Saya ikut seminar financial planning atau perencanaan keuangan beberapa waktu lalu di Surabaya. Acaranya gratis, itu mengapa saya tertarik bergabung. Kalau berbayar, mungkin saya akan berpikir berkali-kali.
Ceritanya ada teman SMA yang dapat tiket seminar dari undian kantornya. Dia kerja di bank, otomatis gajinya di atas UMR. Tapi, di hari seminar, ternyata dia ada pertemuan dengan nasabah prioritas. Begitulah ceritanya hingga saya mendapatkan tiket yang dikirim lewat WA itu.
“Dateng, ya. Lumayan, siapa tahu dapat ilmu,” pesannya singkat.
Saya melihat poster acara itu. Judul acaranya memang menarik, Merdeka Finansial di Usia 30, ditulis dengan huruf berwarna emas. Di latar belakangnya ada orang tersenyums sambil loncat di depan rumah mewah. Menarik.
Jujur awalnya sempat ragu. Dari posternya terlihat sekali acara ini tidak sesuai untuk kelas saya. Tapi, setelah saya renungkan lagi, di usia menuju 25 tahun ini, sepertinya tidak ada salahnya mencari informasi baru.
Seperti salah masuk circle
Betul dugaan saya. Begitu masuk ruangan acara seminar perencanaan keuangan itu, saya langsung merasa asing dengan suasananya. Pembicara mengenakan jas, dasi, dan jam tangan silver yang terlihat mewah. Interior ruangannya pun mewah lengkap dengan AC di mana-mana.
Di baris depan duduk orang-orang yang buka laptop MacBook. Di meja mereka juga ada kopi. Bukan kopi sachet. Gelasnya tinggi, ada busa, dan harganya saya lihat di menu Rp45.000.
Acara berlangsung lancar dengan slide presentasi penuh grafik warna-warni. Ada garis naik, ada pie chart. Ada kata “cuan”, tapi dieja “return” dan masih banyak hal lain dari pemaparan yang bikin saya kagok.
Saya duduk paling belakang. Bukan karena minder. Beneran. Kursi depan memang sudah penuh dari jam delapan pagi. Saya terlambat 30 menit.
Akan tetapi, tidak masalah. Duduk di belakang itu ada keuntungannya. Pertama, dekat colokan. Kedua, kalau materinya mulai bikin pusing, saya bisa pura-pura ke toilet dan nggak perlu balik lagi.
Seminar perencanaan keuangan banyak ilmunya, tapi…
Di kepala saya mulai memikirkan bagaimana pendapatan Rp1 juta saya dari jualan bubur bisa diputar hingga bisa punya apa yang mereka sebut ROI atau passive income. Kepala saya semakin puyeng ketika pembicara bilang, idealnya seseorang menyisihkan minimal 20 persen dari penghasilan untuk investasi.
Saya langsung menghitung. Dua puluh persen dari Rp1 juta adalah Rp200 ribu. Masuk akal. Tapi, setelah itu saya pikir lagi. Sebesar Rp800 ribu sisanya buat hidup selama sebulan. Saya coret angka Rp200 ribu itu dari catatan. Bukan karena tidak mau investasi. Saya cuma tidak mau mati duluan sebelum investasinya profit.
Seiring seminar berjalan semakin membuat saya merasa miskin. Namun, saya memilih tetap bertahan.
Ada sesi tentang dana darurat. Katanya, minimal punya dana darurat sejumlah enam kali rata-rata pengeluaran bulanan. Yang artinya jika pengeluaran perbulan saya rata-rata 2 juta, maka saya harus punya dana darurat 12 juta. Saya kembali menatap layar. Saya bahkan punya satu kali pengeluaran aja rasanya sudah lega” gumam saya dalam hati.
Lalu masuk ke pembahasan investasi. Reksa dana, saham, obligasi, aset produktif. Semua terdengar masuk akal. Saya sebenarnya senang mendengarnya. Saya mengangguk-angguk, tanda setuju. Tapi ada satu hal yang jarang dibahas yaitu bagaimana kalau uang yang dimiliki memang sedikit?
Orang dengan gaji Rp10 juta bisa mengurangi nongkrong dari empat kali menjadi dua kali. Orang dengan gaji Rp1 juta, kalau mengurangi makan dari tiga kali menjadi satu kali, saya rasa itu bukan perencanaan keuangan, tapi survival mode.
Seandainya semua masalah bisa selesai dengan “kurangi nongkrong”
Sesi terakhir membahas gaya hidup. Peserta diminta mengevaluasi pengeluaran yang tidak perlu. Kopi mahal, makan di luar, langganan aplikasi, belanja impulsif, dan kebiasaan nongkrong disebut sebagai contoh pengeluaran yang bisa dipangkas.
Saya bingung sebab tidak tau harus menulis apa di sesi terakhir ini. Diminta menekan lifestyle, mengurangi ngopi, hingga menyisihkan duit di awal bulan. Itu semua sudah saya lakukan.
Saya tidak bermaksud menyalahkan seminar itu. Saya terpapar banyak ilmu dan kenyataan sepanjang acara berlangsung.
Di luar sana ada orang yang bingung memilih investasi mana yang paling bagus. Tapi, ada juga orang yang bingung apakah bulan ini harus bayar kos dulu atau servis motor dulu.
Ada orang yang sedang menghitung bagaimana mencapai Rp1 miliar pertama. Saya sedang menghitung bagaimana supaya saldo tidak menjadi Rp0 sebelum tanggal gajian.
Walau kondisi keuangan saya beda jauh dengan orang-orang yang ada di dalam acara. Sepertinya saya tetap perlu berbangga karena tanpa direncana saya sudah melakukan perencanaan keuangan sesuai dengan pendapatan.
Sehari-hari mencatat pengeluaran dan sudah berusaha untuk tidak berutang. Saya pun menyisihkan sedikit uang kalau memang ada sisa. Dan, yang paling penting, saya mulai berpikir bahwa meningkatkan penghasilan juga bagian dari perencanaan keuangan. Sebab, kalau penghasilan cuma Rp1 juta, mau diatur sebaik apa pun tetap saja sulit.
Sayangnya, ketika sesi tanya jawab dibuka lalu saya mengangkat tangan, pembicara berkata, “kalau gajinya di bawah Rp7 juta, sabar aja dulu” dengan ekspresi tertawa. Saya tau mungkin itu bercanda tapi seketika itu pula saya menurunkan tangan.
Jangan telan mentah-mentah nasihat keuangan
Di perjalanan pulang, saya sadar seminar tersebut sebenarnya sangat “daging” kalau boleh meminjam istilah orang-orang sekarang. Banyak hal yang saya pelajari. Saya jadi tahu pentingnya mencatat pengeluaran, menyiapkan dana darurat, dan tidak asal berutang demi gaya hidup.
Akan tetapi, saya juga sadar satu hal. Nasihat finansial tidak selalu bisa dipukul rata. Ada orang yang sedang belajar memilih instrumen investasi. Dan Ada juga orang yang sedang belajar bertahan sampai tanggal gajian.
Saya mungkin berada di kelompok kedua. Dan, tidak apa-apa. Untuk sekarang, perencanaan keuangan saya saat ini mungkin bukan membeli saham setiap bulan. Mungkin bentuknya sesimpel memastikan uang bensin tidak terpakai untuk beli sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.
Investasi terbesar saya saat ini mungkin bukan saham atau bentuk lain. Bagi saya, investasi terbesar sekarang adalah menjaga agar tetap waras dari hari ke hari. Dengan waras, saya bisa mencari lebih banyak peluang untuk meningkatkan pendapatan dari sebelumnya Rp1 juta jadi Rp 2 juta dan seterusnya.
Begitulah cara saya akhirnya “membumikan” ilmu perencanaan keuangan yang ngawang agar terasa masuk akal. Sebab, kalau tidak dilihat dengan cara seperti itu, ilmu dalam seminar akan terasa sia-sia.
Penulis: Alfian Muslim
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
