Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Slow Bar Coffee Cenderung Tidak Menguntungkan, Kenapa Banyak yang Tertarik?

Riyanto oleh Riyanto
28 Oktober 2023
A A
Slow Bar Coffee Konsep Kedai Kopi yang Cenderung Tidak Menguntungkan, Kenapa Banyak yang Tertarik?

Slow Bar Coffee Cenderung Tidak Menguntungkan, Kenapa Banyak yang Tertarik? (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Flashback sejenak

Flashback ke dua atau tiga tahun lalu, saya sempat membuat liputan untuk Mojok mengenai sebuah kedai kopi sederhana dengan seorang Pak De yang siap mendengar ceritamu. Saya berbincang dengan Pak Sasongko, pemilik sekaligus pengelola kedai sederhana Omah Kopi Omah Sedulur. Di kedai itu, Pak Sasongko akan menjadi teman bicara bagi siapa pun yang membutuhkannya. Datanglah ke sana, dan apa pun masalahmu, akan didengar dengan baik oleh Pak Sasongko.

Sama seperti konsep slow bar yang saat ini marak, penokohan Pak Sasongko sangat kuat sehingga pelanggan selalu ingin berbincang dengan beliau. Kadang para pelanggan tak butuh nasihat ataupun timbal balik intens dari Pak Sasongko. Mereka hanya ingin didengarkan. Saya bertanya mengenai kenapa beliau harus repot-repot menjadi teman diskusi yang baik bagi setiap pelanggan. Pak Sasongko pun menjawab bahwa beliau memang menyukai diskusi. Di usianya yang tak lagi muda, memiliki teman diskusi adalah hal yang sangat menyenangkan.

Pak Sasongko juga menjelaskan bahwa apabila beliau merasa sedang tidak bisa menjadi teman diskusi yang baik, entah karena masalah pribadi atau apa, beliau memutuskan untuk tidak buka kedai pada hari itu.

Slow Bar dan para pedagang kaki lima

Melompat jauh ke talkshow di Malioboro Coffee Night, di hadapan para penggiat kopi mulai dari petani sampai ke para barista, saya bertemu dengan para narasumber yakni Mas Ferza dari Tadasih, Mas Ponco dari Pitutur, dan Mas Avis dari Darat Coffee Lab. Situasi malam itu sedikit tegang karena kebetulan salah satu konten reels yang saya buat beberapa hari sebelumnya cukup menggegerkan penggiat kopi di Indonesia dan membuat banyak pihak tersinggung.

Saya pun membahas mengenai kenapa masing-masing dari mereka memilih konsep slow bar, padahal jelas-jelas bisnis seperti itu memiliki banyak keterbatasan. Setelah berbagai jawaban diplomatis, dan seiring talkshow berjalan, ada satu narasi yang sangat menarik dari salah satu narasumber. Slow Bar bukanlah sesuatu yang luar biasa, terlebih karena di bidang lain, apa yang dilakukan pebisnis slow bar sudah umum dilakukan. Tidaklah aneh melihat sang pemilik kedai yang melayani pelanggannya seorang diri tanpa bantuan karyawan. Toh penjual bakso, penjual cilok, atau pedagang kaki lima pada umumnya juga melakukan hal yang sama. Terlebih para pedagang itu sudah melakukannya selama puluhan tahun dan akan terus melakukannya. Konsep slow bar sangatlah sesederhana itu, hanya saja di bidang kopi.

Tak terlalu banyak pro kontra pada diskusi malam itu. Hal menarik justru terjadi beberapa hari setelah acara. Saat saya bertemu dengan beberapa orang yang terlibat dalam event itu, entah itu panitia atau penonton, kami membahas mengenai diskusi saat event berlangsung. Satu hal yang disorot ya terkait analogi tukang bakso. Beberapa setuju. Beberapa yang lain merasa bahwa tidak semua tukang bakso ingin selamanya melayani pembeli seorang diri. Ada yang kalo rame ingin menambah karyawan. Ada yang kalau makin rame ingin buka cabang banyak. Bahkan ada yang ingin buka franchise.

Antara berdagang atau berbisnis

Dari diskusi-diskusi setelah event itu justru membuat saya berpikir hal lain. Lebih tepatnya adalah analogi lain terkait slow bar dan non slow bar. Mungkin benar, atau mungkin juga salah, saya merasa jika konsep slow bar itu bukanlah berbisnis, melainkan berdagang.

Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Banyak pedagang yang untung lebih banyak daripada pebisnis, dan ada pula sebaliknya. Terlepas dari semua itu, kehadiran slow bar bagi saya sendiri adalah penyegaran bagi industri coffee shop yang mulai gitu-gitu aja. Menariknya lagi, entah industri kopi—terutama di Jogja—yang mulai jenuh dengan konsep yang monoton, selain makin banyaknya slow bar yang bermunculan, ada bidang lain yang mulai bangkit, dan tidak kalah menarik untuk dibahas, yakni street bar coffee. Kita bahas lain waktu.

Baca Juga:

4 Usaha Paling Cuan di Desa yang Bisa Dilakukan Semua Orang

4 Alasan Saya Lebih Memilih Ice Americano Buatan Minimarket ketimbang Racikan Barista Coffee Shop

Penulis: Riyanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mengenal Musimin, Petani Lereng Merapi yang Menolak Pesanan Kopi dari Jepang 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 29 Oktober 2023 oleh

Tags: BisnisKedai Kopikeuntunganklinik kopikonsepPepengslow bar coffee
Riyanto

Riyanto

Juru ketik di beberapa media. Orang yang susah tidur.

ArtikelTerkait

reiner rahardja bisnis jual ludah pebisnis modal ludah mentoring bisnis mojok.co

Membedah Bisnis Jual Ludah versi Reiner Rahardja

4 Juni 2020
Nggak kayak Karyawan SCBD, 5 Alasan PNS Nggak Perlu Bikin Video Flexing Kantor Terminal Mojok.co

PNS Kaya Nggak Melulu karena Korupsi, Ini 5 Alasan PNS Bisa Kaya

26 November 2022
3 Bisnis yang Meraup Untung kalau Sound Horeg Tetap Lestari Mojok.co

3 Bisnis yang Meraup Untung kalau Sound Horeg Lestari

15 Januari 2025
Investasi Reksadana, Investasi yang Cocok untuk Kalian yang Nggak Mau Ribet

Please, Nggak Usah Latah Pamer Keuntungan Investasi Saham di Medsos

30 Januari 2021
bisnis pertemanan orang ruwet mojok

Sebelum Mulai Bisnis, Pastikan Rekanmu Nggak Ruwet

1 November 2020
Bisnis Es Teh Sesat: Lebih Banyak Es Batu daripada Tehnya

Bisnis Es Teh Sesat: Lebih Banyak Es Batu daripada Tehnya

6 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Lebaran Saatnya Masa Bodoh dengan Ocehan Tetangga (Unssplash)

Refleksi Lebaran Bagi Kepala Rumah Tangga: Tunaikan yang Wajib, Masa Bodo dengan Gengsi dan Ocehan Tetangga

14 Maret 2026
KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi (Unsplash)

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi

17 Maret 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Tinggal di Wonogiri Menyadarkan Kenapa Saya dan para Perantau yang Lain Memilih Mengadu Nasib di Kota Lain

19 Maret 2026
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik
  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa
  • Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.