“Enaknya turun Stasiun Magetan atau Stasiun Madiun ya?”, begitulah pertanyaan bimbang saya ketika bepergian menaiki kereta api dari Jakarta ke Magetan atau sebaliknya.
Bagi orang yang sering bepergian ke Magetan seperti saya, lewat jalur kereta api selalu menyisakan dilema. Pilihannya cuma dua yaitu turun di Stasiun Madiun yang ramai dan beradab, atau turun di Stasiun Magetan yang lokasinya bikin kita merasa sedang dikirim ke program transmigrasi.
Dulu, stasiun ini namanya Stasiun Barat. Nama yang cocok karena memang terletak di Kecamatan Barat. Tapi, mungkin karena pemerintah daerah merasa Magetan butuh branding yang lebih menjual, maka diubahlah namanya menjadi Stasiun Magetan. Sebuah upaya pemolesan citra yang niatnya baik, tapi tetap tidak bisa menutupi fakta bahwa stasiun ini sedang berusaha keras untuk menyaingi keglamoran Stasiun Madiun.
Vibe Stasiun Magetan yang bikin kalah telak dengan Stasiun Madiun
Jujur saja, turun di Stasiun Madiun itu rasanya seperti datang ke kota sesungguhnya. Keluar stasiun langsung disambut patung Merlion KW, lampu-lampu kota yang terang, dan akses makanan yang nggak habis-habis. Ada aura kota yang bikin kita merasa penting.
Bandingkan dengan turun di Stasiun ini. Begitu kaki menginjak peron, yang terdengar bukan riuh suara kota, melainkan suara jangkrik dan embusan angin yang menyapu sawah. Keluar stasiun, akan disambut deretan pangkalan ojek yang suasananya lebih mirip pos ronda daripada gerbang masuk sebuah kabupaten. Cocok banget buat orang-orang yang ingin “menepi”.
Akses transportasi yang bikin elus dada
Stasiun Magetan ini seperti adik kecil yang dipaksa memakai baju kakaknya tapi kekecilan. Secara status, stasiun ini kelas II, mencoba menarik minat penumpang dengan berhentinya beberapa kereta api jarak jauh yang dulunya cuma lewat. Padahal masalahnya hanya satu, yaitu akses.
Kalau turun di Madiun, mau ke mana saja gampang. Bus ada, ojek online melimpah. Kalau turun di Stasiun Magetan dan tujuan kita ke Plaosan atau Sarangan, sungguh ini perjuangan sekali. Apalagi di jam-jam malam, harus banyak bersabar jika ingin naik ojek online. Bagi yang suka tantangan ini sangat direkomendasikan, selamat mencoba!.
Upaya membendung popularitas yang tanggung
Perubahan nama sebenarnya adalah strategi untuk memutus ketergantungan warga Magetan terhadap Stasiun Madiun.
“Wong Magetan punya stasiun sendiri kok lewat Stasiun Madiun, malu-maluin”, logikanya seperti itu.
Tapi, membendung popularitas Stasiun Madiun dengan Stasiun Magetan itu ibarat mencoba membendung air laut dengan saringan teh. Selama fasilitas pendukung seperti angkutan pengumpan (feeder) dan kemudahan transportasi daring belum sinkron, siapa pun yang akan ke Magetan pasti tetap lebih memilih lewat Stasiun Madiun. Nggak masalah jarak makin jauh, asalkan saat turun kereta nggak bingung mau naik apa dan nggak susah cari warung makan.
Stasiun ini adalah tempat bagi mereka yang sudah selesai dengan urusan duniawi. Tidak ada ambisi untuk terlihat keren, tidak ada keinginan untuk pamer lampu kota. Ini adalah stasiun bagi kaum stoik yang menerima kenyataan bahwa datang ke Magetan memang butuh kesabaran ekstra.
Stasiun Magetan mungkin mengelak jika dinarasikan bersaing dengan Stasiun Madiun, kita sangat menghargai upaya ini. Stasiun ini tahu bahwa dia hanyalah tempat persinggahan bagi jiwa-jiwa yang rindu ketenangan sawah dan suara kereta yang menjauh di kegelapan malam.
Tapi tolong, sediakan warung makan di area Stasiun Magetan, biar calon-calon penumpang kereta api nggak kelaparan kalau kelamaan menunggu. Jangan karena jauh dari peradaban, hal dasar seperti makanan saja nggak tersedia. Itu saja.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Stasiun Walikukun Ngawi yang Membuat Saya Merasa Spesial
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















