Soto, Warisan Budaya di Khazanah Kuliner Solo yang Tidak Lagi Dianggap Makanan, tapi Cara Bertahan Hidup

Soto, Kuliner Solo Bukan Makanan, tapi Jimat Bertahan Hidup (unsplash)

Soto, Kuliner Solo Bukan Makanan, tapi Jimat Bertahan Hidup (unsplash)

Mencari kuliner Solo yang pas untuk sarapan? Jawabannya ada di depan mata dan kamu nggak perlu berpikir begitu keras. Yes, jawabannya adalah soto.

Ini bukan lantas kuliner Solo untuk sarapan itu terbatas. Jelas, Kota Budaya ini punya banyak makanan enak. Tapi entah bagaimana, soto selalu berhasil jadi jawaban paling masuk akal untuk memulai hari. 

Bahkan di titik tertentu, soto bukan lagi soal selera, tapi sudah menjadi kebiasaan. Maka, ketika mencari rekomendasi kuliner Solo untuk sarapan, biasanya, jawabannya tunggal dan kamu tahu apa.

BACA JUGA: 4 Kuliner Solo yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup, Salah satunya Sudah Menjadi Legenda

Definisi soto di dalam khazanah kuliner Solo

Di dalam khazanah kuliner Solo, soto itu punya definisi sendiri, yaitu makanan yang merepresentasikan kesegaran. Singkatnya, kalau mau “cari yang segar-segar di pagi hari”, jawabannya ya itu. 

Itulah dia. Kalau lagi nyari yang segar di pagi hari, biasanya yang terbayang jus dingin, es buah, atau makanan berkuah dingin lainnya. Tapi di khazanah kuliner Solo, “makan yang seger” sering justru berarti semangkuk soto panas dengan kuah bening yang mengepul sejak pagi.

Sebagai pendatang, saya agak telat menyadari fenomena ini. Ketika jalanan di pagi hari masih lengang, warung soto sudah penuh. Orang datang silih berganti. Seperti ada kesepakatan tak tertulis bahwa harimu nggak akan mulai kalau belum sarapan kuliner ini. 

Beberapa warung sudah buka sejak subuh. Seolah tahu bahwa kuliner Solo yang paling cocok untuk pagi hari tak jauh dari kuah hangat yang memberi kesegaran.

Lebih dari sekadar makanan

Sepanjang saya mengamati, sebetulnya, budaya makan soto ini bukan lagi sekadar mencari asupan makanan di pagi hari. Menengok ke dalam khazanah kuliner Solo, ia lebih dari itu.

Kamu pasti tahu kalau isian kuliner ini sebetulnya simpel dan berbeda di setiap daerah. Namun, di Solo, kebanyakan berisi nasi, soun, suwiran ayam atau sapi, tauge, seledri, dan bawang goreng. Kondimen yang menemani nggak jauh dari sate usus, keripik, krupuk, atau tempe goreng sesuai selera.

Sudah. Itu saja. Ia ringan, hangat, dan cukup untuk membuat orang merasa siap untuk bertahan hidup satu hari lagi menghadapi segala kerumitan.

Mungkin itu juga alasan kenapa pusaka kuliner Solo ini tidak pernah benar-benar kehilangan tempat. Bahkan ketika harga makanan makin naik, kuliner ini tetap berusaha bertahan menjadi makanan yang terjangkau. Sampai saat ini, saya masih menemukan ada soto dengan harga Rp2.500.

Memang, porsinya terbilang kecil. Namun, sedikit makanan, bagi banyak orang, sudah cukup untuk menambah keyakinan bahwa hari ini masih bisa diperjuangkan. Menurut saya, itulah yang membuat soto jadi istimewa dalam khazanah kuliner Solo.

BACA JUGA: 3 Kuliner Solo yang Bikin Culture Shock Lidah Sunda Saya: Soto Bening Bikin Laget Lidah Saya

Soto sudah menjadi warisan budaya kuliner Solo

Maka, di mata saya sebagai pendatang, soto sudah melebihi arti makanan. Ia adalah warisan budaya dalam khazanah kuliner Solo. Ia sudah menjadi kebiasaan yang tidak mungkin kamu hilangkan. Bahkan, ia juga penolong warga dengan dompet dan harapan yang tipis untuk berjuang setiap harinya. 

Warga tidak memperlakukan soto secara berlebihan. Namun, itulah yang membuatnya jadi istimewa dan penting.

Dan mungkin itu alasan kenapa orang Solo sulit jauh dari soto. Sebab kadang manusia memang tidak selalu mencari makanan paling mewah. Kadang, yang mereka cari cuma sesuatu yang hangat, murah, dan terasa akrab di perut maupun hidupnya sendiri.

Penulis: Putri Ardila

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Pengalaman Pertama Orang Surabaya Mencicipi Soto Bening di Pasar Gede Bu Harini Solo yang Sudah Berdiri Sejak Empat Generasi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version