Sudah Tahu Gim Gacha Itu Menyebalkan, tapi Masih Aja Dimainkan! – Terminal Mojok

Sudah Tahu Gim Gacha Itu Menyebalkan, tapi Masih Aja Dimainkan!

Artikel

Mari tertawakan The Changcuter yang mengatakan bahwa wanita itu racun dunia. Lantaran yang sebetulnya layak dikutuk disumpahi Eros itu adalah gim Gacha. Jika boleh memberi saran, gim ponsel apa yang sebaiknya dimainkan, lebih baik memainkan gim yang tercantum harganya di Play Store saja. Kalau tidak, main saja gim pabrikan Gameloft yang dijamin tidak memberi efek ketagihan berhujung petaka.

Begini, bukannya apa-apa, biasanya gim yang berlabel microtransaction atau in-game purchase adalah sebuah parasit yang menawarkan secara gratis di market, tapi sejatinya menyimpan jutaan ranjau di dalamnya. Gacha sebenarnya masuk subkultur pop di dunia gim di Jepang yang masuk dalam skema Bandai Namco. Muncul pada tahun 1977 yang berbentuk mesin keberuntungan bernama Gashapon.

Kalau versi anak SD zaman saya, Gacha itu seperti nyari huruf “N” dalam membentuk YOSAN. Sama, dalam mesin tersebut, ada beberapa item bagus dan ada item sampah. Ibaratnya, huruf A dan O dalam YOSAN itu adalah SR atau secret rare. Sedangkan N dalam kata YOSAN itu sama saja SSR atau super secret rare. Mau mengatakan Gacha itu judi atau adu nasib, ya sekiranya seperti itu.

Membicarakan sejarah Gacha memang tidak bisa tidak cukup dalam pembahasan kali ini. Namun, jika membicarakan tentang betapa pekoknya para penikmat gim Gacha, dalam tulisan kali ini saya akan libas habis. Terkhusus adalah gim Gacha dalam skema gim ponsel developer Jepang seperti Bandai dan Klab ID. Beberapa hal bodoh yang seakan menjadi tradisi, menyebalkan tapi sangat dinikmati.

Pertama, game play-nya yang kebanyakan “payah” tapi terselamatkan oleh karakter gimnya. Bandai misalkan, ia bekerja sama dengan anime-anime kawakan guna membuat gim yang menjual karakter-karakternya. Salah satunya adalah One Piece Treasure Cruise, permainan model tap-tap yang mengusung asas free-to-play tapi jika tidak dapat karakter bagus, ya permainanmu akan stuck di level tersebut.

Padahal game play-nya—bukan bermaksud merendahkan, sih—hanya tap-tap yang mengkombinasikan kejelian ketika hendak memencet layar saja. Seperti permainan bocah SD yang sedang kasih makan Pou. Atau kita dulu ketika memberi makan Tamagochi. Dibandingkan dengan gim Dingdong? Jelas asyik gim Dingdong.

Yang salah bukan Bandai selaku developer. Namun, konsumennya yang terbujuk pada karakter-karakter One Piece yang sangar itu. Iya dong, Bandai nggak salah, lha wong mereka doyan bikin gim mobile model ginian karena pangsa pasarnya selalu bagus. Dan yang bikin tambah bodoh, salah satu konsumen tetapnya adalah saya. Saya muntab begini bukan karena benci pada Bandai lantaran memberikan keampasan tiap Gacha, tapi kok ya saya betah main gim ini sampai level 310-an.

Ada lagi salah satu gim yang saya mainkan dan hanya mengandalkan karakternya saja. Yakni Tsubasa Dream Team yang bahkan pernah menggandeng trio legend Brazil. Tahun lalu menggandeng Nike dan Barcelona. Dua tahun lalu mengajak Real Madrid bersama Roberto Carlos-nya. Padahal, game play-nya sama saja, tap-tap dan menjemukan.

Kedua, probabilitas Gacha yang semrawut dan nggak bisa dijelaskan dengan logika. Biasanya gim Gacha menaruh presentase keberuntungan jika kita hendak mendapatkan player yang ingin di-rate up. Tsubasa Dream Team biasanya mematok 3%, itu pun ada ratusan player yang per-playernya hanya mendapatkan jatah 0,0 sekian persen saja.

Mudahnya, dari A-Z, kita hanya diberi 3 persen saja untuk memperoleh Y, O, S, A, dan N. khusus untuk huruf N itu diberi probabilitas 0,0 sekian persen. Benar, jika mendapat player yang diinginkan, itu rasanya kamu sedang dianak emaskan oleh Tuhan. Eh, jangan bawa-bawa Tuhan, deh, hmm, kamu sedang dianak emaskan oleh Dewa Gacha.

Mendapat player yang diinginkan, sesuai kebutuhan tim dan menjadi incaran, barangkali rasanya seperti Satoshi mendapatkan Articuno. Akan tetapi, segalanya menjadi mungkin jika kamu adalah player pay-to-win yang siap bakar rupiah untuk Gacha. Menggelikan? Namun, itulah realita yang ada di dunia gim Gacha.

Jika nomor satu dan dua digabungkan, pangsa pasar gim Gacha ini mengarah pada satu hal, yakni orang-orang yang berduit guna bisa bertahan (atau setidaknya bersaing) di top global. Padahal, kan, hanya gim tap-tap? Nah, itu dia, jika tidak memiliki player yang GG, sama saja seperti bawang kotong alias nggak bisa apa-apa.

Menurut survei pribadi saya, setelah masuk beberapa clan dalam gim One Piece Treasure Cruise dan Tsubasa Dream Team, kebanyakan dari mereka adalah yang sudah bekerja dan memiliki gaji tetap. Bahkan, salah satu member Kaskus ID, salah satu klub di Tsubasa Dream Team, ada yang sudah berprofesi menjadi dosen dan dokter.

Hal ini mengindikasikan bahwa zona nyaman yang diambil oleh developer gim Gacha di ponsel ini berhasil. Dengan membeli lisensi anime-anime ternama macam One Piece, Captain Tsubasa, JoJo’s Bizarre Adventure, Hunter x Hunter, hingga Naruto, sepayah apa pun game play-nya, hal ini tetap mendatangkan magnet bagi para penikmatnya yang ingin nostalgia.

Tajuknya ya nostalgia berujung petaka. Keluar uang belum tentu player yang diinginkan nyantol. Bahkan ada salah satu teman di clan pensi bermain game One Piece Treasure Cruise karena dimarahi istrinya lantaran blio terlalu boros. Mereka yang sudah bekerja saja mengeluh masalah probabilitas game dan memaksa playernya untuk pay-to-win. Nah, bagaimana dengan mahasiswa seperti saya? Lha wong ke burjo makan Indomie pakai telor atau nggak saja mikir-mikir dulu.

Gacha itu semacam pengadu nasib. Lucunya, ketika ada orang yang berdoa guna mendapatkan hasil yang bagus, mereka ini berdoa kepada siapa? Random number generator? Namun, di Jepang sendiri “mengadu nasib” seakan menjadi budaya. Omikuji dalam kepercayaan Shintoisme contohnya. Dengan mengambil di kotak dan ada kertas bertuliskan beruntung, lumayan beruntung, sedikit beruntung, hingga nasib buruk.

Ketika kita tua nanti bercerita kepada anak cucu kita, “Ada suatu tempat khusyuk bernama rental PS,” maka orang Jepang akan bercerita begini, “Ada suatu tempat layaknya surga bernama Pachinko.” Dan di masa kini, di mana gim sudah lebih mudah diakses dengan hadirnya ponsel pintar, budaya pop tersebut dengan cepat masuk dan dinikmati oleh masyarakat kita.

Gim Gacha memang menyebalkan, apalagi jika tidak mendapatkan player yang kita inginkan. Bahkan, ada yang mau Gacha dengan memastikan weton dan hari baik. Ada juga yang Gacha dengan ritus-ritus khusus yang mereka buat sendiri. Percaya tidak percaya (sebaiknya nggak usah percaya, sih), terlepas dari betapa ndableknya gim ini, terkadang ia menghadirkan konsep keberuntungan seseorang pada minggu atau bulan tersebut.

BACA JUGA 6 Game Komputer Jadul yang Layak Dikangenin dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Percayalah, Arsenal Juga Bahagia Melihat Emiliano Martinez Sukses Bareng Tim Lain

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.