Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Seminar perencanaan keuangan nggak guna selama nggak punya duitnya

Alfian Muslim oleh Alfian Muslim
24 Agustus 2026
A A
Seminar perencanaan keuangan nggak guna selama nggak punya duitnya Mojok.co

Seminar perencanaan keuangan nggak guna selama nggak punya duitnya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya ikut seminar financial planning atau perencanaan keuangan beberapa waktu lalu di Surabaya. Acaranya gratis, itu mengapa saya tertarik bergabung. Kalau berbayar, mungkin saya akan berpikir berkali-kali.  

Ceritanya ada teman SMA yang dapat tiket seminar dari undian kantornya. Dia kerja di bank, otomatis gajinya di atas UMR. Tapi, di hari seminar, ternyata dia ada pertemuan dengan nasabah prioritas. Begitulah ceritanya hingga saya mendapatkan tiket yang dikirim lewat WA itu.  

ADVERTISEMENT

“Dateng, ya. Lumayan, siapa tahu dapat ilmu,” pesannya singkat. 

Saya melihat poster acara itu. Judul acaranya memang menarik, Merdeka Finansial di Usia 30, ditulis dengan huruf berwarna emas. Di latar belakangnya ada orang tersenyums sambil loncat di depan rumah mewah. Menarik. 

Jujur awalnya sempat ragu. Dari posternya terlihat sekali acara ini tidak sesuai untuk kelas saya. Tapi, setelah saya renungkan lagi, di usia menuju 25 tahun ini, sepertinya tidak ada salahnya mencari informasi baru. 

Seperti salah masuk circle 

Betul dugaan saya. Begitu masuk ruangan acara seminar perencanaan keuangan itu, saya langsung merasa asing dengan suasananya. Pembicara mengenakan jas, dasi, dan jam tangan silver yang terlihat mewah. Interior ruangannya pun mewah lengkap dengan AC di mana-mana.

Di baris depan duduk orang-orang yang buka laptop MacBook. Di meja mereka juga ada kopi. Bukan kopi sachet. Gelasnya tinggi, ada busa, dan harganya saya lihat di menu Rp45.000.

Acara berlangsung lancar dengan slide presentasi penuh grafik warna-warni. Ada garis naik, ada pie chart. Ada kata “cuan”, tapi dieja “return” dan masih banyak hal lain dari pemaparan yang bikin saya kagok.  

Baca Juga:

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi

Saya duduk paling belakang. Bukan karena minder. Beneran. Kursi depan memang sudah penuh dari jam delapan pagi. Saya terlambat 30 menit.

Akan tetapi, tidak masalah. Duduk di belakang itu ada keuntungannya. Pertama, dekat colokan. Kedua, kalau materinya mulai bikin pusing, saya bisa pura-pura ke toilet dan nggak perlu balik lagi.

ADVERTISEMENT

Seminar perencanaan keuangan banyak ilmunya, tapi…

Di kepala saya mulai memikirkan bagaimana pendapatan Rp1 juta saya dari jualan bubur bisa diputar hingga bisa punya apa yang mereka sebut ROI atau passive income. Kepala saya semakin puyeng ketika pembicara bilang, idealnya seseorang menyisihkan minimal 20 persen dari penghasilan untuk investasi.  

Saya langsung menghitung. Dua puluh persen dari Rp1 juta adalah Rp200 ribu. Masuk akal. Tapi, setelah itu saya pikir lagi. Sebesar Rp800 ribu sisanya buat hidup selama sebulan. Saya coret angka Rp200 ribu itu dari catatan. Bukan karena tidak mau investasi. Saya cuma tidak mau mati duluan sebelum investasinya profit.

Seiring seminar berjalan semakin membuat saya merasa miskin. Namun, saya memilih tetap bertahan.

Ada sesi tentang dana darurat. Katanya, minimal punya dana darurat sejumlah enam kali rata-rata pengeluaran bulanan. Yang artinya jika pengeluaran perbulan saya rata-rata 2 juta, maka saya harus punya dana darurat 12 juta. Saya kembali menatap layar. Saya bahkan punya satu kali pengeluaran aja rasanya sudah lega” gumam saya dalam hati.

Lalu masuk ke pembahasan investasi. Reksa dana, saham, obligasi, aset produktif. Semua terdengar masuk akal. Saya sebenarnya senang mendengarnya. Saya mengangguk-angguk, tanda setuju. Tapi ada satu hal yang jarang dibahas yaitu bagaimana kalau uang yang dimiliki memang sedikit?

Orang dengan gaji Rp10 juta bisa mengurangi nongkrong dari empat kali menjadi dua kali. Orang dengan gaji Rp1 juta, kalau mengurangi makan dari tiga kali menjadi satu kali, saya rasa itu bukan perencanaan keuangan, tapi survival mode.  

Seandainya semua masalah bisa selesai dengan “kurangi nongkrong”

Sesi terakhir membahas gaya hidup. Peserta diminta mengevaluasi pengeluaran yang tidak perlu. Kopi mahal, makan di luar, langganan aplikasi, belanja impulsif, dan kebiasaan nongkrong disebut sebagai contoh pengeluaran yang bisa dipangkas.

Saya bingung sebab tidak tau harus menulis apa di sesi terakhir ini. Diminta menekan lifestyle, mengurangi ngopi, hingga menyisihkan duit di awal bulan. Itu semua sudah saya lakukan. 

ADVERTISEMENT

Saya tidak bermaksud menyalahkan seminar itu. Saya terpapar banyak ilmu dan kenyataan sepanjang acara berlangsung. 

Di luar sana ada orang yang bingung memilih investasi mana yang paling bagus. Tapi, ada juga orang yang bingung apakah bulan ini harus bayar kos dulu atau servis motor dulu.

Ada orang yang sedang menghitung bagaimana mencapai Rp1 miliar pertama. Saya sedang menghitung bagaimana supaya saldo tidak menjadi Rp0 sebelum tanggal gajian.

Walau kondisi keuangan saya beda jauh dengan orang-orang yang ada di dalam acara. Sepertinya saya tetap perlu berbangga karena tanpa direncana saya sudah melakukan perencanaan keuangan sesuai dengan pendapatan. 

Sehari-hari mencatat pengeluaran dan sudah berusaha untuk tidak berutang. Saya pun menyisihkan sedikit uang kalau memang ada sisa. Dan, yang paling penting, saya mulai berpikir bahwa meningkatkan penghasilan juga bagian dari perencanaan keuangan. Sebab, kalau penghasilan cuma Rp1 juta, mau diatur sebaik apa pun tetap saja sulit.

Sayangnya, ketika sesi tanya jawab dibuka lalu saya mengangkat tangan, pembicara berkata, “kalau gajinya di bawah Rp7 juta, sabar aja dulu” dengan ekspresi tertawa. Saya tau mungkin itu bercanda tapi seketika itu pula saya menurunkan tangan.

Jangan telan mentah-mentah nasihat keuangan

Di perjalanan pulang, saya sadar seminar tersebut sebenarnya sangat “daging” kalau boleh meminjam istilah orang-orang sekarang. Banyak hal yang saya pelajari. Saya jadi tahu pentingnya mencatat pengeluaran, menyiapkan dana darurat, dan tidak asal berutang demi gaya hidup.

Akan tetapi, saya juga sadar satu hal. Nasihat finansial tidak selalu bisa dipukul rata. Ada orang yang sedang belajar memilih instrumen investasi. Dan Ada juga orang yang sedang belajar bertahan sampai tanggal gajian.

Saya mungkin berada di kelompok kedua. Dan, tidak apa-apa. Untuk sekarang, perencanaan keuangan saya saat ini mungkin bukan membeli saham setiap bulan. Mungkin bentuknya sesimpel memastikan uang bensin tidak terpakai untuk beli sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.

Investasi terbesar saya saat ini mungkin bukan saham atau bentuk lain. Bagi saya, investasi terbesar sekarang adalah menjaga agar tetap waras dari hari ke hari. Dengan waras, saya bisa mencari lebih banyak peluang untuk meningkatkan pendapatan dari sebelumnya Rp1 juta jadi Rp 2 juta dan seterusnya. 

Begitulah cara saya akhirnya “membumikan” ilmu perencanaan keuangan yang ngawang agar terasa masuk akal. Sebab, kalau tidak dilihat dengan cara seperti itu, ilmu dalam seminar akan terasa sia-sia. 

Penulis: Alfian Muslim
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2026 oleh

Tags: gajikeunaganperencanaan keuanganrencana keuanganseminar perencanaan keuangan
Alfian Muslim

Alfian Muslim

Pengelana paruh waktu yang merayakan hidup melalui aksara dan warna. Menemukan dunianya saat membaca, mencipta dunianya saat menulis,

ArtikelTerkait

5 Benefit Karyawan yang Nggak Kalah Berharga dari Gaji Bulanan yang Disodorkan Perusahaan

5 Benefit Karyawan yang Nggak Kalah Berharga dari Gaji Bulanan yang Disodorkan Perusahaan

30 Januari 2024
Tidak Ada yang Lebih Tabah dari Orang dengan Gaji Rp5 Juta di Jakarta. Idealnya Rp10 Juta kalau Mau Hidup Layak Mojok.co

Tidak Ada yang Lebih Tabah dari Orang dengan Gaji Rp5 Juta di Jakarta. Idealnya Rp10 Juta kalau Mau Hidup Layak

18 Mei 2024
Pedoman Melakukan Financial Planning Sendiri

Pedoman Melakukan Financial Planning Sendiri

20 November 2019
Faktanya, Kuliah S2 Bukan Berarti Bakal Lancar Dapat Kerjaan, Dunia Kerja Beneran Nggak Peduli Ijazah! lulusan s2 ugm lulusan ugm

Faktanya, Kuliah S2 Bukan Berarti Bakal Lancar Dapat Kerjaan, Dunia Kerja Beneran Nggak Peduli Ijazah!

18 Februari 2024
7 Cara Mendapatkan Gaji Tambahan dari Shutterstock

7 Tips Mendapatkan Gaji Tambahan Tiap Bulan dari Shutterstock

2 Agustus 2023

4 Hal Penting Lainnya Selain Kenaikan Upah Minimum 1,09 Persen

18 November 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini Mojok.co

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini 

22 Agustus 2026
KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah miskin, saya begitu benci dengan keadaan itu, dan tak pernah ingin jadi miskin lagi

23 Agustus 2026
Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima Mojok.co

Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

18 Agustus 2026
Ngeri! Rekening Bank Mandiri bisa diblokir atas permintaan aparat (Unsplash)

Rekening Bank Mandiri hilang sekali klik sukses melahirkan rasa takut karena pemblokiran tanpa proses hukum bisa menimpa siapa saja

24 Agustus 2026
Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa hanya demi memuaskan ego merusak milik segelintir orang

17 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.