Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Seharusnya Pemerintah Bikin Sekolah Khusus untuk Calon YouTuber

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
6 November 2020
A A
Seharusnya Pemerintah Bikin Sekolah Khusus untuk Calon YouTuber terminal mojok.co

Seharusnya Pemerintah Bikin Sekolah Khusus untuk Calon YouTuber terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

PNS memang masih jadi idola bagi setiap orang tua dan calon mantu. Polisi dan tentara apalagi. Kedua aparat tersebut selalu menyimpan pesona khusus. Namun, jika berbicara cita-cita kepada anak milenium baru, profesi YouTuber menjadi primadona baru. Muda, terkenal, persona kuat, apalagi yang lebih indah dari itu?

Salah satu anak kecil yang saya tanyai menjawab begini, “Main gim aja dibayar. Nge-prank temen aja dibayar. Hancurin benda, besoknya dapet uang. Kan enak.”

Pada kenyataannya, menjadi YouTuber itu harus berdarah-darah terlebih dahulu. Kecuali jika sudah punya nama atau terkenal sebelumnya. Memenuhi syarat prasyarat AdSense, gampang. Anak-anak yang saya tanyai paham. Semakin membuat saya kemekelen itu kala mereka bilang, “Coba aja ada kuliah khusus YouTuber, ya!” katanya sambil main layangan.

Tawa saya tiba-tiba menjadi kernyitan dahi. Lho eh, bener juga, ya. Walau siapa pun yang meng-upload video ke YouTube itu bisa disebut YouTuber, tapi sedikit sekali YouTuber yang memenuhi gizi para penikmatnya. Ya, masalah “memenuhi gizi” ini subjektif, tapi kita bisa menakar sosok seperti Ferdian Paleka yang sempat naik itu, nggak layak dan nggak memenuhi gizi.

Betapa indahnya jika negara membangun sebuah sekolah untuk para YouTuber. Bagai Hogwarts dalam jagad sinema Harry Potter untuk menguasai sihir, Sekolah YouTuber ini akan mengampu para “siswanya” guna menjadi seorang YouTuber sesuai keahliannya.

Jika Hogwarts memiliki empat asrama; Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw, dan Hufflepuff, maka sekolah YouTuber ini cukup tiga saja. Yakni asrama toxic, asrama non-toxic, dan asrama mas-mas konspirasi.

Kalau asrama toxic dan non-toxic, kita bisa membayangkan bagaimana jadinya. Pertama, semisal non-toxic, mereka tinggal diberi mata pelajaran yang mudah. Misalnya mata pelajaran Narasi. Tugasnya mudah, mereka belajar menjabarkan apa yang mereka lihat. Mulai dari konten gaming sampai konten sampah semisal konten reaksi.

Ilmu narasi menjadi penting agar video yang mereka hasilkan bisa lebih dari satu jam. Makin lama, makin banyak AdSense yang pating tlecek. Kuning-kuning tiap menit. Walau non-toxic, cuan tetap jadi perhitungan dong, Buos!

Baca Juga:

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Keluh Kesah Alumni Program Akselerasi 2 tahun di SMA, Kini Ngenes di Perkuliahan

Kedua, di asrama toxic, murid-muridnya bisa diibaratkan sekolah yang hobi tawuran. Namun, kebanyakan cuma bisa cangkeman saja. Eksekusi megang gear, sabuk SmackDown, dan clurit? Nihil. Suruh megang gear paling juga gemeteran. Pokoknya mereka ini payah aksi, omong doang yang besarnya bukan main. Kata-kata makian mereka khatam.

Di sekolah ini, atau lebih tepatnya di asrama toxic, mereka dilatih dengan cara fisik. Yakni dikejar-kejar oleh massa, WhatsApp-nya diteror, mentalnya digembleng, tujuannya cuma satu, yakni simulasi semisal mereka blunder dengan ucapannya, mereka bisa mengantisipasi. Jika nanti pada akhirnya mereka diburu ormas atau netizen, mereka kebal.

Di asrama ini, ada salah satu mata pelajaran yang sulit sekali. Pelajaran itu adalah masukin video mereka ke dalam kategori age-restricted. YouTuber toxic yang selalu bilang “mereka bebas milih mau nonton gue atau nggak, itu hak mereka,” mungkin lupa dengan sebuah fasilitas yang namanya age-restricted.

Kebanyakan YouTuber toxic yang masuk mata pelajaran ini akan menangis karena mereka takut tidak mendapatkan AdSense. Level ini, jika di sekolah biasa, sama seperti pelajaran Agama yang menampilkan video siksa kubur. Beberapa ada yang menutup mata, menangis, dan merenung.

Ketiga, di asrama terakhir, asrama mas-mas konspirasi. Lantaran saking spesialnya, mereka dibuatkan asrama tersendiri, di pojok, dan dikelilingi oleh kolam pacet. Mereka dikatakan toxic nggak karena beberapa videonya seperti hooh sedang memberikan petuah mantap. Apalagi dikatakan non-toxic, meresahkan gitu kok dibilang nggak toxic? Karena hadirnya menyebabkan masyarakat bergejolak.

Mata pelajaran untuk penghuni asrama mas-mas konspirasi adalah istirahat. Iya, mata pelajarannya mempersilakan muridnya untuk istirahat sejenak. Kalau bisa sembari mengobrol dengan mereka yang berada di garda terdepan. Bagaimana capeknya, peluhnya, dan dedikasinya yang luar biasa, tiba-tiba masyarakat berubah menyepelekan hanya karena argumentasi ngawurnya.

Mata pelajaran kedua adalah perihal manusia. Blio harus diajarkan apa itu konsep dasar kebebasan. Hal ini sangat penting karena miskonsepsi kebebasan sering kali bergesekan dengan kepentingan. Dan juga blio harus dijejali dengan pertanyaan eksistensi manusia di dunia. Kalau itu terlalu ndakik, ya sudah ajari saja bagaimana caranya tidak meresahkan.

Mata pelajaran ketiga adalah cara bikin judul dan thumbnail YouTube. Ya, setidaknya agar lebih bagus dari “CORONA HANYA SEBUAH KEBOHONGAN KONSPIRASI⁉️”

Sebenarnya saya punya usul satu asrama lagi, yakni tata cara pemilihan narasumber Podcast yang baik dan benar. Namun, saya takut salah karena yang masuk asrama ini ada dua orang. Berhubung yang satu sudah masuk asrama mas-mas konspirasi, ya tinggal satu orang ini. Namun, lebih baik nggak jadi, takutnya nanti ada grebek menggerebek yang malah dijadikan sebuah konten.

BACA JUGA Jadi YouTuber Boleh, Asal Jangan Lupa Juara dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 November 2021 oleh

Tags: SekolahYoutuber
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

5 Kebiasaan Feodal di Sekolah yang Tidak Disadari dan Harus Segera Dibasmi

5 Kebiasaan Feodal di Sekolah yang Tidak Disadari dan Harus Segera Dibasmi

4 September 2025
cover lagu

Cover Lagu Orang Lain atau Lagumu Dicover Orang Lain?

4 Juli 2019
maskapai garuda

Soal Larangan Memotret di Dalam Pesawat Maskapai Garuda: Antara Penegasan dan Konten Baru di Media Sosial

17 Juli 2019
Pesan untuk Pemilik Warung yang Dikunjungi Food Vlogger terminal mojok.co

Pesan untuk Pemilik Warung yang Dikunjungi Food Vlogger

15 Mei 2021
Perbedaan Gaya Menyontek dari Generasi Ibu, Kakak, dan Saya Sendiri terminal mojok.co

Kenapa Sekolah Selalu Jadi Lebih Bagus pas Saya Sudah Lulus? Hah???

15 Mei 2020
youtuber mojok.co

Jadi YouTuber Boleh, Asal Jangan Lupa Juara

24 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya Mojok.co

Bertahan dengan Innova Reborn Jadul daripada Ganti Innova Zenix karena Terlalu Canggih untuk Orang Kabupaten seperti Saya

16 Maret 2026
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026
5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-Mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

17 Maret 2026
Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.