Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Sekolah Gratis Itu Hanya Mimpi: Realitasnya, Biaya Pengelolaan Sekolah Amatlah Besar

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
26 Juni 2023
A A
Sekolah Gratis Itu Hanya Mimpi: Realitasnya, Biaya Pengelolaan Sekolah Amatlah Besar

Sekolah Gratis Itu Hanya Mimpi: Realitasnya, Biaya Pengelolaan Sekolah Amatlah Besar (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sekolah gratis memang terlihat mulia di atas kertas. Pada nyatanya, mengelola sekolah butuh biaya

Saat saya datang, tampak dua orang tengah duduk di bangku panjang yang usang. Wajah mereka terlihat tua dan lelah. Seolah, keduanya tengah menanggung beban hidup yang teramat berat. Mereka juga sama sekali tak tertarik saat saya menjelaskan maksud kedatangan saya sore itu.

“Larene mboten bade lanjut sekolah, Bu.”

Begitu katanya.

Saya, sangat memahami keputusan mereka. Bagi beberapa orang—termasuk mereka—sekolah adalah hal yang mewah. Bagaimana bisa mereka mencukupi hal yang mewah jika untuk kebutuhan yang pokok seperti makan saja, mereka harus putar otak.

Untuk beberapa saat saya mengutuk, membenci keadaan. Pemerintah, telah gagal melindungi rakyatnya. Ngenesnya lagi, hal yang tak mampu pemerintah lindungi adalah sesuatu yang diamanatkan oleh Undang-Undang, yaitu pendidikan.

Sekolah gratis

Peristiwa anak putus sekolah, tidak mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, memang menyedihkan. Terlebih, jika hal ini terjadi pada jenjang pendidikan dasar. Bayangkan, pendidikan dasar, loh. Bukan sarjana, bukan pula doctoral.

Memang, di beberapa wilayah telah berdiri sekolah gratis yang konon katanya demi memutuskan rantai putus sekolah. Namun, percayalah, sekolah gratis tidak seindah dan semudah yang dibayangkan. Selalu ada yang harus dikorbankan untuk sesuatu yang dilabeli “gratis”. Kamu pun jika ingin mendapat barang gratis di toko, harus rela berdesak-desakan bukan?

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Tidak apple to apple? Baiklah. Mari kita lihat dari kacamata pendidikan.

Dana BOS

Pertama, biaya pengelolaan sekolah itu mahal. Sangat mahal. Pemerintah memang telah mengucurkan dana BOS untuk sekolah negeri maupun swasta. Nilai satuan BOS tiap sekolah akan berbeda untuk masing-masing daerah. Hal tersebut mengacu pada pada perhitungan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) dan Indeks Besaran Peserta Didik (IPD). Dasar IKK adalah tingkat kemahalan konstruksi suatu kabupaten atau kota dibandingkan dengan kota acuan. Data ini, bisa dilihat di web Badan Pusat Statistik.

Sedangkan IPD, dilihat dari jumlah peserta didik per sekolah yang terdaftar di Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Makin banyak siswanya, makin besar dana BOS yang cair. Barangkali, itu sebabnya ada beberapa sekolah yang enggan mengeluarkan siswa, meski yang bersangkutan kedapatan melanggar beberapa aturan. Sehingga, muncul istilah bahwa sekolah kalah karo muride. Penyebabnya, ya, itu tadi, sekolah ingin mengamankan slot dana BOS mereka.

Rata-rata, besaran dana BOS ini antara 900 hingga 1,9 juta per siswa per tahun. Jika sudah dicairkan, dana BOS dapat langsung dipergunakan oleh sekolah untuk membeli seluruh kebutuhan pembelajaran, seperti membangun sekolah, mengembangkan perpustakaan hingga meningkatkan kesejahteraan guru honorer.

Dana pendidikan, sekolah gratis, dan realitas

Masalahnya, apakah dana tersebut mencukupi?

Begini. Anggaran pendidikan itu besarnya 20 persen dari APBN. Anggaran tersebut terbagi ke banyak hal seperti gaji guru, tunjangan pendidikan lain, dan lain-lain. Alhasil, yang ditujukan untuk peserta didik tidak sampai 30 persen dari anggaran yang ada.

Padahal, angka 20 persen dari APBN bukanlah angka mati. Dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 4 (amandemen ke-4), menyatakan bahwa “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendidikan dan belanja negara (APBN) serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

See? Sekurang-kurangnya 20 persen. Artinya, bisa lebih dari 20 persen. Kelebihan ini bisa diambil dengan cara memangkas biaya perjalanan dinas, rapat dan tetek bengek lain. Sayang, jauh panggang dari api.

Saking menyadari bahwa pengelolaan sekolah itu membutuhkan dana yang besar sehingga tak mungkin menggantungkan sepenuhnya pada APBN, Kemdikbud berkali-kali meminta agar sekolah kreatif mencari dana dari sumber lain. Dengan catatan, dana tersebut tidak membebani orang tua. Sehingga, sumber dana lain yang dimaksud adalah kerja sama dengan perusahaan swasta melalui dana CSR.

Dengan pendidikan yang dikelola swasta, negara sebetulnya terbantu. Tapi kalau tidak diproteksi maka terjadi kapitalisasi di dunia pendidikan sehingga memunculkan istilah sekolah mahal pasti berkualitas. Sedangkan sekolah gratis? Ya gitu itu.

Bukan hanya transfer ilmu

Kedua, yang kerap salah kaprah adalah tentang tujuan pendidikan itu sendiri. Di dalam UU. No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 disebutkan tentang tujuan pendidikan yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis juga bertanggung jawab.

Catat poinnya. Mengembangkan potensi siswa. Bukan semata mentransfer ilmu. Maka, adalah hal yang mudah bagi sekolah gratis jika yang ingin diraih hanya sebatas transfer ilmu. Guru tinggal berangkat, ngajar, pulang, berangkat, ngajar, pulang. Siswa duduk, mendengar, mencatat, diskusi sesekali.

Tapi, jika tujuan yang ingin diraih adalah mengembangkan potensi siswa, pastilah ada dana yang berbicara. Memangnya, mengikutsertakan siswa dalam pelatihan dan lomba demi mengembangkan potensi yang dimiliki itu nggak pake duit?

Mengembangkan bakat itu nggak gratis!

Saya, kemarin baru pulang dari Solo dalam rangka mendampingi siswa lomba monolog tingkat Jawa Tengah. Beberapa hari sebelumnya, ada pula 6 delegasi dari sekolah yang dikirim ke Bogor untuk seminar. Seminggu yang lalu pun, 2 orang guru dan 2 orang siswa berangkat ke Semarang dalam rangka lomba. Untuk kebutuhan tersebut, sekolah mengeluarkan dana 3 hingga 10 juta per satu kegiatan.

Besarnya biaya untuk mengembangkan potensi siswa juga pernah dikeluhkan seorang guru di sekolah negeri. Menurutnya, sejak SPP ditiadakan, sekolah jadi terseok-seok dalam hal pembinaan siswa. Di satu sisi, sekolah ingin mencetak prestasi sebanyak-banyaknya dengan mengirimkan siswanya mengikuti perlombaan. Di sisi lain, sekolah kerap mengalami keterbatasan dana.

Itu baru tentang pembinaan siswa. Belum bicara komponen lain, termasuk pembayaran gaji yang juga turut menggembungkan biaya operasional sekolah. Dan sekarang, masih berharap pada sekolah gratis? Bangun. Mimpinya kejauhan.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Seharusnya Anak Miskin yang Bisa Kuliah Tak Perlu Diromantisasi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Juni 2023 oleh

Tags: dana bosdana pendidikansekolah gratis
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang

29 April 2026
Mahasiswa Jurusan Sosiologi Nggak Perlu Iri dengan Jurusan Filsafat yang Kerennya Hanya Sesaat Mojok.co

Meskipun Prodi Sosiologi Tidak Relevan dengan Dunia Industri, Menghapusnya Hanya Akan Menghambat Kemajuan Bangsa Ini

30 April 2026
LCGC Bukan Lagi Mobil Murah, Mending Beli Motor Baru (Unsplash)

Tidak Bisa Lagi Disebut Mobil Murah, Nggak Heran Jika Pasar LCGC Semakin Kecil dan Calon Pembeli Jadi Takut untuk Membeli

25 April 2026
Surabaya Belum Setara Jakarta: Cukup 2 Alasan Kenapa Kota Terbesar Kedua Ini Belum Siap Jadi Venue Konser Kpop

Surabaya Belum Setara Jakarta: Cukup 2 Alasan Kenapa Kota Terbesar Kedua Ini Belum Siap Jadi Venue Konser Kpop

29 April 2026
Klaten Tulang Punggung dan Masa Depan Dapur Indonesia

Klaten: Bukan Sekadar Kota untuk Mampir Menikmati Sop Ayam, tapi Tulang Punggung dan “Dapur” Masa Depan Indonesia

1 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun
  • Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau
  • Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing
  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.