Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Sisi Gelap Pernikahan di Desa, Sudah Gadaikan Sawah Demi Biaya Hajatan, Masih Aja Jadi Omongan Tetangga

Wulan Maulina oleh Wulan Maulina
24 Juli 2025
A A
Sisi Gelap Pernikahan di Desa, Sudah Menggadaikan Sawah Demi Biaya Hajatan, Masih Aja Jadi Omongan Tetangga Mojok.co

Sisi Gelap Pernikahan di Desa, Sudah Menggadaikan Sawah Demi Biaya Hajatan, Masih Aja Jadi Omongan Tetangga (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Banyak orang mengira pernikahan di desa lebih murah dan mudah. Mungkin hal itu ada benarnya. Sebab, pernikahan di desa tidak memerlukan Wedding Organize (WO), katering, hingga dekor aestetik ala-ala seperti di kota-kota besar.

Selain itu, sifat kekeluargaan di desa membuat biaya material atau uang yang dikeluarkan tidak begitu besar. Semua biaya bisa ditanggung bersama. Mulai dari dekorasi hingga katering. Bahkan, bisa lho pernikahan di desa bermodal nol rupiah alias tidak modal sama sekali. Sistemnya ngebon dahulu. Nanti kalau hajatan pernikahan sudah selesai, tinggal totalan dan dibayar. 

Akan tetapi, tidak sedikit juga calon mempelai atau keluarga yang gengsi dan rela mengeluarkan duit banyak demi pesta pernikahan. Mungkin angka pengeluarannya tidak sebesar di kota-kota besar. Tapi, tetap saja, mereka mengeluarkan duit yang tidak sedikit. Bahkan, ada lho yang rela menggadaikan lahan sawah atau ladangnya. 

Berapa pun duit yang dikeluarkan, orang desa tetap perlu “membayar” hajatan di desa dengan mental kuat dari omongan tetangga. Dengan kata lain, mau berapa saja biaya yang dikeluarkan, bahkan hingga menggadaikan tanah sekalipun, pernikahan di desa nggak bisa lepas dari celaan tetangga

Omongan tetangga bak momok bagi warga desa. Apapun hajatannya pasti selalu ada saja satu atau dua selentingan komentar negatif terkait suatu acara. Untuk itu, saya coba menganalisis secara kecil-kecilan asal muasalnya, 

Pernikahan di desa tidak menggunakan WO, tapi tetap berjalan lancar

Keunikan dari pesta nikahan di desa ini walaupun nggak kenal dan nggak nyewa wedding organizer tapi tetap terlaksana dengan baik dan lancar. Ini bukan tanpa alasan karena biasanya tiap-tiap orang yang ditugaskan untuk membantu acara pernikahan, sebelumnya sudah sering menghandle pekerjaan tersebut. 

Misalnya bagian masak, pasti dari ibu-ibu yang pintar masak dan yang masakannya enak. Atau bapak-bapak yang ditugaskan pasang lampu pasti bapak yang paham dengan kelistrikan. MC atau pasrah panampi pun pasti di dalam desa atau dusun pasti juga punya pentolan masing-masing yang sudah jadi langganan. Pembagian tugas di desa biasanya dilakukan saat kankroh atau musyawarah acara pernikahan. Warga desa seperti sudah otomatis terplot tugasnya dan bisa membuat acara nikahan berjalan lancar.

Hajatan berlangsung berhari-hari

Di desa, ada lho warga yang rela ambil cuti kerja demi bisa srawung dan membantu tetangganya hajatan. Mereka dengan tulus membantu berlangsungnya acara nikahan yang biasanya hampir seminggu. Makanya nggak heran kalau biasanya mereka kecapekan setelah rewang atau membantu di hajatan tersebut. 

Baca Juga:

Cat Rambut di Desa Bukan Hal Sepele, Perubahan Kecil Itu Bisa Jadi Gosip Sekampung

Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil

Udah mengeluarkan duit dan tenaga buat membantu tetangga. Namun juga harus keluar duit buat pijat atau beli obat karena kecapekan. Biasanya sih mereka kelelahan dan berakhir kaki pegal atau bengkak, kepala pusing dan flu karena sering begadang, serta ada yang sampai mual eneg karena bau asap masakan hampir setiap hari.

Mungkin karena besar keterlibatan warga desa pada sebuah pernikahan mereka jadi merasa berhak untuk mengulas acara secara keseluruhan ya. 

Uang balen atau balik modal bagian yang “horor” dari nikahan di desa

Selain hajatan atau pestanya, topik pembicaraan yang cukup sering dibahas oleh warga adalah uang balen atau balik modal. Di desa, hal seperti ini sering jadi perbincangan. Sisi gelap yang cukup menyeramkan. 

Pada saat akhir acara pasti ada aja omongan tetangga yang kurang enak. Bahkan, si tetangga bisa tahu uang balen yang didapatkan. Uang balen adalah jumlah sumbangan amplop yang diterima si pengantin. Setelah  itu, mereka bisa mereka dan memperkirakan apakah pesta pernikahannya balik modal atau tidak. 

Begitulah desa dan segala dinamika kelekatan persaudaraan di dalamnya. Ada banyak sisi positifnya, seperti semua hal bisa dilakukan bersama-sama sehingga tidak terasa berat. Termasuk hajatan pernikahan. Namun, jangan abaikan sisi negatif yang tidak mungkin hilangan: omongan tetangga. 

Penulis: Wulan Maulina
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Hidup di Desa Terkadang Tak Lebih Baik ketimbang Hidup di Kota, Bahkan Bisa Jadi Lebih Buruk.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2025 oleh

Tags: Desahidup di desaPernikahanpernikahan desapernikahan di desa
Wulan Maulina

Wulan Maulina

Lulusan Bahasa Indonesia Universitas Tidar. Suka menulis tentang kearifan lokal dan punya minat besar terhadap Pengajaran BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Beranggapan memelihara kata ternyata lebih aman daripada memelihara harapan.

ArtikelTerkait

Pernikahan Sebagai Persepsi Happy Ending Adalah Pemikiran yang Sesat!

Pernikahan Sebagai Persepsi Happy Ending Adalah Pemikiran yang Sesat!

20 November 2019
Batas Usia Menikah, Aturan Negara yang Benar-benar Ada Gunanya

Batas Usia Menikah, Aturan Negara yang Benar-benar Ada Gunanya

11 November 2023
10 Lagu Bahasa Inggris yang Cocok untuk Pernikahan

5 Problem Utama di Tahun Pertama Pernikahan

26 Desember 2022
Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

15 Oktober 2025
bridal shower

Kepada Pelaku Bridal Shower di Tempat Umum: Dunia Bukan Milik Kalian Saja

26 Juni 2019
KKN itu Pengabdian Masyarakat, Bukan Menjilat Kelurahan (Unsplash) mahasiswa KKN, KKN di kota

Tolok Ukur Keberhasilan KKN Itu Bukan pada Jumlah Proker yang Berhasil, tapi Mahasiswa dan Desa Bisa Saling Belajar!

31 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara- Beli Mahal, dapatnya Bangkai (Wikimedia Commons)

Tragedi Nasi Rames Sancaka Utara: Membayar Tiket Eksekutif demi Uji Nyali Makan Nasi yang Sudah Almarhum

29 Maret 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026
Naik Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan Mojok.co

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

1 April 2026
Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.