Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Situ Yakin Lagi Quarter Life Crisis? Jangan-jangan Cuma Lagi Iri Aja

Sabrina Mulia Rhamadanty oleh Sabrina Mulia Rhamadanty
23 Oktober 2019
A A
quarter life crisis

quarter life crisis

Share on FacebookShare on Twitter

Namanya Quarter Life Crisis kalau di translate ke Bahasa Indonesia jadi krisis sepertempat abad, istilah ini sebelumnya tidak terlalu sering kita dengar tapi akhir-akhir ini lumayan santer dibahas di media-media mainstream hingga sosial media. Dari pembahasan yang mendalam oleh ahli kejiwaan hingga sambatan dalam thread twitter. Saya juga menyadari kalau saya mengalami krisis ini, terutama krisis dalam hal keuangan.

Perasaan minder, bingung, insecure atau sering membanding-bandingkan diri dengan orang lain jadi salah satu ciri-ciri Quarter Life Crisis. Mudahnya begini, saya melihat teman saya dapat pacar baru, pacarnya ganteng dan tajir kemudian saya mulai membandingkan dengan hidup saya yang gini-gini aja, tidak ada kemajuan yang berarti. Boro-boro punya pacar, ngedeketin cowok aja dia langsung kabur. Itu baru satu aspek, pasangan. Belum aspek-aspek lainnya seperti karir, keuangan, ketenaran dan lain sebagainya.

Quarter Life Crisis menurut penelitian yang dilakukan oleh First Direct Bank terhadap 2.000 millenial di Inggris ditandai dengan perasaan panik, penuh tekanan, insecure dan tidak bermakna. Ada dua unsur yang dapat mempengaruhi munculnya fase ini yaitu unsur internal yang lebih bersumber pada kebingungan kita dalam mengambil langkah selanjutnya dalam hidup dan unsur eksternal ini dipengaruhi oleh tuntutan-tuntutan sosial budaya disekitar kita, misalnya orang tua kita mendesak segera dapat kerja kemudian mereka membandingkan kita dengan anak tetangga yang sudah jadi pengusaha sukses tanpa membebani orang tua blablabala. Manusia pada dasarnya tidak mau dibandingkan, tuntutan ini itu dari sekeliling kita yang akhirnya menaruh kita di tengah krisis ini.

Ini pendapat saya mengenai Quarter Life Crisis. Dari sisi internal, kita tidak dapat membingungkan sesuatu tanpa adanya yang memancing kita untuk bingung. Pertimbangan-pertimbangan ini selalu datang dari luar, misalnya kita ingin melanjutkan kuliah di jenjang yang lebih tinggi tapi orang tua menuntut kita menikah dulu, punya anak, mengurus anak dan lain sebagainya. Faktor eksternal menurut saya lebih berperan besar dalam berkembangnya krisis ini yang katanya banyak menyerang milenial.

Saya agak bertanya-tanya sebenarnya Quarter Life Crisis yang dialami sebagian besar kaum saya ini benar-benar sebuah krisis kebingungan atau iri dengki yang terselubung. Saya jadi ingat dulu di kampung saya tidak ada orang yang punya mobil, satu-satunya mobil yang ada adalah mobil ambulan punya puskesmas. Sampai suatu hari salah satu tetangga saya beli mobil kijang. Saat itu saya masih SD, tapi walaupun tidak jadi pengamat mobil saya tau kalau mobil itu bukan mobil baru dan keluaran lama. Karena kejadian ini jadi heboh satu kampung, termasuk ibu saya. Beliau cerita begini-begitu tentang tetangga saya dan mobil barunya tapi karena saya cuman butuh kaki untuk pergi ke sekolah, jadi saya tidak perduli-perduli amat. Sampai beberapa bulan setelahnya ada tetangga saya lagi yang membeli mobil sedan, berita mengenai si kijang jadi hilang ditelan bumi karena ada berita si sedan.

Beberapa bulan setelahnya tetangga saya yang beli sedan itu masuk rumah sakit. Ibu saya, sebagai sumber informan paling up to date, tanpa saya tanya sudah bercerita kata beliau sedan itu dibeli dengan cara kredit tapi setelah beberapa bulan si tetangga saya ini tidak sanggup bayar cicilan hingga rumahnya sering disatroni debt collector. Rupanya pembelian sedan ini adalah bentuk tidak mau kalahnya tetangga saya dengan si pemilik kijang. Akhirnya dia stres sendiri dan masuk rumah sakit.

Kenapa saya merasa krisis ini sepertinya menjadi pembenaran atas iri dengki yang kita alami. Sekarang, kita dapat dengan mudah melihat semua kemewahan orang di sosial media. Instagram, Twitter, Youtube dan lainnya. Mulai pamer makanan, minuman, barang baru, pacar baru, motor, mobil, perhiasan kalau bisa buka pameran di sosial media supaya orang-orang tau apa yang mereka punya. Lalu kita sebagai penonton akan membandingkan dengan apa yang kita punya. Dengan makanan, minuman, barang, pacar yang tidak ada, mobil tidak ada juga, perhiasan apa lagi yang kita punya. Kita jadi menyimpulkan bahwa kita gagal dalam hidup karena tidak punya pameran dalam sosial media kita.

Lama-lama kita stres seperti tetangga saya yang beli sedan itu dan menyalahkan quater life crisis, lagi. Padahal memang kitanya saja yang menanam iri dengki.

Baca Juga:

Tidak Ada yang Lebih Menggelikan ketimbang Milenial Fosil Wannabe yang Ngejekin Gen Z Tiap Saat, Situ Iri?

Kenapa Gen Z dan Milenial Tak Beli Rumah? Karena Memang Tak Bisa. Gaji Sekecil Itu Berkelahi dengan Bunga KPR, ya Rungkad!

Saya tidak mau sok bijak, soalnya saya masih belum berhasil-berhasil amat sebagai manusia tapi ketika melihat kawan kita yang bisa sukses di usia muda, kaya raya dan bisa foya-foya lalu kita mulai membandingkan kehidupan kita terus kita mulai berfikir “Kok bisa ya dia seumuran sama saya tapi sudah lebih sukses?” sukses itu bukan hanya dari satu sisi, bisa saja secara karier teman kita itu sukses belum tentu dalam urusan pertemanan. Kita mungkin yang tidak sesukses dia dalam urusan karir nyatanya tidak pernah punya masalah dalam lingkup pertemanan, teman kita banyak dan tidak pernah punya musuh.

Kalau saya boleh bandingkan, saya jadi teringat dengan bapak tua berjanggut putih yang jadi lambang makanan cepat saji yang terkenal seantero dunia. Colonel Sanders di usia senjanya, yakni 65 tahun, ia baru sukses mendirikan restoran KFC dan resep ayam gorengnya disukai banyak kalangan. Kalau si Sanders ini hidup di zaman sosial media terus melihat teman-teman seangkatannya di SMA sudah ada yang jalan-jalan naik kapal pesiar sedangkan dia masih keliling-keliling jualan ayam saya yakin dia pasti kena Quarter life crisis juga.

Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Yang penting konsisten dalam mencapai tujuan. Coba kalau si Sanders berhenti di umur 64 tahun, mungkin saya tidak akan pernah merasakan enaknya kulit ayam dengan resep rahasia miliknya. (*)

BACA JUGA Quarter Life Crisis Ala Sobat Misqueen Twitter atau tulisan Sabrina Mulia Rhamadanty lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Maret 2021 oleh

Tags: insecureMilenialQuarter Life Crisis
Sabrina Mulia Rhamadanty

Sabrina Mulia Rhamadanty

ArtikelTerkait

Menjawab Alasan Mengapa Lagu Tulus Selalu Cocok Jadi Teman Terbaik Kala Insecure Melanda terminal mojok

Menjawab Pertanyaan Mengapa Lagu-lagu Tulus Selalu Cocok Jadi Teman Terbaik Kala Insecure Melanda

21 April 2021
aksi mahasiswa

Kalau Aksi Mahasiswa Jadi Revolusi, The Revolution Will Be Cute As Hell!

2 Oktober 2019
Kenapa Gen Z dan Milenial Tak Beli Rumah? Karena Memang Tak Bisa. Gaji Nggak Naik-naik, tapi Harga Properti Selalu Naik, Gimana Bisa Beli? KPR rumah

Kenapa Gen Z dan Milenial Tak Beli Rumah? Karena Memang Tak Bisa. Gaji Sekecil Itu Berkelahi dengan Bunga KPR, ya Rungkad!

21 Maret 2024
gaji bulanan

7 Tips Mengatur Gaji Bulanan Biar Nggak Cuma Numpang Lewat

21 Oktober 2019
anak muda jadi ASN. Pedoman Biar Lolos CPNS 2019: dari Pilih Formasi sampai Ngerjain Testnya!

Virus Corona bikin Anak Muda Mikir Ulang buat Kerja Jadi ASN

30 Mei 2020
bahagia walau tidak berguna, Quarter Life Crisis: Kenapa Kita Sangat Peduli Terhadap Angka

Quarter Life Crisis dan Alasan Kenapa Kita Sangat Peduli Terhadap Angka (Khususnya Gaji)

27 November 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebohongan Pengguna iPhone Bikin Android Jadi Murahan (Pixabay)

Kebohongan Pengguna iPhone yang Membuat Android Dianggap Murahan

18 Januari 2026
Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda Mojok.co

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda

15 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026
Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

16 Januari 2026
Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik Mojok.co

Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik

19 Januari 2026
KA Sri Tanjung, Penyelamat Mahasiswa Jogja Asal Banyuwangi (Wikimedia)

Pengalaman Naik Kereta Sri Tanjung Surabaya-Jogja: Kursi Tegaknya Menyiksa Fisik, Penumpangnya Menyiksa Psikis

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.