Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Sisi Gelap Jadi Penerima Beasiswa Luar Negeri

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
26 September 2025
A A
Sisi Gelap Jadi Penerima Beasiswa Luar Negeri Mojok.co

Sisi Gelap Jadi Penerima Beasiswa Luar Negeri (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dahulu saya mengira, punya kesempatan jadi penerima beasiswa luar negeri dan pengalaman studi di “negeri orang” akan selalu indah. Bayangkan saja, saya bisa menjelajahi belahan dunia baru dan bertemu dengan orang yang benar-benar asing. Membayangkannya saja seru, apalagi menjalaninya secara langsung. Itu mengapa saya selalu mendambakan kesempatan itu. 

Keinginan saya pun terkabul. Saat ini saya sudah hampir setahun tinggal di Turki. Pada 2024 lalu, saya datang dengan beasiswa Turkiye Burslari atau YTB dari pemerintah negara sini. Setelah serangkaian proses seleksi, saya berhasil menginjakkan kaki di Negeri Ottoman untuk melanjutkan studi magister.

Jujur saja, sebelum datang, saya selalu menganggap bahwa tinggal di luar negeri itu pasti enak. Kalau ada susahnya, ya paling tantangan bahasa saja. Pada waktu itu saya pun berpikir pasti mampu melewati rintangan tersebut.

Setelah tinggal di sini sebagai penerima beasiswa luar negeri dan mahasiswa internasional, rasanya saya ingin mengucapkan alhamdulillah dan astaghfirullah secara bersamaan. Saya sangat bersyukur atas kesempatan yang saya terima. Namun, saya harus menghadapi sisi-sisi lain yang selama ini nggak pernah saya duga akan saya alami.

#1 Penerima beasiswa luar negeri bisa depresi dan overthinking hampir tiap hari

Selama tinggal di luar negeri, saya selalu membagikan momen-momen bahagia ke media sosial. Saat musim semi beberapa waktu lalu pun saya memamerkan bunga cherry blossom yang mekar begitu indah. Tidak lupa stroberi berukuran besar yang jarang ditemui di Indonesia. 

Memang benar, begitu banyak kebahagiaan yang saya rasakan di sini. Tapi, bohong rasanya kalau saya bilang tinggal di negeri orang itu mudah. Nyatanya, sulit sekali. Saking sulitnya, bisa dibilang hampir tiap hari saya overthinking. 

Banyak hal nggak bisa saya ceritakan ke keluarga. Kalau saya ceritakan, mereka malah ikut overthinking, terutama kedua orang tua. Saya nggak mau mereka khawatir dan cemas. Alhasil, segala hal yang terjadi di negeri orang ini saya telan sendiri. Semua kesedihan, kekecewaan, dan segala cerita yang bisa bikin mereka khawatir saya simpan sendiri. 

Ternyata, overthinking semacam ini tidak saya rasakan sendiri. Teman-teman mahasiswa internasional yang belajar di Turki juga mengalaminya.  Tinggal di luar negeri sendirian dan nggak mau membebani keluarga secara emosional ujung-ujungnya membuat kami merasa tersesat. Gara-gara hal ini pun banyak dari teman-teman saya yang memutuskan untuk menyerah dan kembali ke negara masing-masing.

Baca Juga:

5 Syarat “Terselubung” Beasiswa LPDP yang Jarang Orang-orang Bahas

5 Pekerjaan yang Bertebaran di Indonesia, tapi Sulit Ditemukan di Turki

#2 Tekanan akademis ekstrem

Secara umum, kuliah di luar negeri memang nggak gampang. Tekanan akademisnya jauh lebih berat dibandingkan kuliah di negara sendiri. Apalagi kalau dapat beasiswanya dari negara yang bersangkutan. Kesulitannya bisa berkali-kali lipat.

Saya misalnya yang dapat beasiswa dari pemerintah Turki, bahasa  pengantar kuliah  yang digunakan adalah bahasa Turki. Padahal, bahasa akademik Turki jauh lebih sulit dibanding bahasa sehari-hari. Itu mengapa, saat awal pindah sebelum mulai perkuliahan, saya harus belajar bahasa Turki terlebih dahulu hingga level C1. Asal tahu saja, level C1 itu susah betul. Bahkan, warlok Turki mengaku sulit untuk bisa  mencapai level tersebut hanya dalam waktu 9-10 bulan saja.

Selain itu, sistem pendidikan di sini pun berbeda dengan Indonesia. Di Indonesia, presensi dan keaktifan masih jadi tolok ukur penilaian yang bakal menolong kita untuk meraih IPK tinggi. Tapi, di sini ujian menjadi satu-satunya hal yang bakal menentukan besaran IPK kita. Bayangkan saja, sudah belajarnya pakai literatur dan pengantar bahasa Turki, ujian masih pakai bahasa Turki lagi.

Selain itu, administrasi akademik di sini kadang bikin puyeng sendiri. Misalnya, di tempat saya, pendaftaran ulang mahasiswa S1 dan S2 itu di lokasi yang berbeda. Saya juga mengalami berkas pendaftaran saya sempat hilang sehingga saya nggak bisa KRS-an. Ditambah petugas TU di Turki itu jauh lebih galak daripada di Indonesia.

#3 Beasiswa bukan berarti gratis

Mendapatkan beasiswa untuk lanjut kuliah ke luar negeri itu bukan berarti 100 persen akan gratis. Biasanya, administrasi pra-keberangkatan dan pra-pendaftaran tetap membutuhkan duit, bisa habis jutaan untuk mempersiapkannya.

Ketika sampai di sini pun jangan dikira hidup mahasiswa bergelimang harta. Rata-rata beasiswa yang disponsori oleh negara tujuan itu nominalnya mepet banget. Untuk saya sendiri sih alhamdulillah cukup. Saya nggak harus bekerja untuk menambal pengeluaran. Bahkan, saya masih bisa menyisihkan uang untuk jalan-jalan tiap bulan karena saya nggak sering jajan.

Hanya saja, kami para awardee YTB nggak diizinkan bekerja. Kalau ada awardee YTB yang bekerja, berarti mereka melakukannya diam-diam soalnya kami nggak punya izin kerja di sini. Tapi, mau gimana lagi, kebutuhan tiap orang berbeda-beda sehingga mereka nggak punya pilihan selain bekerja secara ilegal. Nah, bekerja secara ilegal ini bisa membuat beasiswa mereka dipotong atau dibatalkan.

Selain itu, awardee YTB juga selalu ketar-ketir tiap ada wacana penggantian presiden. Soalnya program beasiswa YTB itu dicanangkan dan dilakukan oleh Presiden Erdogan. Pada demo besar-besaran beberapa waktu lalu di Turki, kami sempat cemas karena kalau sampai presidennya ganti. Ada kemungkinan beasiswa kami pun nggak akan dilanjutkan.

#4 Adaptasi jadi makanan sehari-hari bagi penerima beasiswa luar negeri

Tinggal di luar negeri artinya hidup di antara lingkungan sosial dan budaya yang berbeda. Bukan hanya soal bahasa, perbedaan ini juga bisa tentang rasa makanan, style baju, hingga cara ngobrol dengan orang lain.

Saya nggak pernah berhenti beradaptasi ketika tinggal di Turki. Kota saya berlokasi di sisi timur Turki yang cukup gampang adaptasinya secara agama karena orang-orang di sini mayoritas memeluk agama Islam. Saya lebih sulit untuk beradaptasi ketika main ke kota-kota besar di sisi barat Turki yang cenderung lebih progresif dan liberal.

Akan tetapi, soal cara pandang, jujur saja saya masih berusaha beradaptasi. Kota-kota di timur cenderung masih konservatif. Mungkin itu karena piramida penduduknya didominasi oleh kalangan tua. Saya pun kadang pusing sendiri menghadapi pemikiran mereka yang sepantaran simbah saya.

Adaptasi lain yang cukup perlu waktu terkait makanan. Saya yakin tantangan mahasiswa internasional di negara lain pun sama. Lidah saya sudah terbiasa dengan makanan yang gurih, pedas, dan bumbunya melimpah. Eh, tiba-tiba saya harus berhadapan dengan makanan yang bumbunya cuma pakai garam, anyep, dan selalu ditumplekin yogurt di permukaannya.

Saya harus selalu jastip bahan makanan dari Indonesia agar bisa bertahan hidup. Baru-baru ini saya menghabiskan jutaan rupiah untuk mengirimkan bumbu-bumbu dari Indonesia untuk saya olah menjadi masakan di sini.

Hal-hal yang disyukuri

Selama tinggal di sini, syukurnya saya nggak pernah mengalami diskriminasi. Sejauh pengamatan saya, orang Turki itu menganggap kami, mahasiswa internasional, sebagai tamu. Hanya saja, orang-orang Turki cenderung ngegas ketika berbicara. Mereka bukan bermaksud marah. Tapi awalnya pun saya shock karena selama tinggal di Jogja, belum pernah saya mendapatkan respons seperti itu.

Menyoal adaptasi ini, ada pula mahasiswa yang kesulitan atau bahkan nggak mau hidup berdampingan dengan budaya Turki. Akibatnya mereka hidup dalam gelembung diaspora alias hanya bergaul dengan sesama orang senegara karena kesulitan berintegrasi.

Itulah sisi gelap menjadi penerima beasiswa luar negeri dan menghabiskan hidup tinggal di luar Indonesia. Tinggal di luar negeri bukan sekadar hidup tanpa kemudahan makan mie ayam dan batagor. Ada banyak hal yang harus dikopromikan dan prosesnya pun nggak instan.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Alasan Saya Betah Kuliah di UNY hingga S2 dari Awalnya Asal Pilih Saja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara Ini5 ya.

Terakhir diperbarui pada 25 September 2025 oleh

Tags: awardeebeasiswabeasiswa luar negerikuliah luar negeriluar negeripenerima beasiswa luar negeriturki
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

Betapa Mbelgedhesnya Cuaca, Ramalan Cuaca, dan Orang Inggris yang Ngomongin Cuaca terminal mojok

Betapa Mbelgedhesnya Cuaca, Ramalan Cuaca, dan Orang Inggris yang Ngomongin Cuaca

23 Agustus 2021
tinggal di eropa studi di luar negeri jalan-jalan keluar negeri mojok.co

Tinggal di Eropa Tidak Seindah Bayangan Orang Indonesia, tapi…

16 Juli 2020
4 Barang Indonesia yang Sebaiknya Dibawa Merantau ke Luar Negeri Terminal Mojok

5 Barang Indonesia yang Sebaiknya Dibawa Merantau ke Luar Negeri

12 Februari 2022
Beasiswa KIP Kuliah Bukan Tanda Mahasiswa Pecundang (Unsplash)

Mahasiswa Penerima Beasiswa KIP Kuliah Bukan Pecundang, Mereka Sama Seperti Anak Lain yang Punya Pilihan Hidup

6 April 2024
6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang sehingga Gagal Tembus Beasiswa LPDP

6 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang sehingga Gagal Tembus Beasiswa LPDP

24 Juli 2024
UAD universitas ahmad dahlan kuliah rasa pengalaman cara mendaftar kuliah di luar negeri mojok

UAD Cocok Untukmu yang Gagal Kuliah ke Luar Negeri

22 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Batik Solo Trans Memang Nyaman, tapi Nggak Ramah Mahasiswa, ke Kampus Harus Transit Sampai 3 Kali Mojok.co

Batik Solo Trans Memang Nyaman, tapi Nggak Ramah Mahasiswa, ke Kampus Harus Transit Sampai 3 Kali

29 Januari 2026
Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya Mojok.co

Pulang dari Jepang Bikin Sadar Betapa Bobrok Daerah Asal Saya

24 Januari 2026
Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri

Reuni Adalah Ajang Pamer Kesuksesan Paling Munafik: Silaturahmi Cuma Kedok, Aslinya Mau Validasi Siapa yang Paling Cepat Jadi Orang Kaya, yang Miskin Harap Sadar Diri

30 Januari 2026
Pengalaman Mencoba Coffee Gold Indomaret: Enak, Murah, tapi Bingung karena Kasir Indomaret Merangkap Baristanya

Pengalaman Mencoba Coffee Gold Indomaret: Enak, Murah, tapi Bingung karena Kasir Indomaret Merangkap Baristanya

24 Januari 2026
Jalan Klari Karawang, Jalan Maut yang Sulit Dihindari karena Jadi Penopang Industri

Jalan Klari Karawang, Jalan Maut yang Sulit Dihindari karena Jadi Penopang Industri

27 Januari 2026
Bagi Orang Bengkel, Honda Beat Adalah Motor Paling Masuk Akal yang Pernah Mengaspal MOJOK.CO

Bagi Orang Bengkel, Honda Beat Adalah Motor Paling Masuk Akal yang Pernah Mengaspal

28 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Album “Pamitan” Megadeth Jadi Eulogi Manis dan Tetap Agresif, Meskipun Agak Cringe
  • Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup
  • Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa
  • Sebagai “Alumni” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung 
  • Memfitnah Es Gabus Berbahaya adalah Bentuk Kenikmatan Kekuasaan yang Cabul
  • Waste to Energy (WtE): Senjata Baru Danantara Melawan Darurat Sampah di Perkotaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.