Sepatu Aerostreet: Produk Lokal yang Cocok untuk Gaji UMR Jogja

Sepatu Aerostreet: Produk Lokal yang Cocok untuk Gaji UMR Jogja terminal mojok.co

Sepatu Aerostreet: Produk Lokal yang Cocok untuk Gaji UMR Jogja (Foto Pribadi Prabu Yudianto)

Perkara sepatu, umumnya laki-laki punya konsep berbeda dengan perempuan. Laki-laki lebih menyukai satu sepatu saja untuk harian, asal awet. Sedangkan perempuan menyukai punya banyak sepatu yang bisa dipakai bergantian tiap hari. Umumnya, lho, ya. Pasalnya, ada juga laki-laki yang hobi koleksi sepatu dan perempuan yang hanya punya satu dua sepatu.

Saya adalah satu dari umumnya laki-laki ini. Lebih baik saya beli sepatu yang agak mahal sedikit, asal awet. Kalau perlu, awetnya sampai bisa dilungsur ke anak cucu saya. Tapi bicara mahal, ya tentu mahal dengan standar UMR Jogja. Kalau beli sepatu seharga jutaan, yo remuk, Bos.

Maka saya termasuk pelanggan sepatu lokal. Pokoknya sebisa mungkin harganya tidak lebih dari 200 ribu. Ini cukup sulit karena kultur persepatunan laki-laki memang erat dengan harga yang tinggi (menurut UMR Jogja). Tapi karena mindset ini, saya menjelajah berbagai merek sepatu lokal. Sampai akhirnya mengenal brand Aerostreet pada 2021.

Aerostreet adalah brand sepatu lokal yang berdiri sejak 2015. Berbasis di Klaten, Jawa Tengah, Aerostreet memiliki slogan “Now everyone can buy a good shoes.” Adhitya Caesarico yang menjadi owner Aerostreet ingin memproduksi sepatu yang terjangkau, tapi berkualitas.

Saya pun jatuh hati pada Aerostreet seri Ormond warna Coklat Muda. Langgamnya mirip sepatu untuk hiking, tapi sopan untuk dipakai harian. Warna perpaduan coklat muda, coklat, sole hitam, dan ornamen kuning memang menarik minat saya. Dan yang jelas, harga sepatu ini yang sangat menggoda. Di marketplace milik Aerostreet, sepatu ini dibanderol 99 ribu rupiah!

Sebenarnya, ini bukan hal aneh. Lantaran Aerostreet menerapkan flat price pada semua sepatunya. Jadi mau beli model apa pun, semua harganya sama. Bahkan untuk seri kolaborasi dengan brand atau band lain, harga tetap sama! Inilah momen nggatheli. Saya mengincar seri kolaborasi dengan Endank Soekamti. Tapi karena habis (wajar sih) saya terpaksa jatuh hati pada seri Ormond.

Saya tidak tahu apa keistimewaan Aerostreet saat beli. Baru setelah dr. Tirta mereview sepatu ini, baru saya paham alasan kenapa Aerostreet berbeda. Sepatu dari Klaten ini menggunakan teknologi Shoes Injection Mould. Jadi, bahan sole dicairkan dan dicetak langsung ke badan sepatu dengan tekanan tinggi. Sehingga bahan badan sepatu dengan sole menyatu tanpa bantuan lem atau jahit.

Semenjak saya tahu keistimewaan ini, saya mulai arogan dalam memakai sepatu. Karena saya sering buru-buru, bagian tumit sepatu sering saya injak saat digunakan. Biasanya, sepatu yang masih pakai metode lem akan rusak di bagian sole. Tapi karena sole dan badan sepatu sudah menyatu, maka saya tidak menemukan kerusakan berarti. Paling hanya lecek dan lusuh di bagian tumit.

Selain diinjak dengan nista, saya juga pede saja mengajak sepatu Aerostreet ini untuk hujan-hujanan. Bahkan sampai dikritik banyak orang, “Nanti sepatumu jebol!” Tapi persetan, karena sepatu ini digadang-gadang paling awet daripada sepatu lain. Jadi, sekalian saja saya buktikan keawetannya. Toh kalau rusak, masih bisa lah beli baru lagi. Bukan sombong, tapi memang karena murah!

Bahkan dalam satu waktu, sepatu ini pernah saya ajak menerjang hujan lebat Jogja. Sekaligus, ia saya ajak melintas area depan UNY yang selalu banjir itu. Sepatu Aerostreet saya tidak hanya kehujanan, tapi menyelam layaknya ikan sapu-sapu di jalan. Setelah itu, hampir seminggu sepatu ini tidak saya pakai dan tanpa saya cuci. Mungkin Anda pikir saya jorok. Tapi ini demi honest review untuk membuktikan keawetan.

Seminggu kemudian, baru saya cuci sepatu ini (karena baru sempat). Dan nyatanya, sepatu saya tidak mengalami kerusakan berarti. Sole tetap melekat erat seperti Budiman Sudjatmiko dan bukit algoritma. Bau sih pasti, tapi ini kan karena saya yang kelewatan dalam menindas si Aerostreet Ormond.

Bahkan dengan perlakuan biadab ini, sepatu saya tetap mempertahankan warna aslinya. Paling hanya tertutup noda yang hilang ketika dibabat sabun khusus cuci sepatu. Tidak ada jahitan yang lepas, apalagi sole yang rusak. Hanya bagian outsole bawah saja yang makin tergerus dan aus. Toh, masih salah saya.

Hampir setahun saya bersama sepatu Aerostreet Ormond, Sebenarnya masih awet sih, tapi saya kebelet pengin sepatu baru. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada Aerostreet seri Massive Black Gum. Tapi karena seri ini sudah dilengkapi Aerofoam, insole empuk dan nyaman itu, harganya naik jadi 119 ribu. Hanya naik sedikit, masih layak dibeli dengan gaji saya.

Alasan memilih seri ini: hanya ini yang tersisa dengan ukuran 43. Aerostreet memang menyebalkan dalam urusan ketersediaan barang. Setiap seri diproduksi terbatas dan peminatnya akan rebutan. Sering kali seri baru yang rilis langsung habis dalam sekian menit saja. Dan ini yang membuat saya harus mengikhlaskan seri Hoops High-cut warna Army Gum dan memilih seri Massive.

Seri Massive saya yang baru ini memang saya perlakukan dengan lebih lembut. Karena susah sekali diperoleh karena rebutan itu. Tapi Aerostreet Ormond saya akan tetap seperti takdirnya: tertindas, tapi menjadi saksi perjalanan saya setiap waktu. Tapi saya yakin, sepatu saya tidak akan rusak. Setahun ini sudah membuktikan daya tahan superiornya.

Sungguh ini honest review. Saya tidak di-endorse dengan bentuk apa pun dari sepatu Aerostreet. Tapi kalau ada pihak Aerostreet yang baca, saya hanya mohon satu hal: TOLONG SERI HOOPS ARMY GUM UKURAN 43-45 KEMBALI DIPRODUKSI!

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Audian Laili

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version