Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Setelah Saya Baca Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma

Kalis Mardiasih oleh Kalis Mardiasih
16 Agustus 2021
A A
Setelah Saya Baca Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma terminal mojok.co

Setelah Saya Baca Lebih Senyap dari Bisikan karya Andina Dwifatma terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Pengalaman tubuh dan seksualitas adalah pengalaman yang begitu senyap, lebih senyap dari bisikan. Pengalaman tubuh Amara, protagonis sekaligus narator untuk keseluruhan cerita dalam novel karya Andina Dwifatma ini hampir sebagian besar tidak bisa saya pahami. Meskipun ia adalah seseorang dengan kelamin perempuan: sama seperti saya.

Amara memulai segala kerumitan hidupnya tepat ketika memutuskan untuk menikahi Baron. Pacar Amara sejak kuliah, yang menawan dengan daya tarik maskulinitas mutakhirnya dari penampilan hingga kepribadian itu, ditolak oleh Ibu Amara karena perbedaan identitas. Amara memulai pemberontakan pribadinya dengan lebih memilih Baron dibanding restu ibu. Ia lebih memilih kehidupan rumah tangga soliter bersama Baron layaknya pasangan kelas menengah Jakarta dibanding mengikatkan relasi romantis mereka dengan keluarga besar dan masyarakat.

Amara dan Baron adalah pasangan yang terjebak antara gairah menjadi modern dan internalisasi nilai tradisional yang mutlak tak bisa diabaikan dengan mudah. Mereka bersepakat memulai program hamil setelah lima tahun pernikahan dengan alasan yang sama sekali tidak ideologis. Teman-teman nongkrong mereka semakin sibuk dengan keluarga masing-masing. Hubungan mereka kian membosankan dengan rutinitas. Entah karena miskin imajinasi atau terbatasnya ruang hidup sosial, Amara dan Baron berpikir bahwa anak akan menjadi penghiburan rumah tangga. Kelak, setelah selesai membaca cerita novel ini, kau boleh memutuskan apakah praduga ini tepat atau tidak.

OK. Ini selipan curhat sebagai perempuan yang baru menikah 1,5 tahun (atau bisa dibaca sudah menikah hampir dua tahun lewat angle yang lain). Suatu ketika, menstruasi saya telat satu pekan dan payudara saya sebelah kanan nyeri dalam periode yang sama. Sepanjang hari saya memeriksa air kencing dengan testpack yang saya beli diam-diam tanpa sepengetahuan Agus (nama pasangan hidup saya). Hasilnya negatif. Berada di dalam kamar mandi sendirian memandangi satu garis di testpack dengan menyedihkan begitu, saya jadi bisa memahami doa-doa ratapan dari ribuan perempuan di kolom komentar channel YouTube berjudul “Ciri-ciri Awal Kehamilan”. Laki-laki tidak mengalami momen ini. Sperma muncrat tiap kali klimaks hanya meninggalkan rasa lega dan senang. Itu sudah.

Keesokannya, saya tahu saya mesti pergi ke dokter karena nyeri pada payudara saya bukan karena ciri kehamilan awal. Kuberitahukan padamu juga bahwa periksa nyeri payudara seharusnya bukan ke dokter Obstestri dan Ginekologi melainkan ke dokter bedah. Pengalaman itu membuatku membuang uang untuk konsultasi yang hanya dijawab bahwa aku salah pilih dokter. Dokter bedah perempuan yang amat ramah di RS bilang, nyeri dan benjolan itu berasal dari peradangan payudara. Sedangkan telat menstruasi itu biasa saja karena kelainan hormonal pasca menikah atau saya sedang lelah-lelahnya bekerja.

Baik. Mari kembali kepada Amara dan Baron. Amara adalah kita semua, perempuan yang semangat mendukung emansipasi. Namun kita tahu, di dunia nyata, perempuan mesti banyak-banyak menjadi pihak yang paling banyak maklum. Baron adalah wakil suami kita semua. Ia pasti pernah bersepakat perihal pembagian peran produktif, reproduktif, dan sosial semestinya setara, bukan berdasarkan jenis kelamin. Tapi, Baron adalah laki-laki pada umumnya yang menikmati kemewahan tradisi lama. Ia menjadi laki-laki yang hanya punya inisiatif, tapi baru benar-benar bergerak setelah disuruh.

Dari upaya-upaya menuju hamil yang nelangsa, pembaca lalu diajak serta untuk menghayati masa kehamilan dan melahirkan Amara yang dinarasikan dengan penuh banyol (maaf, banyol untuk dibaca saja karena sebetulnya letih jika dijalani). Amara merasakan kopi berasa air selokan di awal kehamilan, tidak mengalami pregnancy glow yang dijanjikan buku panduan kehamilan, dan rambut rontok hingga hampir botak.

Meskipun sama-sama perempuan, saya belajar banyak istilah. Periksa dalam, yakni ketika suster menyodok-nyodokkan jari secara manual ke dalam vagina untuk memeriksa bukaan 1 hingga 10. Juga adegan dokter yang lagi-lagi memasukkan jari-jari ke vagina untuk menarik keluar gumpalan-gumpalan darah mirip rempelo ati mentah pascamelahirkan. Bab-bab perencanaan hingga melahirkan ini, mutlak hanya bisa ditulis oleh novelis perempuan. Di sini, kehadiran novel Lenyap dari Bisikan jadi penting.

Baca Juga:

Menemukan Alasan untuk Tetap Hidup dalam Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Karya Brian Khrisna

Cara Terampuh Membasmi Nyamuk: Menjadi Dewasa Itu Sulit, Bahkan bagi Seekor Nyamuk Sekalipun

Perjalanan hidup Amara pascamelahirkan adalah pengalaman perempuan yang sering kudengar dari teman-temanku yang lebih dulu menjadi ibu. Aktivitas begadang untuk kegiatan menyusui yang membuat penampilanmu awut-awutan dan tidak menarik. Pekerjaan rumah yang awut-awutan. Keputusan sulit untuk meletakkan ambisi pribadi seperti karier di belakang kepentingan si bayi mungil. Ketidakbecusan memahami maksud gerak gerik bayi yang berujung kecemasan memuncak hingga kehilangan self-esteem. Krisis diri saat menjadi ibu.

Pernikahan Amara dan Baron tegang karena bencana ekonomi khas perkotaan. Mereka bukan pasangan miskin dari asal hingga tak mampu memenuhi kebutuhan dasar. Mereka sial karena salah perhitungan. Lebih tepatnya, Baron yang mendatangkan kesialan itu.

Saya betul-betul tidak punya keinginan membaca cerita ini dengan metodologi berpikir khas feminis. Saya menikmati Amara sebagai perempuan yang menikmati pergulatan diri tanpa mewajibkan dia menggugat banyak hal. Sampai saat cerita tiba kepada konflik-konflik menegangkan menuju klimaks. Ini adalah kepiawaian Andina Dwifatma. Ia bisa tiba-tiba memaksamu untuk megap-megap seperti ikan kehabisan air. Sama seperti novel pertama Andina Dwifatma berjudul Semusim dan Semusim Lagi, saya hampir menjerit karena twist demi twist yang terlalu mendadak. Tapi, bukankah sebagian takdir selalu hadir mendadak tanpa memberimu kesempatan untuk membuat kehadirannya jadi masuk akal?

Baron tiba-tiba jadi pecundang. Baron tiba-tiba jadi medioker: laki-laki yang tidak bisa mengelola diri sendiri saat gagal. Baron tidak bersedia menerima masukan Amara dalam masa krisis, sebab keputusan laki-laki harus selalu superior. Baron sekuat tenaga ingin membuktikan nilai maskulinitas mutakhir dalam dirinya: mengontrol, menguasai, mengambil tindakan, mengatur. Ketika Baron memilih berdiam diri, meninggalkan rumah hingga melakukan kekerasan fisik pada Amara, Baron sedang memangguli sendirian beban menjadi laki-laki dalam imajinasi budaya patriarkal itu. Saya benci mengatakan ini: pada akhirnya, Baron kehilangan man power.

“Mengapa Baron bisa tenang meninggalkan Yuki bersamaku? Apa karena aku seorang ibu dan dengan sendirinya aku tahu apa yang harus kulakukan dengan anakku? Seandainya situasi di balik, aku ingin tahu apakah aku sanggup meninggalkan Yuki dengan Baron sementara aku berkelana sekadar membuat perasaanku lebih baik.” (Halaman 120)

Paragraf itu, bukan cuma penyerta lamunan Amara yang sentimentil. Setiap perempuan mengalami apa yang disebut sebagai “reproduksi pengetahuan”. Reproduksi pengetahuan menjadi perempuan yang dimulai sejak kita dipakaikan pakaian perempuan, dilekati nilai-nilai sebagai perempuan, mempertanyakan ulang nilai-nilai itu, melupakannya, mempertanyakan kembali, mencoba melakukan pemberontakan senyap… dan seterusnya. Terkadang, reproduksi pengetahuan mengantar seorang perempuan menjadi diri yang tampil independen menurut masyarakat. Terkadang, reproduksi pengetahuan mentok jadi pengalaman batin saja karena keadaan. Setidaknya, kesadaran kritis (meminjam istilah Paulo Freire) itu pernah mampir.

Pada bagian penutup ulasan ini, kuceritakan padamu perihal Mami Amara. Mami Amara adalah wajah ibumu dan ibu kita semua. Ia terikat dengan nilai tradisional bukan karena memilih terikat, melainkan karena tak punya pilihan. Tapi seorang ibu, kau tahu, paling bisa jadi tempat pulang setelah upayamu melawan glass ceiling ternyata benar-benar membuatmu hanya menabrak dinding kaca yang menyisakan luka di sana sini pada keseluruhan tubuhmu.

Ibumu memberi kesempatan untukmu bergerak menuju nilai-nilai kebaruan dalam rangka menjadi perempuan yang berbeda dari dirinya. Diam-diam, kamu menyadari petulangan membawa tubuh dan seksualitasmu sebagai perempuan bekerja dengan begitu senyap, Lebih Senyap dari Bisikan….

BACA JUGA Melihat Perempuan sebagai Pelaku Kekerasan atau tulisan Kalis Mardiasih lainnya. Follow Facebook Kalis Mardiasih.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 Agustus 2021 oleh

Tags: Andina DwifatmaGaya Hidup TerminalLebih Senyap dari Bisikannovel
Kalis Mardiasih

Kalis Mardiasih

ArtikelTerkait

pembaruan update iphone fitur baru ios 14 mojok.co

4 Karakter Orang yang Nggak Cocok Pakai iPhone

13 Agustus 2021
sepatu futsal specs ortuseight mojok

4 Alasan Sepatu Futsal Ortuseight Lebih Baik Dibanding Specs

16 Juni 2021
Tugas Penyiar Radio Bukan Cuma Ngemeng Doang terminal mojok

Membedah Tugas Penyiar Radio yang Sering Dibilang Ngemeng doang

24 Mei 2021
Seserahan Ala Betawi yang Patut Dilestarikan Eksistensinya di Era 4.0 terminal mojok

Seserahan ala Betawi yang Patut Dilestarikan Eksistensinya di Era 4.0

10 Juni 2021
Dapet Free Pass ke Backstage Konser Bias Itu Bener-bener Halu terminal mojok

Dapet Free Pass ke Backstage Konser Bias Itu Bener-bener Halu, Nggak Usah Maksa!

8 Juni 2021

Jadi Pegawai Astra Honda Motor Adalah Kebanggaan bagi Kebanyakan Orang Tua di Desa Saya

14 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Piyungan Isinya CEO Pakai Sandal Jepit Bawa Karung Rongsokan (Unsplash)

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

7 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.