Informasi
ADVERTISEMENT

Selamat jalan Den Baguse Ngarso, maestro teater asal Jogja: Surga menerima bangsawan paling nyebelin

Selamat jalan Den Baguse Ngarso, maestro teater asal Jogja MOJOK.CO

Selamat jalan Den Baguse Ngarso, maestro teater asal Jogja. Baru saja surga menerima bangsawan paling nyebelin.

“Lha nek ngono kuwi, wangun po piye?”

Ungkapan itu langsung menggema di kepala. Bersama wajah bapak-bapak berkumis tebal dan bertahi lalat besar. Dengan dagu mendongak dan tatapan paling brengsek yang kuketahui saat kecil. Sosok itu adalah Den Baguse Ngarsopareng, atau Den Baguse Ngarso, karakter yang diperankan Susilo Nugroho. Seniman teater, guru ekonomi, dan legenda seni yang meninggal 21 September 2026.

Sosok yang menggawangi Teater Gandrik ini tidak hanya berjasa bagi dunia seni Jogja. Tapi juga berkarya sebagai guru ekonomi di Kolese de Britto dan terakhir SMKN 1 Jogja. Mungkin tidak nyambung, tapi memang sehebat itu Pak Susilo.

Sosok hebat itu kini berpulang. Beristirahat dalam damai abadi bersama penghuni surga. Dan hari ini, gerbang surga sedang pusing menyambutnya. Sosok bangsawan nyebelin, reseh, sok tahu, dan angkuh yang jenaka. Para malaikat akan menepuk jidat saat blio menyapa, “Rupamu lho, njelehi.”

Guru Ekonomi yang nyeni

Mungkin kamu tidak kenal beliau. Wajar, karena Den Baguse Ngarso dan sitkom “Mbangun Desa” kondang pada masa reformasi. Mungkin tidak semua generasiku mengenal seniman satu ini. Tapi, karakter ini membekas bagi generasi orang tua dan simbahku. Karena persona brengsek, cangkeman, sok tahu, tapi pengecut ini.

Susilo Nugroho tidak pernah berniat jadi seniman. Meskipun sudah mendalami teater sejak. Awalnya beliau ingin kuliah di Jurusan Sejarah. Tapi, takdir malah membawanya ke Jurusan Pendidikan Ekonomi di IKIP Sanata Dharma.

Karier mengajarnya dimulai sebagai guru honorer Kolese de Britto. Dan pensiun sebagai guru di SMKN 1 Jogja. Tapi, jangan mengira Den Baguse Ngarso memisahkan dunia guru dan seni. Justru dia membawa teater di kelas.

Alih-alih menjadi guru yang kaku, Den Baguse Ngarso mengajak muridnya bermain peran. Salah satunya membagi kelas jadi kelompok penjual dan pembeli, lalu mereka berpura-pura melakukan transaksi. Menurut beliau, cara ini membuat murid mudah memahami konsep dan teori ekonomi.

Tapi jangan kira kemampuan teater Den Baguse Ngarso sebatas dalam pelajaran. Di luar ruang kelas, beliau memotori lahirnya salah satu teater kondang di Jogja. Juga melahirkan konsep sitkom edukatif kecintaan masyarakat

Den Baguse Ngarso adalah motor teater kritik dan wajah “Mbangun Desa”

Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso mendirikan Teater Gandrik bersama Heru Kesawa Murti, Saptaria Handayaningsih, dan Jujuk Prabowo pada 1983. Teater yang kerap mengangkat tema isu sosial ini sudah punya wajah jenaka yang khas. Istilahnya “parikena”, yaitu sindiran halus kepada kelompok berkuasa tanpa menyerang langsung.

Konsep ini membuat Teater Gandrik cukup “aman” ketika Orde Baru mulai membredel seni. Mereka berhasil mengemas kritik sosial dengan cara jenaka hingga lolos sensor rezim otoriter itu. Bahkan, bersama teman-temannya diboyong ke TVRI untuk mengubah konsep serial “Mbangun Desa”.

Awalnya, “Mbangun Desa” adalah acara paling membosankan di TV pemerintah ini. Isinya penyuluhan dengan drama yang bikin ngantuk. 

Tapi, Pak Susilo bersama tim Teater Gandrik membawa napas baru. Penyuluhan dibuat lebih pendek dan mengalir. Drama khas sitkom lebih banyak, bahkan jadi daya tarik utama.

Untuk menyempurnakan konsep ini, lahirlah Den Baguse Ngarsopareng atau Den Baguse Ngarso. Sosok bangsawan desa yang sedikit kaya dan sombongnya minta ampun. Mulutnya tidak pernah sepi dari ujaran mengejek dan menghina. Dan karakter inilah yang membuat “Mbangun Desa” menjadi tontonan paling dinanti.

Ketika Den Baguse Ngarso menjadi cetak biru lelaki brengsek Jogja

Cobalah menonton rekaman “Mbangun Desa” di kanal YouTube. Lalu dengarkan bagaimana Den Baguse Ngarso bicara nylekit pada Sronto, Kuriman, dan Pak Bina. Pasti batinmu akan menjerit, “Wo lanangan nggatheli,” sambil mengacungkan jari tengah pada karakter itu.

Memang itulah Den Baguse Ngarso. Dia besar mulut dan tidak bisa berhenti mengoceh. Semua orang akan dia hina dan rendahkan. Psikis bangsawan desa yang haus pujaan begitu kuat ditampilkan. Tatapan meremehkan dan gestur angkuh jadi bumbu konflik melawan Kuriman yang jadi arch nemesis-nya.

Pak Susilo tidak pernah bilang langsung dia menyindir siapa. Meskipun jelas kalau yang beliau sindir adalah para priyayi kecil yang sok penting. 

Karakter Den Baguse Ngarso juga menjadi cetak biru lelaki brengsek di Jogja. Merasa lebih tinggi dari orang lain, dan tidak bisa berhenti menghina. Merasa pintar sedikit, kaya sedikit, darah biru sedikit, langsung cangkeman.

Karakter inilah yang terpatri dalam benakku sejak kecil. Dan harus kuakui, ikut membentuk karakterku hari ini. Bahkan nama profilku di susahtidur.net adalah Den Baguse Prabs. Sebuah penghargaan bagi karakter yang membuatku gregetan saat TK dan SD.

Satu bersatu mereka pergi

Malam ini, jenazah Pak Susilo akan disemayamkan. Sedangkan jiwanya sedang bertemu teman-teman seniman yang sudah mendahului. Jujur saja, tahun 2025-2026 ini banyak kabar menyayat hati. Satu per satu seniman pulang ke Surga.

Aku membayangkan surga sedang ada pentas teater dan pameran seni rupa yang begitu mulia. Lalu Den Baguse Ngarso masuk tanpa mengetuk pintu. 

Dengan kaos polo abu-abu, celana kain, dan peci hitam kusam. Dagunya mendongak, tatapannya sinis, bahkan di depan malaikat dan teman lamanya yang berkerumun menyapa. Lalu blio berujar:

“Dho ngopo iki? Rai tengtlekuk dho nyedak-nyedak!” (Pada ngapain ini? Muka kusut pada dekat-dekat). Den Baguse Ngarso, dalam “Mbangun Desa” episode Alas Dibabat Kabeh Susah.

BACA JUGA Mengenal Hidup Lewat Dolan, Seni, dan Teater ala Den Baguse Ngarso

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2026 oleh .

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

Exit mobile version