Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Menempel Stiker Caleg di Rumah Warga Itu Cara Kampanye Problematik dan Nggak Kreatif!

Adhitiya Prasta Pratama oleh Adhitiya Prasta Pratama
17 Desember 2023
A A
Menempel Stiker Caleg di Rumah Warga Itu Cara Kampanye Meresahkan dan Nggak Kreatif!

Menempel Stiker Caleg di Rumah Warga Itu Cara Kampanye Meresahkan dan Nggak Kreatif! (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari yang lalu sempat viral seorang influencer dari Lumajang mencopot stiker caleg yang ditempel di rumahnya tanpa izin. Bukannya mendapat hal-hal baik, influencer tersebut malah mendapat somasi dari partai yang mengusung caleg itu. Saya pun bingung mau berkomentar apa. Lantaran hingga saat ini, model kampanye dari berbagai caleg, salah satunya masih melanggengkan model seperti ini, yakni menempelkan stiker di rumah warga.

Alih-alih mendapatkan perhatian lebih dari warga, model kampanye tersebut justru malah meresahkan warga. Apalagi jika saat menempel nggak memiliki izin dari si pemilik rumah. Malahan, bagi saya, model kampanye seperti itu adalah bentuk ketertinggalan. Selain nggak memiliki etika, juga menghilangkan nilai-nilai estetika. Pokoknya, jian nggak mashok blas wes!

Memasang baliho segede gaban memangnya masih kurang?

Padahal, memasang baliho yang besar-besar dan diletakkan di jalan-jalan hingga perempatan merupakan model kampanye yang paling umum dilakukan. Banyak dari kita menyadari kalau setiap mata memandang pasti ada foto-foto caleg lengkap dengan pose dan jargonnya. Di daerah rumah saya pun juga nggak ketinggalan soal itu.

Setidaknya, setiap 500 meter selalu ada gambar caleg yang segede gaban itu. Belum lagi di perempatan-perempatan lampu merah yang saling berjejer dan beragam. Maksud saya, apakah model seperti itu masih kurang untuk menggaet atensi warga? Sebab, bagi saya, baliho-baliho yang ada di jalan-jalan sudah cukup membuat polusi visual bagi masyarakat.

Peran media sosial yang harus ditingkatkan

Belum lagi saat ini peran media sosial juga sangat signifikan untuk model kampanye para caleg. Sebut saja Instagram dan Tiktok yang sama-sama memiliki peran besar untuk menggaet atensi publik. Dalam timeline dan FYP saya, setidaknya ada banyak kampanye-kampanye dari caleg. Ada yang kreatif, ada juga yang lempeng-lempeng saja.

Lantas, kok, masih ada para timses yang sengaja blusukan mendatangi rumah-rumah warga untuk sekadar menempelkan stiker caleg? Bukannya lewat foto dan video di medsos sudah cukup mboseni warga yang melihat? Lagian menempel stiker caleg di rumah sudah tanpa izin, dan hasilnya nggak ngaruh-ngaruh banget pula.

Selain nggak etik, menempel stiker caleg di rumah warga juga nggak estetik

Sudah cukup baliho-baliho yang segede gaban itu membuat polusi visual yang memuakkan warga. Lantaran nggak hanya di jalan saja, tapi sudah merambah ke banyak tempat yang seharusnya masuk zona bersih kampanye. Misalnya tempat wisata, sekolah, hingga masjid. Apalagi kalau urusannya dengan ranah privat warga.

Menurut saya, menempel stiker caleg di rumah warga tanpa izin ini perlu dipikirkan kembali karena sangat meresahkan. Pengalaman ini sempat saya rasakan sendiri. Ketika tahun 2019, kaca depan rumah saya setidaknya ada empat stiker, baik paslon presiden maupun caleg. Saya nggak tahu siapa yang memasang dan kapan waktu memasangnya, sebab nggak ada izin dari timses untuk menempeli stiker tersebut di rumah saya. Ibu saya yang mengetahui hal tersebut pun marah.

Baca Juga:

Jika Upin Ipin dan Anak-anak Tadika Mesra Nyaleg, Begini Gaya Kampanye Mereka

3 Ciri-ciri Caleg Red Flag Dilihat dari Poster Kampanye yang Dipakai

Selain marah karena sudah ditempeli stiker caleg tanpa izin, beliau marah karena saat membersihkannya pun juga butuh usaha lebih. Tahu sendiri, kan, bagaimana susahnya membersihkan stiker yang ketika dicabut ada bagian stiker yang tersisa? Itu susah membersihkannya, Bolo!

Yang ditempelin stiker caleg siapa, yang marah siapa

Maksud saya, apa nggak ada model kampanye lain selain itu? Maka aneh rasanya jika ada warga yang mencoba mencopot stiker tersebut dari rumahnya dan mendapat somasi. Padahal, mereka sendiri yang menempel tanpa izin di rumah seseorang, kan? Toh, rumah sendiri juga sudah bukan termasuk tempat publik. Jadi, nggak pas untuk kampanye, dong.

Kampanye itu memang sah-sah saja dilakukan, dan penting. Baik lewat baliho, gambar di medsos, hingga tempat-tempat publik yang memang sudah ditentukan. Maka, keliru jika ada timses yang menempelkan stiker caleg di sembarang tempat. Bahkan, ada yang menempelkan stiker di kursi angkutan umum, di pohon, hingga yang viral ini di rumah-rumah warga. Model kampanye seperti itu malah kurang efektif bagi saya. Sebab, memiliki kesan tertinggal. Selain jauh dari etika, juga mengurangi nilai-nilai estetika.

Penulis: Adhitiya Prasta Pratama
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Baliho Caleg Sudah Bertebaran: Udah Nyolong Start, Isinya pun Nggak Kreatif

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2023 oleh

Tags: kampanyestiker calegzona bersih kampanye
Adhitiya Prasta Pratama

Adhitiya Prasta Pratama

Seorang mahasiswa yang hobi baca apa aja di depannya.

ArtikelTerkait

Banjir Kota Batu

Banjir Kota Batu dan Twit Bu Menteri Adalah Bukti Kampanye Menjaga Lingkungan Dimulai dari Diri Sendiri Itu Bullshit

6 November 2021
Dear Pak Zulhas, Bapak dan Partai Bapak Tolong Jangan Sering-sering Bikin Emosi

Dear Pak Zulhas, Bapak dan Partai Bapak Tolong Jangan Sering-sering Bikin Emosi

22 Desember 2023
tato

Menggelar Acara Makan Gratis Memupuskan Stigma Negatif Saya pada Preman Pasar

6 Januari 2021
Baliho Caleg Sudah Bertebaran: Udah Nyolong Start, Isinya pun Nggak Kreatif bacaleg KKN

4 Tempat Nangkring Gambar Bacaleg yang Bikin Nggak Habis Pikir

30 Juni 2023
3 Ciri-ciri Caleg Red Flag Dilihat dari Poster Kampanye yang Dipakai

3 Ciri-ciri Caleg Red Flag Dilihat dari Poster Kampanye yang Dipakai

8 Januari 2024
Tiang listrik

5 Alasan Tiang Listrik Media Kampanye yang Lebih Efektik ketimbang Baliho

29 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak Ada Nasi Padang di Kota Padang, dan Ini Serius. Adanya Nasi Ramas! angkringan

4 Alasan Makan Nasi Padang Lebih Masuk Akal daripada Makan di Angkringan  

11 Januari 2026
6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet Mojo.co

6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet

13 Januari 2026
5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang Mojok.co

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang

12 Januari 2026
Jalan Daendels Jogja Kebumen Makin Bahaya, Bikin Nelangsa (Unsplash)

Di Balik Kengeriannya, Jalan Daendels Menyimpan Keindahan-keindahan yang Hanya Bisa Kita Temukan di Sana

13 Januari 2026
5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo Mojok.co

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

15 Januari 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan 

12 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.