Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pengalaman Saya Kuliah di Solo yang Bikin Bingung dan Menyiksa Mental “Anak Rantau” dari Sragen

Sonia Yuni Rahayu oleh Sonia Yuni Rahayu
13 Desember 2025
A A
Solo Gerus Mental, Sragen Memberi Ketenangan bagi Mahasiswa (Unsplash)

Solo Gerus Mental, Sragen Memberi Ketenangan bagi Mahasiswa (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai orang asli Sragen yang sedang kuliah di Solo, hidup saya terbagi dua ritme. Pagi saya jadi anak kota yang harus cepat bergerak, malam berubah jadi anak desa yang ritmenya jauh lebih pelan. 

Sragen dan Solo itu sebenarnya dekat, tapi rasanya seperti hidup di dua dunia berbeda. Banyak mahasiswa dari daerah sekitar Solo pasti paham kondisi ini.

ADVERTISEMENT

Sejak hari pertama kuliah, perbedaan dua kota ini langsung terasa. Solo memaksa saya berubah mode setiap turun dari bus, sementara Sragen menjadi tempat untuk menarik napas. Tanpa saya sadari, dua kota ini membangun keseimbangan yang unik dalam hidup saya.

Sragen damai, Solo ramai tanpa ampun

Sragen punya tempo hidup yang pelan dan stabil. Jalanan di sana lengang, suara nggak pernah benar-benar bising, dan hampir semua warung tutup sebelum malam benar-benar turun. Kita bisa menebak polanya. Ritme hidup di sana itu lembut dan suasananya menenangkan kepala tanpa perlu usaha.

Solo adalah kebalikannya. Dari pagi sampai malam, semuanya bergerak cepat. Jalanan ramai, mahasiswa ada di mana-mana menenteng tugas dan warung buka sampai larut. Kota ini menuntut kecepatan dan fleksibilitas. Suka atau tidak, kamu harus ikut ritmenya.

Ini bukan cerita unik dari saya yang asal Sragen saja. Teman-teman saya yang tinggal di daerah sekitar Solo pun mengalami hal serupa. Perubahan ritme ini memaksa kami cepat dewasa, karena kota tidak memberikan waktu jeda untuk beradaptasi.

Ritme berubah, saya ikut menyesuaikan

Sragen memberi ketenangan yang Solo tidak punya. Aktivitas terasa ringan, tidak ada tekanan mobilitas, dan hari berjalan stabil. Ketenangan itu membantu saya menjaga mental tetap waras setelah seminggu menghadapi kegiatan kampus.

Sebaliknya, Solo adalah tempat segala hal terjadi tanpa peringatan. Tugas datang tiba-tiba, rencana mendadak berubah, teman ngajak keluar tanpa aba-aba, dan dosen kadang membatalkan kelas secara tiba-tiba. Kota ini seperti memaksa kita belajar fleksibel setiap hari.

Baca Juga:

8 Kuliner Legendaris di Solo yang Sering Disebut dan Beneran Enak 

Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah ke Luar Kota Demi Kejar Gengsi

Pernah tetangga saya bilang, “Wong yo cedhak, ngopo ngekos?” Banyak orang menganggap PP Sragen-Solo lebih efisien. Tapi bagi saya, ngekos adalah latihan mandiri yang tidak bisa digantikan. Rumah memang dekat, tapi ruang berkembang butuh jarak.

Kos, nyasar, dan Google Maps yang sok pinter

Transportasi antara dua kota ini sebenarnya mudah. Motor, bus, atau nebeng selalu ada. Tapi perjalanan pertama survei kos justru penuh drama. Saya nyasar bahkan di area kampus sendiri. Google Maps sering memberi jalur aneh, dan saya cuma bisa pasrah.

Teman saya pernah menertawakan hal itu sambil menepuk bahu, “Ning Sragen apal gang-gang cilik, ning Solo kok iso nyasar ning kampuse dewe?” Saya cuma bisa cengengesan malu. Tapi jujur, banyak maba mengalami hal yang sama. Nyasar kampus sendiri adalah fase yang harus dilewati.

Ngekos juga mengajarkan hal-hal sederhana tapi penting. Mencuci, mengatur waktu, mengelola barang, sampai belajar makan seadanya ketika sedang malas keluar. Hal-hal kecil itu membangun kemandirian yang tidak diajarkan kampus.

Identitas ganda: Sragen bangga, Solo untuk penjelasan

Di Solo, saya selalu bangga memperkenalkan diri sebagai anak Sragen. Rasanya hangat membawa identitas kecil dari kota tenang yang selalu jadi tempat pulang. Teman-teman saya berasal dari banyak daerah, dan cerita asal kami justru membuat pertemanan jadi lebih seru.

Tapi ketika bertemu orang luar provinsi, biasanya saya jawab, “Dari Solo.” Bukan karena malu, tapi lebih praktis. Tidak semua orang tahu Sragen itu di mana, dan menjelaskannya panjang bisa menghabiskan energi. Identitas ganda ini tidak membuat saya bingung. Justru jadi hal yang umum dialami mahasiswa daerah.

Pulang mingguan: Merantau versi hemat jarak

Salah satu keuntungan kuliah dekat rumah adalah mudah pulang. Banyak mahasiswa sekitar Solo melakukan hal yang sama. Rumah memberi energi baru, sementara kos menjadi tempat fokus kuliah. Cucian pun sering saya bawa pulang, dan orang tua tidak keberatan selama saya tetap sehat.

Siklus ini menciptakan keseimbangan. Solo memberi tantangan, Sragen memberi ruang. Dua kota ini seperti dua sisi hidup saya yang saling melengkapi.

Dua kota, dua Ritme, satu kepala

Hidup di dua kota bukan sekadar soal jarak. Sragen mengajari saya tenang, Solo mengajari saya bertahan. Kadang saya kuat, kadang tersiksa, tapi tiap minggu saya tetap berjalan. Jika saya nyasar kampus lagi pun, saya cukup tertawa.

Sragen tetap rumah yang damai. Solo tetap kota yang menantang. Dan di antara dua dunia itu, saya tumbuh lebih kuat dengan tujuan yang tetap sama: lulus, kembali, dan bangga.

Penulis: Sonia Yuni Rahayu

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Sragen Dianggap Badut Jawa Tengah, padahal Punya Potensi yang Amat Hebat, tapi yang Terkenal Justru Hal Buruknya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Desember 2025 oleh

Tags: jawa tengahkampus di solokuliah di solosolosragen
Sonia Yuni Rahayu

Sonia Yuni Rahayu

Mahasiswa Semester 1 Universitas Sebelas Maret. Peduli isu gaya hidup anak kos. Setiap minggu rajin pulang ke kampung halamannya di Sragen.

ArtikelTerkait

Semarang dan Segala Isinya yang Menyiksa Mahasiswa Cikarang (Unsplash)

Bagi Orang Cikarang, Kuliah di Semarang Bisa Sangat Menyiksa meski Akhirnya Jadi Cinta Mati

29 Februari 2024
Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa

Sragen Daerah yang Cuma Dilewati, Tak Pernah Jadi Tujuan Orang karena Tidak Punya Apa-apa

20 Januari 2026
Rasisme Jawa Itu Nyata Dari Ngapak, Mataraman, sampai Arekan (Pexels)

Mencermati Rasisme Sesama Orang Jawa dari Ngapak, Mataraman, sampai Arekan

27 Januari 2025
Laksana Baru, Swalayan yang Punya Bioskop Andalan Masyarakat Cilacap Barat

Laksana Baru, Swalayan yang Punya Bioskop Andalan Masyarakat Cilacap Barat

27 September 2023
Kartasura, Kecamatan di Kabupaten Sukoharjo yang Ketularan Problem Perkotaan Mojok.co

Kartasura, Kecamatan di Kabupaten Sukoharjo yang Ketularan Problem Perkotaan

7 November 2025
Untidar Magelang Bukan Kampus Anak Manja (Unsplash)

Untidar Magelang Bukan Kampus Anak Manja yang Sukses Menanamkan Karakter Kewirausahaan

2 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu pindah ke Salatiga (Unsplash)

5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu banget mau pindah ke Salatiga

2 Agustus 2026
4 jasa yang nggak pernah kepikiran bakal ada, tapi saya temukan di Threads Mojok.co

4 jasa yang nggak pernah kepikiran bakal ada, tapi saya temukan di Threads

3 Agustus 2026
Akal-akalan loker isi survei dan nonton iklan online, menyedot banyak kuota, tapi hasilnya cuma cukup buat beli es teh Mojok.co

Akal-akalan loker isi survei dan nonton iklan online, menyedot banyak kuota, tapi hasilnya cuma cukup buat beli es teh

6 Agustus 2026
Alasan modal Rp100 miliar lebih baik "disulap" jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren Mojok.co

Alasan modal Rp100 miliar lebih baik “disulap” jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren

2 Agustus 2026
Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering Mojok

Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering rumahan

2 Agustus 2026
Berhasil kurangi medsos dan hapus pesan, seporsi kemenangan yang meringankan hidup saya Mojok.co

Berhasil kurangi medsos dan hapus pesan, seporsi kemenangan yang meringankan hidup saya

1 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.