Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Sisi Pahit Punya Motor Custom Low Budget

Agung Setoaji oleh Agung Setoaji
13 Juli 2020
A A
motor custom mojok

motor custom mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Tujuh tahun lalu, saya pernah membangun motor custom. Bahannya, Yamaha Scorpio tahun 2003. Saya sengaja memilih konsep street fighter—mayoritas pecinta motor custom menyebutnya japstyle—karena biayanya relatif bersahabat.

Setelah sebulan menunggu, motor yang biaya perombakannya cuma menghabiskan tiga juta rupiah itu pun jadi. Meskipun kaki-kakinya masih pakai part saat sebelum dimodifikasi, masih menggunakan fork dan swing arm bawaan pabrik, bannya tapak lebar ukuran 17 inci, hasilnya lumayan gagah. Warna bodinya hitam mengilat dengan dua racing stripe putih membelah motor dari ujung spakbor depan melewati tangki sampai ke spakbor belakang.  Knalpotnya pakai knalpot stainles buatan Iron N Sun, yang kalau digeber bakal ngeblarrr sampai bikin orang jantungan.

Waktu itu, di kota saya motor custom masih jarang. Alhasil setiap dibawa jalan, tunggangan saya selalu menjadi pusat perhatian kaum pria terutama anak motor. Meskipun belum seujung kukunya buatan bengkel-bengkel custom terkenal, mengendarainya merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.

Sayangnya, bagian sukanya cuma sampai di situ saja. Bagian dukanya ternyata banyak. Apa saja? Nih saya ceritakan.

Sering dikira CB

Pada suatu hari, saya memandikan motor di tempat cuci steam. Saat saya sedang duduk menunggu motor selesai dimandikan, seorang bapak-bapak menghampiri saya.

“Motornya, Mas?”

“Iya, Pak.”

“Apik, Mas. Motor CB memang joss,” ucapnya sambil mengacungkan jempol.

Baca Juga:

5 Kasta Penunggang Yamaha NMAX, dari yang Hina sampai yang Paling Berbahaya

Penyesalan “Membuang” Yamaha F1ZR Marlboro yang Kini Harganya Naik Lebih dari 10 Kali Lipat

Jleb. Saya tahu, CB memang motor legendaris yang melekat di benak kawula tua. Tapi please, deh, Pak. Ini Scorpio. Lihat noh tulisan “FOUR” di head cylindernya. Menyamakan Scorpio dengan CB 100 adalah sebuah ketidak adilan. Secara power, Scorpio berbeda dengan CB bermesin oplosan Megapro sekalipun.

Menjelaskan sesuatu secara panjang kali lebar kepada seseorang yang tidak saya kenal bukanlah kebiasaan saya. Akhirnya saya memilih untuk manggut-manggut saja. Sialnya lagi, kejadian semacam itu bukan cuma terjadi sekali.

Tempat saya bekerja memberlakukan peraturan mengenai kendaraan pribadi: sepeda motor selain Yamaha dilarang masuk ke parkiran. Yang nekat membawa motor yang tidak sesuai peraturan, akan diberi dua opsi. Pertama, motornya akan dijemur di parkiran bus. Kedua, disuruh pulang.

Sebelum dimodifikasi, selama bertahun-tahun motor itu mengantar saya ke tempat kerja. Setelah dimodifikasi, saya tidak berencana mengubah kebiasaan itu.

Namun nahas, sekuriti gerbang bukanlah orang yang melek otomotif. Lagi-lagi motor saya dikira CB. Akibatnya saya harus mengklarifikasi dulu kalau motor saya adalah Yamaha Scorpio dengan cek nomor mesin dan nomor rangka segala.

Saya bisa membuktikan bahwa secara identitas,motor itu layak masuk. Sayangnya saya terbentur peraturan lain: tidak boleh knalpot racing dan bobokan–rupanya ini peraturan baru. Saya tetap disuruh pulang. Setelah hari itu saya memilih berangkat kerja dengan menunggangi Vega-R milik Ibu saya saja.

Sudah nggak bisa dibawa petakilan

Seperti saya bilang di paragraf pembuka, biayanya memang relatif murah. Meski begitu, tetap saja saya tidak bisa serampangan dalam menungganginya. Karena kalau sampai jatuh dan penyok-penyok, dengan track record saya dalam menungganginya tidak mulus-mulus amat, memperbaikinya lagi sangat ribet bin mahal.

Dulu, kalau jatuh dan bodinya lecet atau pecah. Tinggal ganti atau di-scotlite. Sekarang kalau penyok, harus dibawa ke tukang ketok magic dan dicat ulang. Belum lagi knalpot custom yang nggak sekuat knalpot pabrikan. Kalau dibawa nyungsep dan penyok, harus langsung ganti.

Tidak mau rugi, dengan setengah hati saya harus mengendarainya secara pelan-pelan. Paling kencang cuma 70 Km/jam saja. Lebih dari itu, bodi-bodi dan spakbor bergetar hebat. Pernah motor itu saya geber 80 Km/jam, sampai di rumah, lampu seinnya copot satu.

Belum lagi karena rangkanya dirombak, keseimbangan motor berubah. Jadi demi keselamatan, kalau ada yang ngajak balapan, saya cuma bisa pura-pura gak ngeliat saja. Pait.

Direndahkan kaum hawa

Tanpa cek harga ke aplikasi jual beli, cewek mana tahu mana yang lebih mahal antara Vixion atau Estrella. Mereka menganggap semua motor sport itu keren. Dan tampilan motor saya yang mirip motor jadul ini tentu saja tidak masuk definisi mereka perihal kekerenan.

Akhirnya saya harus menerima tatapan merendahkan dari para wanita setiap kali saya melewati mereka saat mengendarai motor custom.

Awalnya sih saya cuek-cuek saja ketika diperlakukan begitu. Namun lama kelamaan kok gerah juga. Seperti harga diri tengah dijadikan keset. Dada rasanya ngilu-ngilu gimana gitu.

Sering diasapi orang

Dulu, waktu masih berwujud Yamaha Scorpio, jarang yang berani macam-macam dengan saya di jalan. Kalaupun ada, mereka pastinya bermodalkan N250, Ninja RR, atau minimal Vixion.

Setelah menjadi mirip CB dan jalannya pelan-pelan, jangankan Vixion, sekelas Suzuki Smash saja berani mengasapi saya.

Kok gak diuber?

Gak ah, takut kalah, sakit.

Susah dijual kembali

Kira-kira empat tahun lalu, saya berniat menjual motor itu. Rencananya uang hasil penjualan akan saya belikan sepeda. Saya mengiklankan lewat media sosial dan aplikasi jual beli barang bekas. Namun setelah setahun lebih, tidak membuahkan hasil.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa motor modifikasian—kalau gak bagus-bagus amat—susah dijual kembali.

Untuk mengakali itu, biasanya para pemilik motor modifikasian akan merekondisi motor ketika mau dijual. Itu pun dengan catatan modifikasinya tidak terlalu ekstrem: cuma bongkar pasang bodi kit dan lampu saja.

Kenapa saya nggak melakukan yang mereka lakukan? Berat. Mengubah motor custom ke bentuk semula adalah proyek yang lebih rumit dari memodifikasinya. Biayanya juga lebih mahal. Apalagi kalau rangka sudah dipotong sana sini, harus beli rangka lagi. Mau untung malah buntung. Mau tidak mau saya cuma bisa bersabar menunggu pembeli.

Hingga sekarang motor itu belum laku terjual. Karena saya malas memakai, motor itu pun terbengkalai bertahun-tahun. Mesinnya mati. Ia pun teronggok seperti besi tua yang menunggu dikilo.

Sempat terbesit niat untuk menghidupkannya kembali. Lumayan, buat dibawa ngabuburit keliling komplek. Namun mengingat hal-hal yang kurang menyenangkan tadi dan untuk menghindari diri dari doyan touring lagi, memuseumkan motor itu adalah langkah yang paling tepat.

BACA JUGA Belajar Menerima Penolakan Cinta dari Naruto atau tulisan Agung Setoaji lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Juli 2020 oleh

Tags: modifmotor customyamaha
Agung Setoaji

Agung Setoaji

Ayah beranak dua. Hobi makan dan tidur.

ArtikelTerkait

motor honda astrea 800 Pol espargaro Honda scoopy Honda CT125 Honda CRF honda beat street motor matik MOJOK.CO honda c70

Bandingin Yamaha All New X-Ride 125 VS Honda BeAT Street, Pilih Mana?

12 Agustus 2020
Motor Yamaha Terbaru Kades dan Lurah yang Menyimpan Masalah

Motor Yamaha Terbaru Kades dan Lurah yang Menyimpan Masalah

6 April 2023
NMAX “Turbo”, Motor Yamaha yang Bikin Saya Menyesal

NMAX “Turbo”: Motor Yamaha yang Bikin Saya Menyesal karena Sudah Pernah Menunggangi, tapi Belum Bisa Memiliki

20 November 2025
Menjemput Dana Bansos Naik Yamaha NMAX (Shutterstock)

Wujud Orang Nggak Tahu Malu: Hidup Udah Sejahtera, tapi Tetap Makan Bansos, Ngambilnya Naik Yamaha NMAX Baru pula!

1 Februari 2024
Suzuki Pabrik Motor Paling Aneh, Bukannya Jualan Malah Ibadah (Unsplash)

Suzuki Memang Pabrik Motor Paling Aneh, Bukannya Jualan Cari Cuan, eh Mereka Malah Ibadah

12 April 2025
5 Motor yang Sebaiknya Nggak Dibeli Mahasiswa Baru karena Bikin Menyesal

5 Motor yang Sebaiknya Nggak Dibeli Mahasiswa Baru karena Bikin Menyesal

30 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Aerox 155 Connected Nggak Cocok Dijadikan Motor Ojol, Bikin Resah Penumpang Mojok.co honda air blade

Honda Air Blade, Produk yang Bakal Gagal Total Menantang Dominasi Yamaha Aerox

22 April 2026
Bangkalan dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia Mojok

Bangkalan Madura dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia

21 April 2026
Bukannya Menghilangkan Penah, Berwisata ke Curug Cimahi Justru Bikin Tingkat Stres Meningkat

Bukannya Menghilangkan Penat, Berwisata ke Curug Cimahi Justru Bikin Tingkat Stres Meningkat

18 April 2026
Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna Mojok.co

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

18 April 2026
Cisarua Bogor dan Cisarua Bandung Barat: Dua Daerah yang Beda, tapi Nasibnya Sama-Sama Terlupakan  Mojok.co

Cisarua Bogor dan Cisarua Bandung Barat: Dua Daerah yang Beda, tapi Nasibnya Sama-sama Terlupakan 

17 April 2026
3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak Mojok.co

3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak

21 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar
  • Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera
  • Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik
  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.