau mereka tidak mau bayar utangnya. Untuk menghindarkan mereka dari sebuah bahaya besar, kami harus berperan sebagai sebuah bahaya kecil yang bisa dengan bebas mereka kutuk,” ujar Karyadi menerawang.

Akan tetapi setidaknya, ia cukup puas dengan kerjanya. Hingga kini, ia sudah bisa mengumpulkan sekitar RM40.000 dan banyak pengutangnya yang menghadapinya dengan baik.

“Semua tergantung kepada bagaimana cara kita,” tutup Karyadi. Saya manggut-manggut dan menepuk-nepuk pundaknya, tanda persahabatan. Lalu sekitar lima atau tujuh menit setelah Karyadi mengakhiri kisahnya, saya pun bertanya dengan nada pelan, sopan, tapi tegas.

“Di, utangmu RM10 ketika kamu mau main di Cybercafe pas kamu masih kelas 10, mau dibayar kapan, ya?”

BACA JUGA Duka Menjadi Debt Collector yang Tidak Sangar dan tulisan Kurnia Gusti Sawiji lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version