Si Bolang Adalah Alasan dari Hal-hal Random yang Pernah Saya Lakukan Saat Masih Bocah – Terminal Mojok

Si Bolang Adalah Alasan dari Hal-hal Random yang Pernah Saya Lakukan Saat Masih Bocah

Artikel

Tak ada yang lebih mengasyikan selepas sekolah selain menonton acara Si Bolang, acara documenter anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia. Si Bolang memiliki ciri khas aksesoris serba merah, baik itu tas, topi, hingga kain di leher. Cukup jelas digambarkan bahwa dia adalah bocah pemberani dengan simbol warna merahnya.

Si Bolang digambarkan sebagai sosok setia kawan, sering membantu teman. Dia juga digambarkan sebagai anak yang suka membantu pekerjaan orang tua, bahkan sampai pekerjaan-pekerjaan yang barangkali sulit dikerjakan anak-anak kebanyakan. Membuat saya kagum.

Dari sinilah kemudian ditampilkan kehidupan sosial budaya dari tempat tinggalnya kadang juga disertai narasi sejarah. Keragaman budaya begitu jelas digambarkan juga membuat orang tua saya yang turut menyaksikan berujar “Weh, kok isoh yo.” Wih. Weh.

Dari sisi edukasi, Si Bolang memberikan paket lengkap, lalu dari sisi hiburan tak kalah menarik. Dia membawa saya ke dimensi petualangan dan permainan bocah seusianya, yang barangkali belum pernah dilakukan bocah yang berbeda daerah seperti saya. Bagi saya dan teman-teman semasa kecil, dia adalah idola dan cerita petualangannya selalu menjadi trendsetter. Dan dari sinilah awal mula hal-hal random itu terjadi.

Pernah nggak sih kalian kepikiran makan capung? Hal yang baru terbesit saat salah satu episode Si Bolang bersama temannya berburu capung untuk kemudian dimakan. Hal yang aneh bahkan bagi saya yang tinggal di desa yang terbiasa makan serangga macam ulat jati, belalang, hingga jangkrik.

Cara mengolahnya pun jelas kami meniru Si Bolang yaitu dengan dibakar serta ditusuk layaknya sate. Itu baru capung, pernah di salah satu episode lebih aneh lagi, hal serupa tapi kali ini kalajengking. Beruntungnya saya sendiri tak pernah menemukan kalajengking di rumah, bisa-bisa saya sate bersama teman-teman. 

Berkat Si Bolang jugalah saya menambah khazanah permainan anak-anak kala itu. Pernah di suatu episode ada permainan bola api. Dengan sukarela saya bersama kawan-kawan patungan membeli solar lalu merendam kelapa kering untuk kemudian dijadikan bola api. Pernah suatu episode dengan permainan yang sama, tapi dari batu bata. Sebagai Bolangers sejati tentu saja kami mempraktikannya, setelah dipikir-pikir nyari kelapa kering susah juga. Entah bagaimana, kaki saya tak pernah lecet walau harus bertarung mengolah si bata api bundar. 

Di kampung saya tak pernah ada permainan semacam ini sebagai lungsuran budayanya. Si Bolang yang memperkenalkannya. Tetangga yang menyaksikan anak-anak pecinta bolang ini sampai sering berujar “Halah-halah, kayak Si Bolang,” setiap kami menemukan permainan baru.

Sebagai anak pedalaman, saya selalu antusias jika Si Bolang berasal dari daerah pesisir. Laut bagi saya ibarat Tottenham Hotspur dan trofi juara, jauh. Sehingga selalu ingin tahu kehidupan anak pesisir. Dulu saya selalu kagum dengan keluwesannya di dalam air dan sempat memimpikan hidup dekat dengan laut. Lalu membayangkan keluar rumah langsung bisa nyebur air. Suegerr. 

Aksi petualangan di laut juga sering kami tiru. Berhubung adanya  uma hulu sungai yang airnya tidak pernah lebih dari mata kaki atau biasa disebut kalen. Saya dan teman-teman sering menangkap ikan, berenang lalu mengolahnya menjadi makanan layaknya Si Bolang dari pesisir. Bisa dibayangkan betapa tidak kerennya kami. Ikan yang kami tangkap paling semacam ikan kotes (gabus kerdil) dan ikan cendol.

Hal-hal random yang pernah saya lakukan dulu barangkali tak akan pernah saya lakukan tanpa adanya Si Bolang. Saya beruntung sempat menjadi penggemar berat, yang membuat saya berani mencoba banyak hal baru, meskipun sebagian dianggap tak wajar. 

Apa pun yang anak tonton itulah yang akan anak tiru, seperti saya yang hanya ingin menjadi Si Bolang, si bocah petualang yang gemar membantu teman dan orang tua. Sosoknya, bagi saya, adalah sebenar-benarnya influencer, membuat masa kecil saya penuh kebahagiaan.

BACA JUGA Melihat Pertanda Kiamat dari Keberadaan Warung Burjo dan tulisan Dicky Setyawan lainnya.

Baca Juga:  Alasan Saya Nggak Pernah Bosan sama Upin Ipin

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.