Stereotipe Terkait Orang Kalimantan yang Bikin Ngakak, dari Juragan Batu Bara Sampai Suka Makan Orang

Stereotipe tentang Orang Kalimantan yang Bikin Ngakak, Dikira Orang Tionghoa Sampai Makan Orang Terminal Mojok

Stereotipe Terkait Orang Kalimantan yang Bikin Ngakak, Dikira Orang Tionghoa Sampai Makan Orang (Unsplash.com)

Apakah kamu orang Kalimantan yang juga sering mendapat stereotipe seperti di bawah ini?

Hidup di negara beragam etnis memang bisa memunculkan banyak keseruan. Salah satunya ketika sudah mencakup pandangan tentang suku-suku tertentu yang bagi kita kurang familier. Sedikit banyak saya pun beberapa kali mengalami “keseruan” ini.

Salah satu keseruan yang baru-baru ini saya alami adalah ketika saudara saya dari Kalimantan memutuskan kuliah di Jogja. Saya sendiri bukan orang Kalimantan, namun beberapa anggota keluarga saya ada yang menikah dengan warga pulau berjulukan paru-paru dunia tersebut, baik dengan suku Banjar maupun Dayak.

Dititipi anak orang untuk berkuliah di Jogja tentu bikin saya dan keluarga deg-degan. Namun di sisi lain saya jadi sering ketawa. Sebab, ada banyak komentar bernuansa stereotipe yang saya dengar dari beberapa tetangga rumah. Maklum, rumah saya berada di wilayah yang masih sangat pedesaan. Kebanyakan tetangga saya adalah pak tani dan bu tani yang hanya mendapatkan informasi dari TV.

Saya pernah memberi tahu sepupu saya soal komentar para tetangga yang lugu itu. Eh, sepupu saya malah antusias lantaran dia sering mendapat komentar serupa yang kadang justru bikin ketawa ngakak. Setelah kami sortir berbagai stereotipe yang kerap dilontarkan orang pada sepupu saya yang merupakan perempuan Kalimantan, setidaknya 5 anggapan ini yang paling sering dibicarakan.

#1 Orang Tionghoa

Sepupu saya memiliki kulit yang putih. Beneran putih dan bukan cuma kuning langsat, ygy. Kata dia sih sebetulanya ada juga orang Dayak dan Banjar yang berkulit sawo matang, tapi yang berkulit putih dan bermata sipit pun tak kalah banyak.

Gara-gara berkulit putih itulah sepupu saya sering dikira orang Tionghoa. Dia pernah jalan-jalan ke mal sendirian dan tiba-tiba dihampiri seorang sales yang memanggilnya, “Ce.” Begitu pula waktu di kampus. Baik dosen maupun teman-temannya selalu berasumsi dia orang Tionghoa.

Tapi ada satu kejadian yang nggak pernah saya lupakan terkait sepupu saya ini. Waktu itu kami sedang jalan-jalan di Candi Prambanan, hingga tiba-tiba ada serombongan siswa yang sedang study tour mengajak sepupu saya untuk berfoto bersama. Mereka mengira sepupu saya orang Korea! Kata sepupu saya, stereotipe yang satu ini justru seru, lantaran dia merasa bak selebriti. Wqwqwq.

#2 Miliarder pemilik lahan batu bara dan sawit

Sampai hari ini, Kalimantan memang menjadi pulau penghasil batu bara terbesar di Indonesia. Mungkin gara-gara itulah ada anggapan orang Kalimantan adalah juragan batu bara dan sawit.

Sepupu saya mengamini bahwa di desanya ada beberapa keluarga yang menanam sawit. Tapi, bukan berarti dia juragan yang hartanya nggak habis-habis 7 turunan, lho. Apalagi sampai dikira punya tambang batu bara.

Yah, meski sepupun saya pun mengakui bahwa dia kadang merasa kalap bak sultan saat berada di Jogja. Sebab, harga barang dan makanan di sini jauh lebih murah dibanding di tempatnya.

#3 Jago perang dan suka makan orang

Sebagai orang non-Dayak, saya selalu menganggap pakaian adat suku Dayak itu keren seperti pakaian penduduk asli Amerika. Namun, bagi anak tetangga saya yang masih SD, pakaian adat Dayak katanya mengindikasikan orang-orangnya jago berperang.

Lantaran yang ngomong anak-anak, tentu saya dan sepupu menganggapnya lucu-lucuan. Namun, sepupu saya ternyata pernah mendapatkan komentar yang lebih ajaib. Katanya dia pernah ditanya orang apakah dia suka makan orang.

Saking gemesnya ditanya begitu, sepupu saya mengiakan pertanyaan tersebut. “Iya, suka. Tapi kalau dimasak pakai cabai 5 kilo!”

Beberapa kali saya pun membaca curhatan orang Kalimantan di media sosial. Dan ternyata, mereka pun pernah ditanyai pertanyaan serupa. Waduh.

#4 Cakep semua

Ehem, poin keempat ini adalah poin khusus yang pengen di-highlight sepupu saya. Tapi berhubung yang punya ide nggak suka nulis, makanya saya yang akan menguraikan stereotipe ini.

Intinya gini, meski perempuan Dayak sering dianggap cantik-cantik, sebenarnya yang berwajah biasa pun banyak. Justru kata sepupu saya, dia kadang minder dengan ekspektasi orang-orang. Dia takut kalau ada yang berpikiran semua perempuan Dayak itu cantik, eh pas ketemu dia malah kecewa. Kan jadi canggung.

Sebagai sesama perempuan saya sih sepakat dengan pendapat sepupu saya. Saya pribadi sebagai perempuan Jawa sering dianggap sebagai perempuan yang lembut dan penurut. Padahal saya nggak ada lembut-lembutnya. Memangnya saya kapas dikatain lembut penurut?

#5 Punya ilmu gaib

Entah dari mana asalnya, banyak sekali cerita mistis yang beredar soal Kalimantan. Ini juga berlaku ketika seorang laki-laki hendak menikahi perempuan Kalimantan. Konon, si lelaki akan terikat oleh suatu hukum di luar nalar. Kalau si laki-laki nekat kabur, misalnya, alat kelaminnya tiba-tiba akan hilang begitu saja.

Suatu kali waktu masih di Kalimantan, sepupu saya pernah kenalan dengan cowok yang domisilinya di Jakarta. Waktu hubungan mereka makin romantis, meski cuma LDR, eh si cowok tiba-tiba mundur sambil minta maaf.

Sebab katanya, dia belum siap berkomitmen dan dia takut alat kelaminnya hilang kalau menyakiti perempuan Dayak. Hadeh. Boro-boro punya ilmu gaib, sepupu saya itu kalau mau ke kamar mandi sendirian malam-malam saja suka minta dianterin!

Yah, intinya sih stereotipe seperti ini memang cukup normal dan biasa kita jumpai di negara dengan beragam suku. Kadang anggapan-anggapan seperti ini justru bisa menimbulkan gelak tawa. Tapi, ada baiknya kita nggak terlalu terpaku pada anggapan yang belum jelas kebenarannya, apalagi kalau sudah mencakup hal-hal yang terlalu sensitif.

Penulis: Nar Dewi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Pengalaman Misterius dan Tidak Masuk Akal yang Betulan Kejadian Selama Tinggal di Kalimantan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version