Informasi
ADVERTISEMENT

Awalnya saya menolak anak ikut les baca, tapi akhirnya berubah pikiran karena khawatir dia di-bully di sekolah

Awalnya saya menolak anak ikut les baca, tapi akhirnya berubah pikiran karena khawatir dia di-bully di sekolah Mojok.co

Saya adalah tim orang tua yang terpaksa mendaftarkan anaknya les baca karena khawatir dia di-bully di sekolah. 

Siapa yang tidak miris membaca berita pembulian di sekolah. Terlebih ketika peristiwa itu terjadi di bangku Sekolah Dasar (SD). Bayangkan, anak sekecil mereka melakukan aksi kekerasan yang tidak masuk akal. Mulai dari mengejek secara verbal, hingga melayangkan pukulan tanpa rasa bersalah.

Kemana hilangnya anak-anak SD yang polos itu? Yang hari-harinya dipenuhi dengan keceriaan, bermain bersama dan saling berbagi jajan. Heran, sungguh heran.

Saya jadi ingat. Dulu, ketika anak kedua saya masih TK, saya juga punya ketakutan anak saya akan di-bully di SD. Pasalnya, beberapa bulan menjelang pendaftaran SD, anak saya masih belum lancar membaca dan menulis. Dengan kondisi tersebut, saya merasa hal ini bisa jadi celah bagi anak saya untuk di-bully. Alhasil, saya pun memutuskan untuk mendaftarkan anak saya ke tempat les baca. 

Bukan tim anak harus bisa baca

Sebetulnya, saya termasuk orang tua yang dengan tegas mendeklarasikan diri sebagai bagian dari tim yang tidak mewajibkan anak bisa baca-tulis sebelum masuk SD. Bagi saya, TK adalah masa anak-anak menikmati dunia bermain, bersenang-senang, dan mengenali lingkungan sosialnya. Saya jadi teringat masa-masa TK dulu yang menyenangkan sekali. Isinya cuma nyanyi, tepuk tangan, dan menggambar. 

Akan tetapi, idealisme tersebut akhirnya rontok berbenturan dengan realitas sosial. Anak-anak sekarang itu mulutnya seringkali nggak ada saringan. Begitu tahu ada temannya yang tidak bisa baca, bukan tidak mungkin akan langsung dijadikan sebagai bahan olok-olokan. Sungguh, lingkungan sekolah hari ini tidak lagi sepenuhnya ramah bagi anak-anak yang datang dengan apa adanya.

Ditambah, pembelajaran di SD juga sudah jauh berbeda dibanding zaman saya dulu. Jangankan dengan sabar mengeja kalimat legendaris “ini Ibu Budi” di papan tulis, buku pelajaran kelas satu saja sudah wadidaw sekali. Penuh wacana panjang dengan kosakata yang menuntut pemahaman tingkat tinggi.

Maka, makin bulatlah tekad saya untuk memasukkan anak ke tempat les baca. Biarlah ludah ini kutelan sendiri.

Les baca tidak disarankan pakar

Soal belajar baca tulis di usia dini ini, sudah banyak ahli yang menyebutkan bahwa anak usia dini atau anak kecil sebenarnya tidak seharusnya dipaksa belajar baca tulis secara formal. Para pakar tumbuh kembang anak dan psikolog pendidikan sepakat bahwa fase usia prasekolah adalah masanya anak-anak mengoptimalkan motorik kasar, panca indra, dan kecerdasan emosional.

Para ahli juga menyebutkan bahwa memaksakan calistung (baca, tulis, hitung) terlalu dini justru menyimpan dampak buruk. Anak bisa stres, trauma, hingga kehilangan minat belajar. Akhirnya, belajar dan sekolah akan dipersepsikan sebagai sesuatu yang menakutkan, bukan hal menyenangkan.

Saya yakin, pendapat pakar ini sudah sampai ke telinga banyak orang tua. Tapi ya gitu. Ending-nya, banyak orang tua yang tetap memasukkan anak mereka ke les baca maupun les calistung. Buktinya, jasa les baca semakin menjamur. Persis seperti hukum ekonomi yang menyebutkan bahwa semakin tinggi permintaan, maka akan semakin tinggi pula penawarannya.

Alasan lain orang tua berubah pikiran

Saya yakin saya bukan satu-satunya orang tua yang berubah pikiran, dari yang semula menentang keras, jadi mendaftarkan anak ke tempat les baca. Di luar urusan takut di-bully dan ribetnya kurikulum sekolah, ada alasan lain yang saya yakin membuat para orang tua ini jadi belok haluan. Salah satunya adalah rasa bersalah. Biasanya, ini dialami oleh para ibu pekerja, di mana waktu mereka tersita habis di luar rumah. Sehingga, para ibu ini tidak sempat mengajarkan baca tulis kepada anaknya di rumah. Sebagai gantinya, dipilihlah tempat les untuk menggantikan peran tersebut.

Alasan lainnya, bisa jadi karena sadar diri. Mereka sadar betul bahwa kesabaran yang mereka miliki tak ubahnya seperti tisu dibelah tujuh. Dengan kesabaran yang setipis itu, mengajarkan anak membaca dan menulis hanya akan menjelma jadi simulasi perang dunia. Orang tuanya stres, anaknya lebih lagi. Akhirnya, dicarilah jalan tengah yang lebih membahagiakan kedua belah pihak. Yaitu, menyerahkan urusan belajar membaca kepada pihak ketiga, tempat les baca. 

Apapun alasan para orang tua pindah haluan, sebagai seseorang yang sudah lebih dulu bergabung di barisan ini, saya hanya bisa berharap semoga keputusan itu diambil bukan demi menuruti gengsi. 

Bagaimanapun juga, kesehatan mental dan kebahagiaan anak jauh lebih berharga dari sekadar validasi sosial. Memaksakan anak mahir membaca di usia dini mungkin bisa mendongkrak kebanggaan orang tua sampai ke level maksimal. Tapi, luka dan trauma yang mereka bawa hingga dewasa? Siapa yang tahu?

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 4 alasan orang tua ogah memasukkan anaknya les di Kumon yang terkenal bagus.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Oktober 2026 oleh .

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.